
...Happy Reading...
...________________...
Malam itu Arwen memutuskan untuk tidak menginap dan langsung kembali ke tempat Kos, karena besok Arwen ada ulangan di sekolah. Taki yang melihat itu langsung berdecak kesal, dia ingin adiknya itu menginap di rumah karena mereka sudah cukup lama tidak bertemu. Meskipun sering bertengkar, tapi Taki juga sering merasa kangen dengan adik kesayangannya itu.
"Bang serius besok Arwen ada ulangan."
"Besok Abang anter, nggak bakalan telat."
"Iya, tapi Arwen nggak bawa bukunya. Semuanya di kos-an."
"Lagian pulang nggak niat banget. Kalo gitu tadi ngapain pulang?" seru Taki sambil memasang wajah dongkol. Arwen hanya tersenyum gemas saat melihat wajah ngambek Abangnya.
"Iya deh iya, besok-besok Arwen nginep seminggu. Kalo nggak abang aja sih main ke tempat kos Arwen. Kak Mira juga kos di sana loh." Taki langsung menaikkan alisnya waktu mendengar nama Mira disebut, tapi hanya sesaat dan kembali memasang wajah datar.
"Yaudah deh ntar abang ikut kos aja di sana."
Arwen langsung menoleh dengan wajah kaget . "Apaan sih ikut-ikutan. Nggak ah, lagian kampus lo di mana ngekosnya di mana. Jangan-jangan karena ada Kak Mira ya? Dih, inget kak masih sepupu!"
"Kenapa sih bawel amat, lagian sepupu jauh ini. Yaudah pergi sono buruan!"
"Tadi aja ditahan-tahan sekarang diusir."
"Berisik!"
Akhirnya Arwen pergi dengan wajah dongkol dan kesal setelah berpamitan dengan Mama Papanya. Sudah jelas kakaknya itu memang orang paling menyebalkan, dan entah kenapa tiba-tiba ia teringat dengan Jefri. Sifat mereka berdua bisa dikatakan mirip karena sering membuat Arwen kesal.
Saat itu masih sekitar jam setengah delapan malam saat Arwen dan Juna tiba di kos Violet. Juna tidak langsung pulang karena Regan sedang mengadakan acara traktir kecil-kecilan setelah mendapat bonus besar dari hasil kerja sampingannya.
Dan Arwen juga melihat kalau Citra juga ada di sana. Mereka menyambut kedatangan Arwen dan Juna dengan sorakan heboh. Suasana semakin riuh saat mereka tahu kalau ternyata Arwen dan Juna adalah teman sejak kecil.
"Ternyata dunia sempit ya," ujar Tania yang sedang membolak-balik ikan di panggangan.
Arwen langsung menghampiri Mira yang saat itu sedang duduk di atas tikar bersama Dinda dan Rosa. Mereka sedang mengelap piring-piring yang akan digunakan. Sedangkan Juna langsung bergabung dengan anak-anak cowok yang lain.
"Hai kak?"
"Hai Wen, kirain kamu bakalan nginep," tukas Mira.
"Nggak kak, besok ada ulangan. Tadi sih Bang Taki nyuruh nginep tapi aku nggak bawa buku sama seragam."
"Loh Kak Taki ada di rumah? Bukannya lagi KKN?" tanya Mira.
"Iya katanya udah selesai." Mira akhirnya hanya mengangguk. Lira kemudian datang sambil membawa dua piring lalapan, di ikuti oleh Citra yang juga bawa dua piring penuh lalapan.
"Eh bantuin dong, ternyata timunnya belom pada di irisin gimana sih?" seru Lira.
"Lah bukannya kata Jihan udah tadi?" sahut Rosa yang langsung mengambil satu buah timun. Yang lain juga langsung ikut membantu karena jumlahnya lumayan banyak.
"Tau tuh nenek-nenek pikun," seru Lira kesal.
Citra ikut menata lembaran selada di atas piring. Arwen tidak berhenti menatap cewek itu sejak tadi. Citra memang sangat cantik dan kulitnya terlihat sangat halus dan bersih. Apalagi wajahnya yang imut itu tidak berhenti menyunggingkan senyum manis. Pantas saja Jefri tidak mudah melupakan cewek ini.
"Wen, Arwen!" Arwen langsung tersentak saat Lira tiba-tiba memanggil dan menatap intens padanya.
"Ehh kak, kenapa?"
"Kamu ternyata beneran udah deket sama Juna dari kecil ya?" tanya Lira dengan antusias. Arwen yang sudah tahu arah pembicaraan itu kemana hanya tersenyum samar.
"Iya kak, memang udah tetanggan dari kecil. Tapi sekarang udah nggak kok."
"Iya sih gue denger Juna pindah ke Kalimantan. Sayang banget ya padahal udah lama kalian bareng, tapi seneng dong sekarang bisa ketemu lagi?" Arwen lagi-lagi hanya tersenyum pada Lira yang juga terlihat senang. "Eh Juna itu orangnya gimana sih?"
"Yeee.... ujung-ujungnya moduskan lo pake basa-basi 'eh seneng dong sekarang ketemu lagi'. Dasar!" sergah Rosa sambil mengikuti gaya berbicara Lira. Cewek berponi itu melirik kesal pada sahabatnya itu lalu menyumpal mulut Rosa dengan selada.
"Nih makan nih, berisik banget orang lagi nanya."
"Ya lagian nanya mah nanya aja nggak usah pake modus."
"Siapa yang modus, orang gue nanya serius."
Yang lain hanya geleng-geleng kepala melihat pertengkaran mereka berdua. Arwen tampak tersenyum samar, dia sudah menduga kalau Lira itu menyukai Juna. Tapi Arwen tidak tahu apakah Juna juga menyukai gadis itu. Tapi pesona Lira yang cantik dan imut jelas susah untuk ditolak oleh para cowok manapun.
"Nggak sih, cuma kita nggak pernah akrab aja padahal satu jurusan. Baru akrab sekarang karena ada Project bareng, dan baru tau ternyata dia orangnya asik juga," ujar Lira sambil melirik ke arah Juna yang sedang asyik tertawa bareng Jefri dan juga Erlan. Cewek itu tersenyum samar dengan guratan raut wajah senang.
"Wen aku boleh.. "
BRUK
Lira tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena saat itu tiba-tiba Mira yang duduk di sebelahnya langsung tergolek lemas sambil memegangi kepalanya. Semuanya langsung berteriak panik, apalagi saat melihat wajah Mira yang pucat pasi.
"Mira, Mira lo kenapa?"
"Astagfirullah.. Mir badan lo panas banget?" seru Dinda panik setelah meraba dahi Mira.
Semua yang ada di situ langsung kalang kabut. Cowok-cowok yang tadi masih ngobrol langsung ikut mengerubungi.
"Kenapa nih?" tanya Sulis.
"Mira panas banget badannya, gimana nih?"
"Tadi kayaknya masih biasa aja?"
"Ya nggak tau tiba-tiba aja dia mau pingsan."
"Kok malah pada ngobrol sih, cepetan kita bawa ke rumah sakit," seru Arwen yang sudah tidak sabar dan khawatir dengan keadaan Mira.
"Iya ayo buruan! Eh, cowok-cowok bantuin dong, kok malah bengong!" seru Sharon sambil menepuk bahu Tora yang berdiri di sampingnya. Dan tanpa pikir panjang Tora langsung maju dan membopong tubuh Mira yang sudah lemas. Tapi gadis itu langsung menolak saat melihat Tora menuju ke pintu keluar.
"Kak Jangan rumah sakit, kamar aja."
"Mir jangan keras kepala deh badan lo panas banget ini," bentak Tora yang sudah tidak sabar.
"Tolong kak gue nggak mau rumah sakit, di kamar gue ada obat panas. Pliss.." Mira merengek dengan wajah pucatnya. Mereka semua saling berpandangan satu sama lain dan akhirnya setuju untuk membawa Mira ke kamarnya.
Malam itu acara bakar-bakaran masih terus berlanjut karena semuanya sudah disiapkan. Arwen memutuskan untuk menjaga Mira meskipun Tania mengusulkan agar bergantian saja tapi gadis itu bersikeras akan menjaga Mira sendiri dan menyuruh yang lain untuk berkumpul di bawah.
Dan sekarang gadis itu sedang sibuk mengecek kondisi badan Mira yang masih lumayan panas. Arwen menatap khawatir pada wajah cantik Mira yang terlihat pucat dan lemah.
Arwen kembali mencelupkan kain ke dalam baki, tapi ternyata airnya sudah kembali dingin. Arwen langsung turun ke bawah untuk mengambil air hangat karena air hangat di kamar Mira juga sudah habis.
Suasana di halaman belakang masih terdengar riuh. Arwen hanya melongok sebentar pada teman-temannya yang sedang asyik mengobrol. Gadis itu kembali melanjutkan langkahnya menuju dapur. Tapi belum sempat Arwen masuk ke dapur, dia menangkap dua sosok yang sedang duduk bangku pantry. Jefri dan Citra terlihat sedang mengobrol satu sama lain.
Arwen bisa melihat sorot mata Jefri yang menatap penuh rasa sayang pada gadis di sampingnya itu. Cowok itu tampak tersenyum senang, begitu juga dengan Citra yang terlihat nyaman berada di dekat Jefri.
Arwen tidak mau mengganggu momen kebersamaan mereka berdua dan memilih pergi perlahan. Tapi belum sempat kakinya melangkah seseorang tiba-tiba datang dan menegurnya yang membuat Arwen kaget setengah mati.
"Wen ngapain?"
PRANG
Arwen langsung terpaku di tempat saat melihat baki air yang dibawanya jatuh dan menimbulkan suara yang kencang. Ditambah setelah melihat siapa orang yang sekarang berdiri di depannya.
"Kak Regan?" seru Arwen yang tidak bisa menyembunyikan kegugupannya.
"Kenapa sih Wen, kayak liat hantu aja. Kaget tau!" seru Regan sambil mengelus dadanya karena ikut terkejut mendengar suara baki air yang jatuh.
"Mira gima..." Regan tiba-tiba langsung menghentikan ucapannya saat baru sadar kalau ada dua orang lainnya yang ikut menatap kaget di dalam ruangan dapur.
Senyumnya mendadak hilang saat matanya beradu dengan dua pasang mata lain yang kini juga menatapnya. Regan menatap Jefri dan Citra secara bergantian. Arwen bisa melihat ekspresi Citra yang terlihat khawatir dan takut. Cewek itu langsung berlari ke arah Regan yang masih menatapnya dengan dingin.
"Regan."
"Ternyata kamu disini. Dicariin juga," sahut Regan dengan nada bicara yang dibuat sehalus mungkin. "Ayo aku anter pulang, udah malem!" lanjutnya sambil berlalu dengan wajah datar.
Regan masih sempat melirik ke arah Jefri yang berdiri tanpa ekspresi, lalu pergi begitu saja sambil menarik tangan Citra. Cewek itu melambaikan tangannya dengan gugup pada Arwen yang juga berdiri kaku di tempat. Arwen hanya tersenyum canggung sambil menghela nafas.
Kenapa juga dia harus berada di situasi seperti ini.
Arwen yakin setelah ini Regan dan Citra akan bertengkar hebat. Dan mungkin saja hubungan Regan dan Jefri akan sedikit rumit jika kesalahpahaman ini tidak segera diluruskan. Arwen melirik pada Jefri yang bergeming ditempat sambil menatap padanya yang juga masih mematung di ambang pintu.
Situasi apa lagi ini?
To be continued...