Housemates

Housemates
Musuh dan Penyelamat



...Happy Reading...


...________________...


Pagi itu Arwen datang ke sekolah seperti biasanya, selalu tepat waktu dan tidak pernah terlambat. Hanya bedanya kali ini dia datang bersama Hafiz. Awalnya Arwen menolak, tapi Hafiz bersikeras kalau Arwen harus berangkat dengannya. Jelas saja Arwen mendongkol, tapi akhirnya cewek itu menurut juga. Dan benar saja, puluhan siswi yang ada di parkiran sekarang sedang melihat sambil berbisik-bisik ke arah mereka berdua.


Arwen juga bertemu dengan Nina dan Yuki yang berakhir dengan segala pertanyaan diajukan pada Arwen kenapa dia bisa berangkat sekolah bersama Hafiz. Sedangkan Yuki, gadis itu pikirannya sedang melanglang buana entah kemana setelah akhirnya bisa berkenalan secara resmi dengan Hafiz.


Di koridor mereka berpapasan dengan Yohana yang saat itu sedang terlihat mengobrol dengan Dian. Arwen tampak menautkan alisnya dengan heran karena Yohana terlihat akrab dengan Dian. Padahal keduanya bukan teman sekelas dan juga jarang bersama. Yohana hanya melirik dengan wajah sinis, sedangkan Dian terlihat acuh seperti biasanya. Arwen hanya terdiam dan langsung meneruskan langkahnya menuju kantin sekolah.


*****


Siang itu Arwen terlihat kesal dan mendongkol. Sudah setengah jam lebih gadis itu berdiri di parkiran motor menunggu Hafiz, tapi ternyata Hafiz dengan polosnya bilang kalau ada latihan basket. Jelas Arwen kesal.


"Dasar bocah labil, tau gitu tadi bareng Choa," gerutunya setelah membaca pesan dari Hafiz di ponsel. Arwen menatap berkeliling. Parkiran saat itu benar-benar sepi. Padahal masih siang, tapi entah kenapa ada atmosfer horor yang membuat Arwen langsung bergidik.


Dengan segera Arwen bangkit dan melangkahkan kakinya menuju pintu parkiran. Tiba-tiba secara samar Arwen menangkap sosok yang familiar di sudut parkiran. Cowok itu sedang duduk di atas motornya yang belum dinyalakan, jarinya tampak sibuk mengetik ponsel dengan mimik wajah yang serius.


"Harry!"


Arwen menghentikan langkahnya sesaat. Sudah hampir 2 minggu mereka tak saling bicara. Bahkan teman-temannya yang lain juga tak pernah ngobrol lagi dengannya, terutama Yuki yang terlihat masih kecewa dengan sikap Harry.


Padahal bisa dikatakan Harry tidak salah sepenuhnya di sini, semuanya hanya salah paham. Tapi entah kenapa hubungan mereka tak kunjung membaik, bahkan Harry terkesan semakin menjauh dan menghindari mereka.


Arwen masih melamun di tempat sambil menatap cowok jangkung itu yang kini juga balik menatapnya dengan dingin. Arwen mencoba tersenyum dan melambaikan tangannya, tapi Harry malah memalingkan wajahnya dengan acuh.


Cowok itu langsung meraih helm dan memakainya, seakan melihat Arwen adalah sesuatu yang harus dihindari. Bahkan dia tak menyapa sama sekali saat melewati Arwen yang berdiri di pintu parkiran.


Rasanya Arwen ingin marah dan berteriak melihat kelakuan sahabatnya itu seperti biasa yang ia lakukan dulu. Tapi sekarang rasanya canggung sekali, sebuah jarak yang terbentuk membuat mereka semakin terlihat menjauh satu sama lain.


Kling.


Suara pesan masuk membuyarkan lamunannya. Arwen menatap layar ponselnya dan melihat sebuah pesan di Whats Up. Dahinya berkerut saat melihat sebuah nomor tak dikenal dan bahkan tidak ada foto profilnya.


Arwen, gue saranin lo balik jangan jalan kaki lewat tempat biasanya. Ada yang mau ngerjain lo di sana.


Arwen semakin mengerutkan dahinya.


"Siapa sih ini, iseng kali ya. Lagian siapa juga yang repot-repot mau ngerjain gue?" gumamnya, lalu menghapus pesan tanpa nama itu dengan acuh dan mematikan ponselnya sebelum ia memasukkan ke dalam saku.


Cewek itu lalu berjalan cepat keluar dari gerbang. Sekolah benar-benar sudah sepi walaupun masih terdengar suara anak-anak basket yang sedang latihan dan juga siswa lain yang sedang ekskul di lapangan. Arwen pulang melewati jalan biasanya, dia memang selalu pulang dengan jalan kaki karena jarak kos-kosannya yang lumayan dekat.


Arwen selalu mengambil jalan lewat belakang gedung olahraga yang letaknya berada di depan sekolah, karena itu adalah jalan pintas yang paling dekat dengan kos-kosan. Arwen baru ingat jika jalanan itu lumayan sepi dan jarang ada pengendara yang lewat.


Tiba-tiba saja pikirannya melayang pada pesan Whats Up yang baru saja dia terima. Tapi memangnya siapa yang mau berniat buruk padanya? Selama ini Arwen tidak pernah punya musuh. Dan meskipun Arwen punya masalah di sekolah, teman sekolahnya tidak pernah melukainya secara fisik. Arwen menggelengkan kepalanya dengan keras.


"Jangan sampai gue terprovokasi sama pesan nggak jelas itu," serunya meyakinkan diri sendiri..


Tapi baru saja Arwen menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba tiga orang keluar dari balik pagar di sampingnya dan langsung menghadang jalan di depan Arwen. Jelas Arwen kaget dan hampir mengeluarkan sumpah serapah kalau tidak melihat siapa yang berdiri di depannya.


"Dian?"


"Lama banget sih lo baru nongol," tukas Dian.


"Lah, lo nungguin gue? Emang ada apaan?"


"Nggak usah sok asik!" sergahnya dengan nada ketus yang membuat Arwen semakin bingung. Dian itu salah satu cewek badung di sekolah, dia sering membolos dan juga sering keluar masuk ruang BP. Tapi bisa dibilang Dian tidak pernah membully atau mencari masalah dengan siswa lain. Dan Arwen pun tidak pernah ada hubungan apalagi berteman dengan Dian.


"Yaudah buruan!" Dian berseru sambil melirik dua temannya di belakang. Arwen masih tidak mengerti apa tujuan mereka mendadak muncul di hadapannya. Hingga sedetik kemudian tiba-tiba mulutnya dibekap begitu saja dan tubuhnya diseret paksa menuju balik pagar gedung olahraga. Arwen berusaha memberontak.


"Hmmmphh.."


Arwen masih diseret paksa dengan mulut yang masih dibekap. Dua cewek ini terlalu kuat untuk dilawan, bahkan Arwen tidak bisa berkutik sama sekali. Dia bisa melihat Dian yang berjalan memimpin di depan lalu membuka salah satu ruangan paling belakang dari gedung itu.


Arwen tahu itu adalah gudang yang sudah lama tidak terpakai. Pikirannya sudah mulai tidak jernih, apa mungkin mereka mau mengurungnya di gudang itu?


Dua cewek itu menyeret Arwen masuk ruangan yang hanya diterangi lampu neon lima watt. Debu tercium menguar di sana-sini dan membuat Dian terbatuk-batuk. Gadis itu menatap jijik pada puluhan sarang laba-laba yang menempel di atas ruangan.


Ruangan itu berisi tumpukan kursi dan meja yang sudah rusak. Dua cewek itu lalu mendorong tubuh Arwen dengan keras hingga tersungkur di lantai. Gadis itu mengerang saat sikunya membentur tumpukan meja rusak di lantai.


"Dian, lo punya masalah apa sama gue?" tanya Arwen marah.


"Nggak ada. Gue juga agak heran, cewek populer dan sempurna kayak lo ternyata ada yang benci juga ya."


"Maksud lo apa? Kalau lo nggak ada masalah sama gue, kenapa lo bawa gue ke sini?"


Dian tampak berpikir. "Gimana ya, gue sih pengennya kasih tau tapi sayangnya nggak bisa. Gue cuma dapet pesen dari orang yang nyuruh gue, intinya jangan sok cantik dan sok populer."


Arwen menatap bengong karena tidak mengerti, dan setelah itu Dian dan dua temannya langsung keluar, menutup pintunya dengan keras. Jelas Arwen terkejut dan langsung berlari menubruk pintu.


"Dian buka pintunya! Please jangan tinggalin gue disini!"


Bruk, Bruk, bruk!


"Dian, lo gila ya?" Arwen berteriak frustrasi sambil terus menggedor pintu. Rasa takutnya semakin menjadi saat Arwen mendengar suara gembok yang terkunci.


"Dian tolong buka pintunya. Dian! Diaaaaaannn.. !"


Percuma saja, tidak ada yang menyahut. Bahkan tidak ada suara apapun diluar sana, tiga cewek itu sudah pergi. Arwen langsung merogoh saku dan meraih ponselnya. Dia menekan tombol on karena tadi Arwen menonaktifkan ponselnya setelah menerima pesan.


"Ayo dong nyala! Lama banget sih."


Gadis itu kembali menekan-nekan ponselnya dengan frustrasi sampai akhirnya dia menyerah dan menjatuhkan ponselnya ke lantai.


Arwen terduduk lemas, ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan tangis. Tapi gagal, air matanya keluar begitu saja. Bahkan rasanya terlalu sesak, dia ingin menangis sejadi-jadinya tapi ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa berteriak.


"Siapa sih yang benci gue sampe segininya?" gumamnya dengan suara bergetar. Arwen membenamkan wajahnya di lutut. Sekarang dia hanya bisa pasrah sampai ada orang yang menemukannya disini. Itupun kalau ada orang yang datang ke bagian belakang bangunan ini.


Bukankah belakangan ini hidupnya terasa sulit? Bahkan orang - orang yang membencinya mulai datang satu persatu. Apakah selama ini dia terlalu memikirkan dirinya sendiri dan tidak peka dengan orang di sekitarnya? Apakah kesalahannya terlalu fatal hingga sekarang ia harus menerima hukuman ini? Arwen memikirkan semua itu di kepalanya. Dia masih melamun dan mengusap air matanya yang sejak tadi tak kunjung berhenti.


Ceklik.


Arwen tersentak dan menoleh ke arah pintu. Seseorang terdengar membuka gemboknya dari luar, entah kenapa Arwen merasa takut dan langsung berlari ke belakang tumpukan kursi di ruangan itu. Matanya terus mengawasi pintu yang terdengar berderit ketika pintu itu terdorong.


Arwen tidak bisa melihat dengan jelas, pandangannya mengabur karena ruangan yang gelap dan sejak tadi dia menangis terus. Dia hanya menangkap siluet seorang cowok yang berdiri tegak di ambang pintu. Cowok itu tampak melihat berkeliling dengan bingung.


"Arwen?"


Mendengar namanya disebut seketika membuat tubuh gadis itu lungkai karena perasaan lega. Arwen jelas kenal suara siapa itu, dan sekali lagi dia hanya bisa terisak karena lega ada yang datang menyelamatkannya.


Perlahan dia keluar dari persembunyiannya, menatap cowok itu yang kini juga menatapnya dengan ekspresi wajah terkejut dan juga khawatir.


"Kak Jefri!"


Sedetik kemudian Arwen berlari dan menubruk Jefri yang masih berdiri di ambang pintu. Cewek itu membenamkan wajahnya didada Jefri, dia sama sekali tidak memikirkan apapun lagi.


Arwen hanya ingin menangis, menumpahkan rasa takut dan frustasinya yang sudah ia tahan sejak tadi. Jefri hanya terdiam menerima pelukan Arwen dan membiarkan gadis itu meluapkan semua perasaannya. Ia tidak berkomentar apapun, dan hanya menunggu sampai gadis itu puas menumpahkan semua rasa takutnya.


To be continued...