Housemates

Housemates
37. Pengakuan



Akibat luka yang diderita oleh Citra lumayan parah, gadis itu harus menginap di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Semua segera berbondong-bondong mengantarkan Citra ke rumah sakit. Tora segera meminjamkan mobilnya, dan anehnya tidak ada satupun dari para gadis yang mau mengantar Citra. Mereka malah menyerahkan tanggung jawab itu pada para pria, dengan berbagai macam alasan.


Arwen sendiri juga tidak ikut mengantar, ia memilih pulang dengan anak-anak kos yang lain. Bahkan ia tak menghampiri Citra walaupun sekedar menanyakan keadaannya. Jefri saja bahkan tidak peduli padanya dan hanya memikirkan luka melepuh pada kaki Citra.


Arwen tidak membenci gadis itu, dirinya hanya ingin menyelamatkan perasaannya yang tak karuan saat ini. Memikirkan lebih lanjut apa yang akan terjadi jika dirinya terus bertahan dalam hubungan tak pastinya dengan Jefri. Arwen tak ingin menjadi gadis baik hati, yang terjebak dalam kebodohan untuk yang kedua kalinya.


***


Esok paginya, Arwen berangkat sekolah seperti biasa. Hari ini adalah hari menerima hasil ujian setelah beberapa hari para murid diberi kebebasan untuk menikmati sekolah tanpa jam pelajaran. Tapi sekarang, para murid sedang dalam keadaan tertekan. Menunggu hasil ujian itu terasa melelahkan karena itu adalah akhir dari perjuangan mereka di SMA, sebagai bekal untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya.


Lagi-lagi Arwen melihat pesan dari Jefri untuk yang kesekian kali. Bukan hanya kali ini saja Jefri meminta maaf setelah sebelumnya mengabaikan Arwen. Jefri sering kali melakukan hal itu yang membuat Arwen selalu terjebak dalam hubungan tidak tentu arah.


Ia selalu memaafkan sikap Jefri yang bagi Arwen terus saja melakukan kesalahan yang sama. Mereka berdua belum memulai hubungan yang sebenarnya, tapi hati Arwen lebih banyak tersakiti oleh sikap Jefri.


Gadis itu tidak membalas pesan Jefri dan mematikan ponselnya. Ia lalu turun ke bawah, menghampiri Hafiz yang baru saja keluar dari dapur sambil mengunyah sepotong roti.


"Hafiz. Gue bareng ya!"


"Sama gue? Lo yakin?" sahut Hafiz yang terkejut saat menoleh telah mendapati Arwen mengekorinya.


"Ya yakin? Emang di sini ada orang lain selain lo?"


Hafiz manggut-manggut. "Gue kirain lo masih marah sama gue."


"Udahlah, lupain aja. Yuk berangkat sekarang!"


Arwen berjalan mendahului menuju parkiran. Sedangkan Hafiz masih mengerutkan kening. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini, pemuda itu menggelengkan kepala sambil melahap rotinya dan segera menyusul Arwen.


Dalam perjalanan keduanya tak bnyak bicara. Sekolah mereka cukup dekat jika hanya ditempuh dengan kendaraan. Sesampainya di sekolah keduanya kembali menjadi topik hangat. Gosip bahwa keduanya berpacaran memang sudah merebak, karena sering tertangkap sedang jalan berdua. Arwen dan Hafiz sih cuek, mereka hanya menyangkal saja bahwa tidak tidak ada hubungan apa-apa, karena kenyataannya memang seperti itu.


"Fiz, hari ini gue mau nemuin Nana," ujar Arwen ketika keduanya baru keluar dari parkiran. Setiap nebeng, Arwen selalu ikut menuju parkiran karena dia tidak enak dengan Hafiz atau anak-anak lain yang biasa ia tumpangi.


"Nana siapa?"


"Jangan pura-pura nggak tahu terus, Fiz. Gue tahu lo udah punya nama seseorang yang ada dibalik masalah gue. Cuma karena dia temen gue sendiri, makanya lo bingung gimana cara nyampeinnya."


"Memangnya lo sendiri udah tahu, Wen? Kalau gitu gue penasaran apa yang bakal lo lakuin kalau itu ternyata temen deket lo sendiri?"


"Belum tahu. Mungkin gue harus mempersiapkan hati dulu untuk menghadapi kenyataan. Gue harus siap mendengarkan alasan logisnya kenapa dia bisa membenci gue sampai kayak gini. Gue penasaran, gimana bisa dia menyembunyikan perasaan bencinya selama beberapa tahun. Padahal dia tinggal pergi dan bilang kalau dia benci sama gue. "


"Mungkin itu juga nggak mudah buat dia. Mungkin dia juga berada di antara benci dan cinta sama lo, Wen. Mungkin aja kan lo masih bisa menyelamatkan pertemanan kalian setelah mengetahui semua alasan itu."


"Entahlah, Fiz. Semoga aja!"


Arwen mengangkat bahu, terlihat sekali wajahnya yang murung karena sejak kemarin pikirannya sudah kalut. Hafiz menepuk pelan bahu Arwen, memberi semangat pada gadis itu. Keduanya lalu berpisah menuju kelas masing-masing.


***


Siang itu, Arwen mengunjungi ruangan osis. Arwen tahu biasanya Nana akan berada di ruangan itu sendirian. Entah belajar, mengerjakan sesuatu atau hanya sekedar makan siang.


Gadis itu memang pendiam, tidak banyak teman tapi prestasinya bagus. Nana siswa tingkat tiga, sama seperti Arwen hanya beda kelas saja.


"Hai, Na. Lagi makan siang ya?"


Nana yang tidak menyangka Arwen akan berkunjung terlonjak kaget sampai sendok makan yang ia pegang jatuh ke lantai.


"A-Arwen?!"


"Maaf, Na. Ngagetin ya? Aku cuma mau mampir sebentar kok, ngambil beberapa barangku yang masih ketinggalan di sini."


Nana terlihat masih terkejut. Gadis itu hanya mengangguk ragu sambil mengekori Arwen yang saat itu tengah mengambil beberapa barangnya yang sudah di pak dalam kardus.


"Kamu baik-baik aja kan, Wen?"


Arwen menoleh. "Gue?" sambil menunjuk diri sendiri. Nana mengangguk.


"A-aku nggak apa-apa kok, Wen."


"Gimana kabar osis, Na?"


"Sama kayak sebelumnya, Wen. Cuma sekarang lagi sibuk persiapan porm."


"Ah, bener juga."


Arwen hanya berkomentar sekedarnya. Ia sibuk dengan beberapa barang yang sudah siap. Arwen melirik Nana yang sudah kembali duduk menatap makan siangnya yang baru habis setengah. Terlihat sekali, kedatangan Arwen membuat sikap gadis itu mendadak aneh.


"Na, gue mau tanya sesuatu," kata Arwen tiba-tiba.


"Apa, Wen?"


Jelas sekali Arwen menangkap getaran takut pada suara Nana. Gadis berkacamata itu bahkan tak berani menatap ketika Arwen mendekatinya.


"Lo suka sama Jinu ya?"


"Hah, kok kamu bisa ngomong kayak gitu?"


"Lo benci gue karena lo tau Jinu suka sama gue kan, Na?"


Bagaikan petir yang menyambar di siang bolong. Nana langsung menatap Arwen dengan bibir bergetar, matanya memerah karena hampir menangis. Sedangkan Arwen tidak gentar, ia terus menatap yakin pada gadis itu. Arwen tau, satu-satunya orang yang mungkin bisa membawa dompet kas itu keluar dari ruangan adalah Nana sendiri.


Gadis berkacamata itu langsung menelungkupkan wajah di atas meja, menangis sesenggukan seorang diri. Arwen yang masih berbaik hati segera menutup pintu ruangan osis agar siswa yang lewat tidak melihat apa yang sedang terjadi di dalam. Arwen menunggu sampai Nana bisa tenang lebih dulu.


"Maafin aku, Wen. Tolong jangan kasih tau Jinu," ucap Nana setelah ia tenang. Gadis itu menyeka matanya yang sembab, tidak berani menatap Arwen yang duduk di depannya.


"Kenapa lo gini, Na? Gue selama ini nggak pernah punya hubungan apapun sama Jinu. Kenapa lo fitnah gue cuma karena cemburu?! Lo bukan seperti Nana yang gue kenal selama ini."


Nana semakin terisak. Arwen sendiri sebenarnya kasihan meskipun hatinya udah penuh dengan luapan amarah yang ingin ia sampaikan pada Nana.


"Kalau memang lo ada unek-unek sama gue, lo tinggal bilang aja, Na. Kenapa sih, harus fitnah orang lain sampai seperti ini kayak gini?!"


"Maaf, Wen. Aku nggak benci kamu. Aku tahu kamu nggak suka Jinu, tapi aku yang terlanjur nggak suka lihat Jinu seperhatian itu sama kamu."


Itu alasan yang sangat konyol bagi Arwen, tapi cukup logis karena orang bisa melakukan hal gila hanya karena rasa dendam dan cemburu.


"Trus apa lo udah puas sekarang, Na? Apa hati lo tenang?"


Nana segera menggeleng. "Aku merasa bersalah, Wen. Tapi aku takut kamu dan Jinu akan benci aku kalau aku ngaku."


"Tapi lo nggak bisa gini, Na. Lo tau fitnah ini dosa. Mungkin orang lain akan mencibir lo, Na, tapi mengaku dan jujur itu lebih baik. Jinu juga pasti maafin lo."


Nana tidak menjawab, masih terisak lirih dalam segala kebingungan.


"Gue nggak bisa sembunyiin ini dari yang lain, Na. Gue mau lo ngaku juga di depan Jinu dan kepala sekolah. Gue ingin nama baik gue kembali seperti dulu."


Setelah kalimat itu Arwen beranjak dari bangku dan hendak keluar dari ruangan osis. Ingin memanggil Jinu dan anggota osis yang lain. Tapi ucapan Nana mendadak membuatnya tertahan.


"Tapi aku ngelakuin itu nggak sendiri, Wen!" ucapnya.


Arwen yang sudah menunggu ini, segera menoleh, berpura-pura tidak tahu bahwa Arwen sebenarnya sudah tahu Nana bekerja sama dengan Orang lain.


"Maksud lo apa? Lo kerja sama sama orang lain?"


Nana segera mengangguk. Gadis itu sudah tidak menangis. Matanya justru memancarkan sebuah dendam membara pada seseorang. Nana seolah sudah tidak peduli jika sampai hal buruk ini terbongkar, paling tidak ia tidak akan hancur sendirian.


"Siapa orangnya?" tanya Arwen segera.


"Dia Nina! Sahabat kamu sendiri!"


To be continued...