
...Happy Reading...
..._________________...
Malamnya Arwen sedang mengerjakan tugas sekolah. Setelah pulang dari belanja tadi ia belum keluar kamar sama sekali. Sedangkan kakaknya langsung pergi ke rumah Bang Juan untuk merundingkan tentang tugas skripsi.
Suasana di dalam kos masih seperti biasanya, riuh dan penuh dengan keberisikan. Arwen yang sejak kemarin tidak mood untuk bergabung memilih untuk memanjakan dirinya di kamar. Selain mengerjakan tugas sekolah, ia lebih memilih menonton anime dan juga drama kesukaannya. Setidaknya hati dan pikirannya kini menjadi lebih segar.
Sebenarnya apa yang terjadi antara Arwen dan Jefri kemarin malam, saat Jefri secara gamblang mengungkapkan perasaan padanya?
Arwen bukannya tidak ingin mengakui, bahwa dirinya juga mulai menyukai Jefri. Dan karena Jefri jugalah yang membuat Arwen mulai bisa melupakan rasa sakitnya dulu pada Juna hingga akhirnya kini mereka bisa berteman seperti semula.
Namun Arwen tidak yakin, apakah ungkapan Jefri itu benar-benar tulus atau tidak. Terlebih kini Citra sudah putus dengan Regan. Yang membuat keduanya menjadi kembali lebih dekat.
Arwen akhirnya memutuskan untuk tidak menjawab sekarang, atau lebih tepatnya Arwen masih butuh banyak waktu untuk memastikan perasaannya. Dia tidak ingin jatuh seperti dulu, jatuh terlalu dalam sampai ia sendiri sulit bangkit.
Dan jika memang Jefri serius, dia pasti akan menunggu dirinya. Tapi entahlah, kehadiran Citra membuat Arwen tidak bisa berharap banyak.
Kruyuk.. Kruyuk...
Suara ayam yang menjerit dari dalam perutnya membuat lamunannya buyar. Ia melirik jam dindingnya yang ternyata sudah menunjukkan jam sembilan malam. Padahal tadi Arwen sudah makan nasi padang, tapi kenyataannya belum mengenyangkan sama sekali. Mungkin karena efek banyak pikiran membuat pola makannya menjadi sedikit lebih banyak. Dan sekarang di dalam kamarnya hanya ada susu kotak dan roti kering.
Akhirnya Arwen memutuskan untuk keluar kamar. Lorong kamar tampak sepi, namun suara gaduh di bawah sana terdengar begitu jelas. Terutama teriakan mulut Latif dan Banu yang melebihi suara toa masjid.
Melihat Arwen yang akhirnya keluar dari gua pertapaannya, membuat lima orang yang tengah duduk bermain PS itu seketika menoleh dan menyapa semanis mungkin.
"Eh Arwen cantik, akhirnya setelah tujuh bulan tujuh purnama kita bertemu lagi," seru Latif sambil tersenyum dengan raut wajah fakboy-nya.
"Untung baru tujuh bulan belom sembilan," timpal Mark.
"Lo kata mau lahiran."
"Siapa?"
"Lah siapa?"
"Yang nanya hahahaha..."
"******!"
Candaan receh itu mau tidak mau membuat Arwen sedikit nyengir. Selain Latif dan Mark, di sana juga ada Banu, Jais dan Hafiz. Kumpulan cowok-cowok di kos ini yang paling gesrek. Tapi tanpa mereka, kos ini juga tidak akan se-asyik itu.
Arwen bergegas menuju dapur dan melihat ada Mira dan Jihan yang sedang asyik makan seblak pedas. Melihat itu Arwen jadi ngiler.
"Hai Wen?" sapa Jihan. Mata belo' gadis itu terlihat berair dan hampir menangis karena kepedesan.
"Hai kak, enak nih seblak. Beli di mana?"
"Ada orang baru jualan di deket Mini Market, sebrangnya."
"Yang ada tukang bakso?"
"Nah disitu, tukang baksonya lagi mudik. Diganti deh sama tukang seblak."
"Iya Wen, enak banget," celetuk Mira sambil menyeruput kuah dengan wajah sumringah. Melihat begitu lahapnya Mira makan, Arwen benar-benar tidak tahan lagi dan memutuskan untuk jalan kaki sebentar ke depan. Lagipula tidak terlalu jauh, jaraknya hanya lima menit dengan berjalan kaki.
Malam sudah semakin larut, namun Kota Jakarta tidak mengenal waktu untuk tidur. Kendaraan masih banyak yang berlalu-lalang, mungkin karena masih weekend. Para pedagangpun juga masih banyak yang berkeliaran mencari rezeki. Tidak luput juga para muda-mudi yang masih nongkrong dan asyik mengobrol sambil bermain game.
Arwen keluar memaki celana trining panjang dan juga jaket hoodie warna putih. Ia menutupi kepalanya dengan kupluk. Padahal hari itu cukup panas dan gerah, namun Arwen memilih menggunakan pakaian serba tertutup saat sedang keluar sendirian.
Dia takut dengan para penjahat kelamin yang tidak pandang bulu saat sedang beraksi. Lagipula dia juga malas di godain rombongan cowok-cowok dari kos sebelah yang selalu nongkrong di depan gang dekat mini market.
Tidak lama kemudian Arwen sudah memesan satu bungkus seblak untuk dirinya sendiri. Ia lalu melihat pesan chatnya yang sejak tadi terus ia abaikan. Nama Jefri lagi-lagi berada di urutan yang paling atas. Cowok itu sudah mengirimnya dua puluh pesan dan Arwen hanya membalas sekadarnya.
Sejak hari itu, Arwen belum bertatap muka lagi dengan Jefri. Sepertinya akhir-akhir ini para mahasiswa Antara sedang sibuk dan jarang terlihat di kos. Setidaknya Arwen lega, karena untuk sementara waktu dia tidak akan bertemu langsung dengan Jefri.
Kedekatan mereka berdua sebelum Jefri mengungkapkan perasaan itu kini telah berubah menjadi sebuah rasa canggung. Entah apa yang akan terjadi pada hubungan keduanya nanti, yang jelas Arwen ingin semuanya kembali normal. Karena Arwen tidak mau munafik, ia kadang rindu dengan canda dan godaan dari Jefri. Walaupun menyebalkan, ia rindu dengan tawa menggoda dan lesung pipinya yang begitu manis.
"Neng, neng, itu abangnya manggil."
Arwen tersentak saat suara seorang cowok menegur dirinya yang sedang melamun. Gadis itu segera menerima plastik yang disodorkan oleh abang penjual dan segera membayarnya.
Arwen lalu menoleh pada cowok tadi dan ingin mengucapkan terima kasih.
"Makasih ya bang..... Loh, Kak Regan?"
"Hai Wen, laper malem-malem?"
"Iya kak. Kakak baru balik?"
"Iya, lagi mau ujian, puyeng."
"Pantes muka lecek, kayak keset."
"Nggak papa, yang penting gue tetep ganteng."
"Dihhh..."
Sekali lagi Regan cuma nyengir. Arwen yang hampir berlalu malah diseret paksa oleh Regan agar mau menunggunya mengantri pesanan. Gadis itu hanya bisa mendongkol selama hampir sepuluh menit, sampai akhirnya mereka berdua berjalan menuju kos-kosan.
Jalanan masih ramai, dua orang itu masih terdiam selama beberapa menit, sampai akhirnya Arwen yang menegur lebih dulu.
"Kok nggak bareng Kak Erlan? Biasanya pasti barengan mulu, apalagi sekarang-kan jomblo."
"Nggak usah dipertegas sih Wen," seru Regan dengan wajah semakin kusut. Arwen bisa melihat bahwa cowok ini belum move on sepenuhnya dari Citra. Lagipula putusnya mereka baru beberapa hari lalu, masih terlalu cepat untuk move on dan melupakan apa yang telah mereka lalui selama ini. Apalagi Regan dan Citra sudah menjalin hubungan selama satu tahun lebih.
"Sorry kak."
Regan menghela nafasnya. "Santai aja, Wen. Lagian seru juga jomblo, gue jadi punya banyak waktu buat diri sendiri. Apalagi pas lagi mau ujian gini."
"Emangnya nggak kangen digangguin?"
"Ya kangen, tapi yaudah, ini udah jadi jalan yang gue ambil."
"Sorry nih kak, kalau gue lancang atau kepo. Emang kenapa sih, kakak putus sama kak Citra. Bukannya selama ini kalian baik-baik aja?"
"Itu yang lo liat Wen. Tapi sebenarnya nggak sebaik itu." Regan seketika langsung menatap Arwen yang berjalan menunduk di sampingnya." Kenapa Wen, lo takut penyebabnya itu si Jefri? "
"Hah? Enggaklah kak, emang gue ngomong gitu?" sahut Arwen gugup.
Tapi Regan malah tersenyum. "Gue tau kok, apa yang terjadi sama kalian berdua. Soal Jefri yang ngejar lo waktu itu, guekan juga di sana Wen. Tapi kalau lo mau tahu apa Jefri terlibat antara gue sama Citra, jawabannya mungkin iya mungkin enggak. Gue putus karena memang hubungan kita udah lama nggak bagus, banyak hal sepele yang akhirnya menjadi masalah besar. Dan itu pas banget Citra sama Jefri malah balik deket lagi kayak dulu, dan gue tau kayak apa mereka dulu sebelum gue jadian sama Citra. Dan karena itulah yang bikin gue kemarin kalap, sampai akhirnya malah berantem sama Jefri. "
Arwen yang masih berjalan di sampingnya hanya terdiam mendengarkan keluh kesah hati Regan selama ini. Jawaban cowok itu membuat hati Arwen tidak lega, malah justru sebaliknya. Meskipun Jefri tidak menjadi penyebab utama putusnya mereka berdua, tapi dari sini saja Arwen sudah bisa melihat. Bahwa Citra akan menjadi penghalang besar untuk hubungannya dengan Jefri. Bahkan, mungkin Jefri sendirilah yang akan perlahan pergi dan menarik perasaannya.
"Wen?"
"Eh.." Arwen mendongak, menatap Regan yang sepertinya bisa membaca pikirannya dengan jelas.
"Gue tau lo khawatir. Tapi, nggak perlu sibukkin diri buat mikirin hal yang nggak pasti. Jefri itu cowok baik, dan gue udah kenal lama sama dia. Meskipun gue sempet marah, tapi dia nggak sebrengsek itu buat nyakitin seseorang. Apalagi ceweknya itu lo."
"Emang kenapa kalau gue?"
"Ya sayang aja, cakep-cakep masa di sia-siain."
"Bukannya lo juga abis nyia-nyiain Citra ya? Pake nasehatin."
"Kasusnya beda kali Wen. Udah sih, ngapain ngomongin masa lalu. Mending ngomongin masa depan cerah kita berdua."
"Kita siapa?"
"Emang lo nggak mau kalau sama gue?"
"Enggak hahahaha..."
"Kampret!"
Dua orang itu akhirnya tertawa-tawa sampai mereka tiba di depan gerbang kos-kosan. Saat itu sebuah mobil melaju kencang, mengarah tepat pada gerbang kos-kosan. Hal itu sontak membuat Regan refleks menarik lengan Arwen agar segera menjauh dari pintu gerbang.
Mobil itu juga akhirnya masuk ke dalam dan segera parkir diluar. Sang pengemudi rupanya sedang terburu-buru sampai enggan memasukkan mobil ke dalam garasi. Padahal pintu garasi tidak tertutup.
Langkah kaki dan juga pintu mobil yang dibanting dengan keras menyimpulkan bahwa orang ini agak sedikit gusar. Dan benar saja, sosok jangkung berkulit putih itu menatap tajam dan tak senang pada dua sosok manusia yang tengah berdiri berhadapan di depan gerbang kos.
Jefri tidak bisa menyembunyikan wajah dingin saat menyaksikan pemandangan yang menyulut tajam ulu hatinya. Sedangkan Regan dan Arwen juga menampilkan wajah tak kalah gusarnya. Hanya saja, keduanya memiliki alasan yang berbeda.
Tapi.... kisah mereka, mungkin akan menjadi jauh lebih rumit setelah ini.
To be continued..