Housemates

Housemates
35. Tak Terduga



Sore itu, Arwen berdandan rapi dan cantik. Ia mengeluarkan sweater dress abu-abu yang sudah lama ia beli dan belum pernah dipakainya. Dress itu adalah sebuah kesalahan. Ia hampir membuang atau menghadiahkan itu untuk orang lain. Tapi ia mengurungkan niat dan berhasil menggunakan dress itu pada hari ini.


Kebetulan sekali hari sedang hujan. Jadi pakaian ini lumayan cocok untuk berpergian. Apalagi ia hari ini akan datang ke bioskop. Ya. Arwen memutuskan untuk menerima ajakan Jefri dan menolak halus ajakan Regan. Ia akan mengganti kado permintaan Regan itu lain hari.


Gadis itu kini telah menunggu di depan bioskop yang akan buka setengah jam lagi. Arwen berangkat sendiri karena Jefri masih ada kuliah dan akan menyusul sebentar lagi.


Arwen terus tersenyum, mengelus rambut panjangnya yang ia gerai cantik. Beberapa kali ia terus memeriksa pantulan wajahnya di layar ponsel, memastikan bahwa make up yang ia kenakan tidak terlalu tebal dan norak.


Pergi ke bioskop bukan menjadi hal yang spesial bagi Arwen. Tapi kali ini akan meninggalkan kesan berbeda karena ia pergi dengan orang yang disukainya.


Hari ini bukan akhir pekan. Tapi keadaan bioskop cukup ramai. Banyak anak-anak sekolah yang masih mengenakan seragamnya, bergerombol di sebuah bangku sambil membicarakan film yang akan tayang hari ini.


Arwen melirik jam pada ponselnya. Kurang dari lima belas menit lagi film akan segera dimulai, namun Jefri belum datang juga. Arwen yang awalnya tidak cemas mulai sedikit khawatir. Ia terus melihat ke arah pintu bioskop, berharap sosok Jefri ada di antara orang-orang yang masuk melalui pintu itu.


Sepuluh menit lagi, pintu teater akan dibuka. Kecemasan Arwen semakin bertambah, hatinya sedikit mencelos dan berpikir Jefri mungkin tidak akan datang. Kekecewaan tiba-tiba saja datang menyeruak, merasuki rongga hatinya yang semula terasa hangat dan menyenangkan. Akankah ia kembali dipermainkan?


Mungkinkah...


"Arwen! Maaf aku telat."


Arwen mendongak. Pikirannya yang meracau akibat cemas berlebihan seketika sirna, digantikan oleh tatapan dan senyuman lega saat melihat Jefri datang dengan nafas tersengal-sengal. Cowok itu tersenyum, begitu manis dengan dua bulan sabit yang menggaris indah di kedua pipinya.


"Nggak kok kak, masih ada waktu lima menit," ujar Arwen sambil menunjukkan jam pada ponselnya. Gadis itu bersikap biasa dalam sedetik. Ia tak mau menunjukkan rasa cemas dan khawatir yang sempat muncul.


"Yaudah yuk, yang lain udah pada ngantri," ujar Arwen.


"Ini nggak beli makanan dulu?" tanya Jefri.


"Aku udah beli, tenang aja." Arwen menjawab sambil menunjukkan tasnya yang berisi satu kotak popcorn dan juga dua gelas minuman.


"Dih, kenapa di tarok situ sih? Kamu ke bioskop bawa tas segede ini." "


"Habisnya nggak ada tempat, aku males nenteng-nenteng."


"Tapi ini kamu beli disinikan?" Jefri agak curiga karena mengira Arwen membawa makanan itu dari luar.


"Made in sini, kak. Jangan khawatir!" Arwen menyodorkan gelas milik Jefri sambil menunjukkan bungkusnya bahwa ia benar-benar membeli di tempat ini.


Jefri tersenyum. Merasa lucu dan gemas melihat wajah cemberut Arwen yang dengan segera mengosongkan isi tasnya. Ia lalu melipat tasnya yang cukup besar agar tidak terlalu kelihatan. Jefri bisa membaca jelas tingkah Arwen yang gusar karena komentarnya barusan.


Keduanya lalu bergegas ikut mengantre dengan penonton lain. Arwen yang semula agak kesal kini tersenyum simpul ketika merasakan telapak tangan Jefri yang meraba jari jemarinya dan menautkan seketika dengan erat.


Gadis itu membalasnya. Kupu-kupu yang tertidur di dalam perutnya seketika kembali bergerak. Berputar dan mengepakkan sayap-sayapnya yang membuat sensasi geli dan bahagia itu terus muncul semakin besar. Rasanya jatuh cinta memang sedahsyat ini. Itulah alasan mengapa, patah hati yang tak terduga membuat hati terasa mati.


Semoga, itu tidak pernah terjadi lagi.


*****


Saat itu masih pukul tujuh malam. Arwen tiba di kos lebih awal. Ia segera masuk setelah membayar dan mengembalikan helm milik abang gojek.


Latif yang sedang nongkrong di tangga teras langsung menyambutnya.


"Emang kenapa sih kalau gue balik sendiri?!" ketusnya.


"Dih, galak amat, orang cuma nanya."


"Kak Jefri ada urusan, jadi gue balik sendiri."


"Oh gitu. Oke, oke. Silahkan masuk."


Latif menyingkir dari anak tangga sambil membungkukkan badan, membuat gerakan mempersilahkan Arwen masuk. Tapi gadis itu bergeming, menatap Latif dan juga tumpukan kardus minuman gelas yang ada di lantai teras.


"Itu buat apa? Kok banyak minuman kemasan?" tanya Arwen. Jumlah kardus minuman itu ada banyak dan terdiri dari beberapa merk serta rasa. Arwen penasaran, untuk apa minuman kemasan sebanyak itu ada di teras kos mereka? Padahal saat ini di kos sedang tidak ada acara.


"Oh itu, gue sama Bang Tora mau nyusul anak-anak lain ke acaranya Bang Regan. Ini kardus minuman mau dibawa kesana."


"Emang ada acara apa? Kok gue nggak tau?"


"Pengajian sama anak panti. Katanya lo juga diundang. Tapi karena ada acara sama Bang Jefri jadi nggak bisa."


Arwen terkesiap. Teringat dengan pesan singkat Regan yang mengajaknya pergi. Arwen pikir itu adalah ajakan secara pribadi, ia tidak tahu bahwa Regan akan membuat acara karena dia tidak menjelaskan secara gamblang.


"Emang ini acara apa, Tif? Kak Regan nggak jelasin apa-apa soal acaranya, makanya gue tolak karena ada janji lebih dulu sama Kak Jefri."


"Bang Regan kan hari ini ulang tahun. Jadi dia mau ngerayain sama anak-anak panti. Dia udah sering bikin acara kayak gini, hampir setiap tahun. Tapi gue sih baru ikut dua kali ini."


"Setiap tahun?"


Latif mengangguk. Jujur saja, Arwen tidak menyangka sosok seperti Regan masih memiliki waktu luang untuk membuat acara seperti ini. Arwen tau Regan itu sangat sibuk. Ia kuliah dan sedang menggarap tugas akhir. Ditambah ia juga kuliah sambil bekerja. Arwen cukup jarang melihat Regan di kos, bahkan ia sering sekali pulang larut malam karena saking sibuknya.


Saat itu Tora keluar sambil membawa beberapa kantong yang langsung diserahkan pada Latif. Tora menyapa Arwen sekedarnya dan kembali fokus dengan barang-barang yang akan mereka bawa. Keduanya kini sibuk memasukkan kardus berisi minuman ke dalam mobil yang memang disediakan oleh Tante Rani di kos ini.


"Ngomong-ngomong, aku boleh ikut gabung nggak?" tanya Arwen akhirnya. Entah kenapa dia menjadi tidak enak karena telah menolak ajakan Regan. Lagipula sekarang Arwen juga tidak punya rencana apa-apa. Acara kencannya dengan Jefri juga tidak berjalan lancar. Jefri mendadak pergi ketika film baru diputar setengah jalan karena ada urusan mendadak. Selama dua hari ke depan, Arwen mungkin tak akan bertemu dengannya karena ayah Jefri masuk rumah sakit.


Tora menoleh, tersenyum dan segera mengangguk.


"Jelas boleh, Wen. Banyak anak-anak kos yang datang. Regan juga pasti senang kamu bisa mampir ke rumahnya."


"Ke rumahnya? Maksudnya gimana kak?"


"Mungkin kamu memang belum tau rahasia ini. Tapi kayaknya Regan juga nggak akan marah kalau aku cerita ke kamu. Regan itu sebenarnya dibesarkan di panti asuhan. Dan panti asuhan yang akan kita datangi nanti adalah rumah Regan sejak kecil."


Sebenarnya bukan hal yang mengejutkan saat kita mengetahui latar belakang hidup seseorang yang tidak terduga. Tapi mendengar ini, Arwen sedikit tertegun dan tersentuh. Arwen tiba-tiba saja mendadak kagum. Jika Regan benar-benar telah tumbuh tanpa sosok orangtua kandungnya, ia benar-benar menjadi sosok yang sangat berhasil. Kepribadian, pola pikir dan bagaimana Regan menjalani hidupnya yang mandiri tanpa mengeluh, itu patut dihargai dan diapresiasi.


Arwen jadi ingat dengan kejadian kemarin ketika Regan meminta bantuan Tania membuat masakan. Regan tak menyangkal ketika Arwen mengatakan makanan itu untuk orang yang spesial. Nyatanya, memang dia membuat makanan itu untuk orang yang bahkan lebih dari spesial.


"Wen, ngapain senyum-senyum sendiri? Ayo masuk! Jadi ikut nggak?"


Arwen langsung tersadar saat suara cempreng Latif menegurnya tepat di dekat telinga. Gadis itu lalu bergegas ikut masuk ke dalam mobil. Ia duduk di belakang. Sedangkan Latif menemani Tora di depan yang sudah siap dibalik kemudinya.


To be continued...