
Sorakan gembira para siswa yang telah mendapatkan hasil ujian terdengar menggaung di seluruh sudut sekolah. Setelah menunggu dengan perasaan cemas, akhirnya para murid itu bisa menangis lega saat mengetahui hasil ujian dan menyatakan mereka semua lulus.
Tapi Arwen tampak tidak bahagia meskipun tahu dirinya lulus. Ia sudah mempunyai rencana panjang untuk masa depannya. Masa depan yang ia rancang bersama ketiga sahabatnya. Membuat janji bahwa mereka akan kuliah di universitas yang sama dan tidak akan pernah berpisah satu sama lain. Bahkan Arwen juga menawarkan kamar kos kosong, agar mereka bisa merasakan sulitnya mengurus diri masing-masing lalu menertawakannya bersama-sama.
Namun sayang, pernyataan Nana tadi pagi telah menghancurkan angan-angannya. Mengancurkan sesuatu di dalam sana yang selama ini ia takutkan. Menimbulkan luka batin yang membuat Arwen sampai tidak tahu harus bersikap seperti apa.
Namanya kini mulai bersih dari tuduhan dan fitnah itu. Sebelum kelulusan diumumkan, Nana telah mengaku di hadapan kepala sekolah dan juga anggota osis yang lain bahwa ia yang memfitnah Arwen soal uang kas osis.
Alhasil, Nana segera mendapatkan kebencian dan cemooh dari anggota osis lain. Terutama Harry dan Jinu.
"Gue nggak nyangka, Na. Image lo yang polos gini ternyata pinter nusuk dari belakang!" seru Harry, tepat di depan wajah Nana yang menunduk menahan malu dan air matanya.
Ketika itu mereka sudah kembali berada di ruangan osis. Kepala sekolah memberikan skors pada Nana selama satu minggu. Beliau lalu menyerahkan keputusan pada Jinu selaku ketua Osis. Anggota osis lain meminta agar Nana dicopot dari anggota dan ingin Arwen kembali ke posisinya. Kepala sekolah juga meminta agar Nana membuat pengakuan pada seluruh siswa atas perbuatannya.
Harry marah karena perbuatan Nana telah menjauhkan Harry dengan sahabat-sahabatnya. Banyak konflik yang terjadi sehingga membuat Harry sampai saat ini belum akur kembali, terutama dengan Yuki.
"Perbuatan lo ini udah ngerugiin, Na. Terutama Arwen yang harus nerima cacian cuma karena fitnah murahan gini. Gue kira wajah sama sikap lo yang selalu baik ini memang nyata, tapi ternyata lo semengerikan itu!"
"Stop, Har!"
Arwen yang berdiri di samping Harry segera menarik baju cowok itu. Menghentikan aksi Harry yang sedang menghakimi Nana seorang diri. Meski Arwen jengkel, tapi ia mencoba memposisikan dirinya jika menjadi Nana. Mendapat tatapan benci dari puluhan mata itu sungguh seperti neraka.
"Wen, please! Jangan terlalu baik!" seru Harry yang sudah gemas dengan sikap pasrah Arwen dengan semua masalah yang menimpanya. "Kelakuannya udah separah ini loh! Lo beneran mau masih belain? Minimal lo harus tampar dia biar sadar!"
"Nah, bener kata Harry tuh! Nggak nyangka aja muka cupu gitu nggak taunya suhu," timpal salah satu anggota osis yang segera disahut oleh anggota lain meminta agar Arwen tegas dan melawan. Jinu segera mengangkat tangannya saat melihat suasana mendadak riuh. Ia juga menangkap ekspresi wajah Arwen yang tampaknya tak setuju dengan kata-kata mereka.
"Bukan gitu. Tapi masalah ini udah selesai, Nana udah minta maaf dan udah mengakui semuanya. Nggak perlu lo hakimin lebih jauh lagi, dia udah dapat sangsi sosialnya, Har. Nggak semua hal buruk harus dilawan dengan cara yang sama. Yang penting pihak sekolah dan kalian semua udah tau gue nggak salah."
Harry yang semula tampak berapi-api kini diam menunduk. Beberapa anggota osis yang melihat sikap bijak Arwen tersenyum kagum padanya. Tapi ada pula yang berkomentar Arwen terlalu lemah dan tidak seru menanggapi masalah ini. Yohana juga menampilkan ekspresi wajah yang sama, terlihat tidak peduli meskipun kebenaran masalah uang kas itu telah terungkap. Karena kenyataannya Yohana sejak awal memang tidak menyukai Arwen.
"Si Drama Queen bakalan balik lagi," bisik Yohana lirih sambil memutar bola matanya malas.
Arwen mendengar bisikan itu, tapi ia tak menggubris. Ia kini fokus menatap Jinu yang sedari tadi masih terdiam tanpa sepatah katapun. "Sekarang lo udah tau kebenarannya, Nu. Bukan gue yang ambil uang kas itu," kata Arwen.
Jinu mendesah panjang. Melirik pada Arwen dengan tatapan canggung. Ia ingat bagaimana kecewanya Arwen hari itu ketika dirinya malah ikutan menganggap Arwen seorang pencuri. Dan gara-gara itu hubungannya dengan Arwen kini semakin menjauh.
"Sebelumnya gue minta maaf ya, Wen, karena sempet nggak percaya sama lo."
"It's Okay. Jangan bahas yang udah lalu."
"Oke. Gue anggap kasus ini udah kelar karena pelaku sebenarnya udah ngaku. Nana udah minta maaf sama Arwen dan Arwen juga udah maafin. Pihak sekolah dan para siswa juga udah tau jadi nama Arwen resmi bersih dari tuduhan itu. Nana juga udah terima konsekuensi atas perbuatannya. Dan gue harap lo, Na! bisa jadi lebih baik setelah masalah ini. Gue nggak tau lo punya masalah apa sama Arwen sampai lo bertindak sejauh ini. Gue harap lo bisa selesaikan itu sama Arwen secara bijak. Dan sekarang, secara resmi dan sesuai kesepakatan anggota osis lain, posisi lo sebagai bendahara dicabut dan lo dikeluarkan dari osis!"
Mendengar itu, sontak suara isak tangis Nana semakin tajam. Tapi dia menyadari bahwa ini pasti akan terjadi. Sebuah penyesalan memang hanya datang di saat terakhir. Nana tak bisa mendapatkan kepercayaan dari teman-temannya lagi. Bahkan satu orangpun tak ada yang bersimpati padanya.
Setelah perkataan Jinu tadi, satu persatu anggota osis keluar dari ruangan. Mereka segera menghampiri Arwen, menyapa seperti sebelumnya layaknya penjilat. Arwen hanya menanggapi itu dengan senyum, merasa cukup tahu dan harus memahami bahwa di dunia ini manusia selalu hidup dengan berbagai macam topeng di wajahnya.
Menyembunyikan simpati yang palsu dan selalu menampakan pada orang-orang yang sedang terpojok. Arwen tidak peduli itu, ia bisa menahan semuanya seorang diri. Bahkan ketika tatapan benci dan caci maki terus tertuju padanya.
Tapi apakah kali ini Arwen mampu menghadapai sebuah kenyataan pahit itu? Kenyataan pahit tentang Nina, sahabatnya sendiri yang juga memiliki topeng palsu tersembunyi sejak lama. Hingga Arwen tidak menyadari sama sekali, bahwa ia menyimpan duri panjang yang ternyata telah tumbuh menimbulkan luka dari dalam sana.
***
"Woi geser dikit dong! Nggak muat nih!"
"Jihan! Bisa nggak sih kalau ngomong yang alus gitu!" Tania berseru sambil menutup telinga kirinya yang baru saja diterpa suara keras dari Jihan.
"Ya, maaf. Habisnya gue nggak kebagian tempat," sahut Jihan sambil terus mendorong tubuhnya masuk ke dalam mobil.
Arwen yang duduk terhimpit dibagian ujung bergegas menggeser tubuhnya ke arah depan agar Jihan bisa masuk dan pintu bisa ditutup. Hari ini mereka akan mengunjungi Citra yang masih dirawat di rumah sakit. Mobil yang dikemudikan oleh Tora itu diisi oleh cewek-cewek penghuni kos Violet. Sedangkan yang lain mengendarai motor pribadi masing-masing.
"Wen, tumben nggak bareng Jefri aja?" tanya Rosa yang duduk di sebelah Arwen.
Gadis itu bengong beberapa saat mendengar pertanyaan Rosa. Suasana di dalam mobil mendadak jadi hening. Tania segera mencolek lengan Rosa, memberi isyarat melalui tatapan matanya. Tapi Rosa yang memang agak lemot tidak memahami isyarat itu dengan cepat.
"Eh, anu kak..."
"Jefri katanya nyusul. Lagian Arwen udah bareng kita ini!" timpal Dinda dengan nada sedikit ketus.
"Urat bakso apa urat yang lain nih?"
"Emang ada urat lain selain urat bakso?" tanya Rosa polos.
"Ada! Mau lihat nggak Ros?"
"Hus! Kalau lo yang kasih tau bisa-bisa jadi 18+," kata Tania. Gadis itu melirik tajam pada Tora. Ia kemudian menoleh pasrah pada Rosa yang masih memasang tampang polos. Entah temannya ini memang polos sungguhan atau hanya pura-pura saja.
"Lo aja yang mikirnya kejauhan, Tan. Orang gue mau kasih lihat urat tangan gue nih!" ujar Tora sambil mengangkat tangannya yang memang terbentuk otot sempurna karena Tora suka berolahraga.
"Duh, jalan aja deh sekarang. Kenapa malah ngeributin urat? Jangan sampai jam besuknya udah lewat nih," kata Sharon menengahi sebelum pembicaraan masalah urat ini berlanjut lebih jauh.
"Tora yang mulai!"
"Dih, kok gue. Rosa tuh biangnya."
"Aku? Salah apa aku?"
"Aduh, stop deh! Bang Tora mending lo jalan sekarang! " seru Jihan.
"Oke, oke!"
Jihan segera menghentikan debat tidak penting itu. Tora segera melajukan mobilnya keluar dari kos Violet menuju rumah sakit terdekat tempat dimana Citra sedang dirawat saat ini.
Dalam perjalanan Arwen tidak banyak bicara. Pertanyaan soal Jefri tadi Arwen tidak mampu menjawab karena Jefri saat ini sudah berada di rumah sakit. Menemani Citra sejak kemarin sampai hari ini. Dan yang menyedihkan anak kos lain memahami apa yang terjadi padanya. Pada hubungan tak tentu arahnya dengan Jefri.
Saat itu sore hari, sekitar pukul lima mobil yang mereka tumpangi tiba di rumah sakit. Anak-anak cowok lainnya sudah tiba lebih dulu menggunakan motor. Ada beberapa yang absen dengan alasan tidak terlalu kenal dengan Citra seperti Hafiz, Mark dan Latif. Jadi anak cowok yang ikut dalam rombongan besuk ini hanya Tora, Jais dan Regan.
"Kamar nomor berapa sih?" tanya Tora setelah mereka semua berkumpul.
"Koala nomor 5," jawab Regan.
"Ini beneran bisa jenguk rame-rame gini?" tanya Sharon khawatir.
"Nah itu dia. Mending kita tanya dulu deh," kata Jais.
"Nggak perlu. Kata Jefri boleh kok," ucap Regan. "Yaudah ayo, gue tau jalannya."
"Okelah kalau begitu. Nurut aja kita!"
Mereka segera mengekor Regan menuju lantai dua tempat dimana Citra dirawat. Arwen memilih berjalan di barisan terakhir. Sejak awal dirinya tak antusias dengan acara besuk ini. Namun ia tak enak dengan anak-anak kos lainnya.
Lagipula Arwen tidak ingin dianggap menghindar, ia malah ingin melihat sendiri bagaimana Jefri akan memperlakukannya nanti. Maka dari itu ia bisa mengambil kesimpulan dan memutuskan tentang hubungannya dengan cowok itu.
"Wen, lo baik-baik aja kan?"
Arwen tersentak. Ia yang melamun langsung sadar, mendongak ke arah kiri menatap Regan yang sudah berdiri di sampingnya. Padahal cowok itu tadi masih berjalan di depan yang lain, namun ternyata Arwen yang tidak sadar kalau mereka sudah sampai di depan kamar yang ditempati Citra.
"Baik kok, Kak. Kenapa emang?"
"Nggak apa-apa kok," jawab Regan sambil menebar senyum manisnya.
Arwen membalas dengan senyum kaku yang canggung. Ia Kembali menatap ke depan dimana seorang wanita paruh baya sedang menyambut hangat kedatangan rombongan yang melakukan besuk itu.
Tiba-tiba saja Arwen dikejutkan oleh tangan besar yang meraih jemarinya dan menggengam dengan erat. Arwen melihat tangan Regan yang tertaut, lalu berganti menatap wajah cowok itu yang memandang lurus ke depan. Tak mengindahkan ekspresi wajah Arwen yang penuh dengan sejuta tanda tanya, kenapa Regan melakukan itu?
"Gue tau lo butuh ini," bisik Regan dengan kata-kata ambigu. Kalimat yang sulit dipahami dan akan memiliki arti lain jika saat itu Arwen tidak menyaksikan adegan yang ada di depan matanya.
Adegan manis namun tajam seperti pisau yang menggores hati baginya. Arwen tertegun di tempat saat melihat Jefri baru saja mengecup kening Citra dengan lembut sembari membelai rambut panjang gadis itu.
Meskipun Jefri bergegas menjauh ketika pintu terbuka, memori itu terekam sangat jelas dan nyata. Ini rasanya seperti dejavu. Moment menyakitkan itu kembali terulang ketika Arwen menyadari bahwa perasaannya kembali tak berlabuh. Karam sebelum berlayar, sama seperti perasaannya pada Juna waktu itu.
Menyedihkan bukan?
To be continued...