
...Happy Reading ...
...__________________...
Sore itu Arwen dan Jihan baru saja dari mini Market tak jauh dari rumah kos mereka. Arwen sendiri hanya ingin beli nasi goreng yang kebetulan jualan di dekat mini Market.
Sesampainya di kosan, Jihan langsung pamit ke kamarnya, Arwen sendiri membelokkan langkahnya menuju dapur untuk mengambil piring. Dilihatnya Regan dan Erlan sedang mengobrol sambil minum kopi di pantry.
"Hai kak?" sapa Arwen yang langsung disambut senyuman dua cowok tampan itu.
"Eh Arwen darimana?" tanya Erlan.
"Beli nasi goreng kak."
"Kok nggak bilang Wen. Tau gitu nitip."
"Abangnya masih di depan kak."
Erlan langsung bangkit, ia menoleh pada Regan. "Gue mau beli dulu. Lo mau nggak?"
Regan menggeleng. "Nggak, gue masih kenyang."
Erlan hanya mengangguk-angguk dan berlalu meninggalkan mereka berdua.
"Tadi pulang jam berapa kak?" tanya Arwen pada Regan.
Cowok itu mengerutkan keningnya. "Pulang darimana?"
"Bukannya tadi kakak pergi? Mau nggak kak nasi goreng?" Arwen menyodorkan nasi goreng yang sudah ia tuang ke dalam piring pada Regan, tapi cowok itu menggeleng.
"Udah kenyang Wen, buat kamu aja. Lagian cuma satu, ntar kamu nggak kenyang kalo dikasih aku," sahut Regan sambil mengelus perutnya perlahan. Arwen tersenyum lalu menarik kursi dan duduk di depan Regan, gadis itu melahap perlahan nasi gorengnya.
"Oya kak tadi kmana emang sama Kak Juna?" Arwen menatap cowok di hadapannya itu. Lagi-lagi Regan mengerutkan dahinya.
"Perasaan kamu dari tadi nanya kakak pergi ke mana mulu, emang kata siapa aku pergi Wen? Aku hari ini nggak kemana-mana, cuma tiduran di kamar, ini aja baru bangun karena pusing," ujar Regan sambil memijit-mijit pelipisnya.
Arwen yang mendengar itu hanya tertegun dan berusaha untuk menutupi rasa kagetnya. Arwen tidak mungkin salah lihat, cowok yang tadi pagi berhenti di depan gerbang itu pasti Juna. Bahkan kemarin dia sendiri yang bilang kalau hari ini ada janji dengan Regan.
"Serius Kak tadi nggak pergi? Soalnya tadi pagi aku lihat kak Juna berhenti di depan gerbang, aku kirain ada janji sama kakak."
Arwen berusaha untuk tidak berpikir yang aneh-aneh. Banyak mahasiswa Antara yang Kos di sini, tidak menutup kemungkinankan kalau Juna mengenal semua mahasiswa yang kos di Violet. Arwen tiba-tiba ingat ucapan Regan kalau Juna sering main ke sini. Mungkin Juna ada perlu dengan mereka.
Regan menelengkan kepalanya seolah mengingat-ingat sesuatu. "Ah.. Iya baru inget kalau Juna jemput Lira."
"Kak Lira?"
"Iya, kalau nggak salah ada acara di rumah Lira di Bogor. Trus Juna mau nganterin."
Arwen termenung sesaat, jelas sekali gadis itu berusaha untuk menutupi rasa kecewa yang tiba-tiba muncul.
"Mereka deket ya kak?"
"Kalo dibilang deket ya deket. Soalnya mereka satu jurusan juga. Dan kita juga sering bareng."
Arwen langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Arwen takut Regan bisa membaca rasa kecewa yang sekarang ini berkecamuk di hatinya. Ternyata selama ini Arwen tidak tahu apa-apa tentang Juna.
*****
Saat itu masih pukul delapan pagi, tapi Arwen sudah berada di dalam kamarnya sendiri. Ya, kamar yang berada di rumahnya, bukan kamar kos-kosan. Dan sekarang gadis itu tersenyum senang, akhirnya ia bisa merebahkan dirinya di atas kasur empuk kesayangannya. Tidak ada yang berubah sama sekali, bahkan semua barang-barangnya masih terjaga dengan baik. Termasuk wall gird itu.
Arwen beranjak dari tidurnya lalu menghampiri wall gird yang seluruhnya berisi foto masa kecil dirinya dan Juna. Tidak ada satupun hari yang terlewatkan, dan kenangan itu terlalu membekas untuknya. Bahkan pria itu sekarang juga ada di sini, Arwen bisa mendengar suara tawanya di bawah sana.
Semula Arwen mengurungkan niatnya untuk mengajak Juna. Tapi cowok itu ternyata keras kepala dan memaksa akan tetap datang ke rumah Arwen meski gadis itu menolak. Dan sekarang, Juna sedang di bawah sana bercengkrama dengan Ayah dan Ibu Arwen karena mereka sudah lama tidak bertemu. Dan satu hal yang membuat Arwen terkejut, ternyata Taki, kakaknya juga sedang ada di rumah. Taki baru pulang setalah hampir dua bulan KKN di Surabaya.
Kenapa Arwen kaget? Soalnya hubungan Juna dan Taki itu kurang bagus. Bahkan Arwen juga masih bingung kenapa kakaknya tidak menyukai Juna. Padahal dulu hubungan mereka dekat dan baik-baik saja, tapi tiba-tiba saja mereka saling bermusuhan tanpa sebab yang jelas.
Tok, tok, tok!
Arwen tersentak dari lamunannya, ia menoleh dan mendapati Juna yang tersenyum sambil menyandarkan bahunya di pintu.
"Serius amat, lagi ngapain nggak turun-turun?" tanya Juna.
Arwen tersenyum sambil mengangkat bahunya. "Biasa kak nostalgia, kangen banget sama kamar ini."
Juna menatap berkeliling, cowok itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Baginya kamar Arwen bukanlah hal yang asing, karena dulu dia sangat sering bermain ke sini. Bahkan waktu kecil Juna sering menginap dan tidur bertiga dengan Taki juga.
"Nggak ada yang berubah ya Wen?" serunya sambil matanya menyapu deretan novel favorit cewek jangkung itu. "Ini Yoda masih disini aja, padahal kupingnya udah hilang satu."
"Itukan dari kakak. Kak Juna taukan Arwen sayang banget sama itu boneka," sahut Arwen yang langsung disambut tawa dari Juna.
"Kakak inget. Kamu dulu nangis-nangis karna ini boneka nyangkut di pohon. Kakak juga yang ngambilinkan, padahal berantemnya sama Bang Taki." Arwen hanya tertawa meringis saat Juna mengingatkan tentang masa kecilnya. Cewek itu terlihat tersenyum senang, karena Juna masih mengingat hal-hal kecil tentang dirinya.
"Trus sampe sekarang masih sering berantem?"
"Bukannya sering lagi, tapi bedanya dulu lempar-lemparan barang kalau sekarang lemparnya pake kata-kata."
Juna tertawa. "Nggak bisa bayangin dong, dulu aja kalian berdua kalo berantem ekstrim banget. Sekarang pasti makin esktrim."
"Hahahah.. Tapi sekarang udah jarang kok. Jauh-jauhan malah kadang suka kangen kalau nggak berantem."
Juna kembali berkeliling, dan kini matanya melotot saat melihat wall gird yang berisi foto dirinya dengan Arwen dan juga Taki saat masih kecil.
"Gila Wen, serius kamu masih nyimpen ini?"
"Masihlah kak, sayang aja kalau cuma di simpan di kotak, mending buat hiasan kamar."
"Tapi kakak nggak nyangka aja kamu masih nyimpen semuanya. Inikan juga waktu kamu masih TK-kan, kakak baru kelas dua," seru Juna girang sambil menunjuk foto mereka berdua yang sedang duduk di atas sepeda. "Dihh ini juga ada, inikan waktu kamu kelas satu SD. Trus kamu nangis karena habis ngompol di kelas hahahaha.... ?"
Arwen langsung manyun. "Mana ada kak? Enak aja, kamu mah ingetnya yang jelek-jelek. Kamu juga yang ini, kakak habis di setrapkan karena mau ngisengin kak Yudi malah kena guru. Kalo inget itu pengen ketawa, udah rambut digundul masih suruh bersihin WC hahahaha..."
"Itu juga yang nyuruh kan Bang Taki."
"Ya kenapa kakak nurut aja, sukurin hahaha..."
Tidak terasa dua orang itu saling bercanda satu sama lain, saling mengingat kenangan mereka waktu kecil dulu. Hal-hal yang hilang di antara mereka perlahan mulai kembali dan tentu saja itu membuat Arwen senang, bahkan Juna pun tak berhenti tertawa. Sesekali dia terlihat menggoda Arwen, entah itu mencubit pipinya atau mengacak-acak rambutnya karena gemas.
"Kakak inget foto ini?" tanya Arwen sembari menunjuk foto mereka berdua yang saat itu mengenakan seragam SMA. Mereka tampak bahagia sambil bermain air di tepi pantai. Juna langsung mengangguk. "Ini waktu Arwen baru masuk SMA, dan ini juga terakhir kali kita ketemu kak. Karena besoknya kakak tiba-tiba nggak ada dan pergi gitu aja. Kenapa kak? Kenapa kakak tiba-tiba pergi?"
To be continued...