
...Happy Reading...
..._________________...
Setelah kejadian itu, Dian tidak pernah menampakkan batang hidungnya di sekolah. Padahal Arwen sangat ingin mendengar pernyataan dari Dian dan juga alasan kenapa dia melakukan hal buruk padanya.
Arwen sendiri memutuskan untuk tidak menceritakan apapun pada teman-temannya soal kejadian itu, dan mencoba untuk bersikap biasa saja. Tapi sudah dua hari ini ada orang yang sering berbuat iseng pada Arwen dengan mencoret-coret papan tulis dan juga mejanya dengan tulisan sumpah serapah yang ditujukan untuknya.
Choa yang sudah tidak tahan langsung melabrak satu persatu teman sekelasnya.
"Woi, kurang ajar banget ni orang, ngaku nggak lo pada. Siapa yang udah bikin sampah kayak gini?" serunya sambil berdiri di depan kelas. Cewek berambut pendek itu menatap berang pada semua teman di kelas. Tapi mereka semua malah terlihat acuh.
"Eh Cho, jangan asal nuduh. Emang kita pernah ada masalah sama Arwen?" celetuk cewek berambut kuncir kuda yang duduk di depan meja guru.
"Iya loh. Kita nggak pernah ada masalah apa-apa maen tuduh aja," sahut yang lain.
"Terus siapa kalau bukan salah satu dari kalian?"
"Lo sendiri kali!" cletuk Yanto tanpa pikir panjang.
Choa jelas makin berang dan langsung melempar penghapus ke arah cowok berponi itu. "Jaga tu bibir, jangan sampe gue bikin benjol nih."
"Cho, mending tenang dulu deh, belum tentu yang ngelakuin anak dari kelas kita. Bisa jadi anak dari kelas lain." Deni sang ketua kelas menengahi. Pernyataan itu langsung diamini oleh seluruh penghuni kelas.
"Iya Cho, ngapain sih bikin capek diri sendiri. Diemin aja ntar kalau bosen juga udahan tu orang."
"Tapi Wen, lo nggak kesel apa, udah difitnah nyuri sekarang masih dikata-katain pula. Sekali-kali ngegas kek," ujar Nina yang juga sudah terlihat gerah dengan semua hal yang menimpa sahabatnya itu.
"Nah bener tuh kata Nina."
Arwen menghela nafasnya kasar. "Gue bukannya nggak marah atau pasrah-pasrah aja. Cuma yaudah tunggu aja, mau sampe mana dia bakal terus bikin gue menderita. Gue pengen tau aja sefatal apa kesalahan gue sama ini orang."
Saat itu Harry yang baru datang muncul di ambang pintu kelas. Dia berhenti sebentar, menatap puluhan pasang mata yang kini juga menatapnya.
Dia lalu melihat ke arah Choa yang berdiri di depan kelas sambil berkacak pinggang. Tapi cowok itu kembali acuh dan berlalu melewati Choa yang kini terlihat menatap lekat padanya.
"Har, lo akhir-akhir inikan balik telat mulu, lo liat nggak siapa yang nyoret-nyoret meja Arwen?" tanya Choa.
Harry yang dipanggil namanya hanya menoleh sambil mengangkat bahu. Lalu kembali berkutat dengan ponsel di tangannya.
"Har lo mau sampai kapan sih diemin kita?" teriak Choa.
Deni yang menyadari pembicaraan yang harusnya privasi itu menyuruh anak yang lain untuk melanjutkan aktivitas masing-masing. Arwen, Nina dan Yuki masih terpaku di tempatnya sambil sesekali melirik ke arah dua orang yang saat itu saling melempar tatapan tajam.
"Diemin? Bukannya lo pada yang diemin gue?"
"Har please, lo yang selalu ngehindarin kita terus dari kemarin," tukas Yuki.
"Emang lo pada ngajak gue gabung? Bukannya lo pada yang nuduh kalau gue yang bikin Arwen kehilangan posisi wakil osisnya?"
"Har, kita ini cuma salah paham, ayolah kita temenan itu udah lama."
"Bener Har, kita bisa nyelesein ini dengan cara ngomong baik-baik. Gue nggak pernah marah atau mikir apapun tentang masalah kemarin. Apalagi marah cuma gara-gara lo yang gantiin posisi gue sebagai wakil osis, nggak sama sekali Har." Arwen merasa sedikit lega karena akhirnya bisa berbicara langsung dengan Harry. Sedangkan Harry masih terdiam. Keadaan kelas terdengar hening, walaupun ada beberapa anak yang terkadang mencuri-curi pandang ke arah mereka.
Pernyataan Harry membuat Arwen dan yang lainnya merasa lega. Bahkan Choa yang sejak tadi emosi sekarang tampak tersenyum.
"Tapi lo tulus nggak nih?" celetuk Yuki yang membuat Nina dan Arwen melotot padanya.
"Maksud lo apa sih Yuk, nggak usah ngomong ngawur."
Yuki maju selangkah mendekati Harry. "Ya lo liat aja kemarin dia aja kayak gitu, labil. Temennya susah malah kabur."
"Gue tau, makanya sekarang gue minta maaf. Lagian masalah gue sama Arwen kenapa lo yang pusing?" seru Harry dengan nada yang lumayan meninggi.
"Iyalah, emang waktu Arwen terpuruk lo ada? Dan sekarang lo mau sok baik-baik lagi. Sedangkan waktu itu lo satu-satunya orang yang ngaku temen tapi nggak percayakan sama Arwen. Bahkan lo nggak peduli sama sekali.."
"Yuki! Lo sadar nggak sih ngomong apaan!" bentak Choa.
"Gue sadar sepenuhnya, Cho. Lo mau percaya gitu aja? Bisa aja semua hal yang Arwen terima selama ini itu kerjaannya dia.."
"Yuki!"
"Ngaku aja lo Har? Lo kan yang lakuin ini.."
"Diem lo, munafik!" bentak Harry dengan suara bergetar. Matanya menatap nyalang ke arah Yuki yang juga melemparkan tatapan penuh amarah pada cowok jangkung itu.
Seluruh kelas langsung terdiam, menatap pemandangan yang sepertinya akan memanas. Bahkan Arwen, Nina dan Choa kaget saat melihat Harry yang biasanya kalem mendadak tersulut emosinya.
Yuki tertawa hambar. "Munafik? Lo nyebut diri lo sendiri hah? Lo makin hari makin brengsek ya Har."
"Mending gue brengsek daripada bermuka dua. Lo pikir gue nggak tau apa yang dibalik muka sok polos lo itu. Gue tau.."
"Ap? Lo mau nyebut gue apa?"
"Harry! Yuki! Stop! Kenapa sih malah pada ribut?" bentak Arwen sambil membanting kain lap yang di pegangnya ke lantai. "Masalah kita yang kemarin aja belum selesai, kenapa malah nambah-nambahin lagi. Dan elo juga Yuk, lo nggak ada hak buat ngomong kayak gitu. Lo mau persahabatan kita makin rusak atau gimana sih?"
Wajah Yuki tampak mengeras. "Jadi lo belain dia Wen, setelah gue barusan belain lo?"
Arwen menggeleng frustasi. "Gue nggak belain siapa-siapa, cuma omongan lo udah keterlaluan."
Yuki dan Harry masih saling menatap bengis. Semua yang ada di kelas itu hanya terdiam sambil berbisik-bisik. Bahkan beberapa anak dari kelas sebelah ikut berkerumun di depan pintu melihat pertengkaran dua orang itu.
"Males gue di sini, mending cabut!" seru Harry akhirnya sambil menyambar tas dengan gerakan kasar. Dia masih menatap Yuki dengan mata dinginnya dan berlalu tanpa menghiraukan tatapan penghuni kelas lain.
"Lo pikir gue nggak males liat muka lo!" sahut Yuki ketus.
"Udah sih Yuk, lo cuma bikin semuanya jadi rumit," tukas Choa.
Yuki membanting buku ke lantai lalu pergi tanpa mengatakan apapun. Nina hanya menggelengkan kepalanya dengan wajah kusut. Arwen menatap kepergian Harry dan Yuki dengan wajah sedih.
Kenapa persahabatan mereka bisa hancur begini?
To be continued...