Hot Daddy And Miss Mafia

Hot Daddy And Miss Mafia
Extra Part 2



Sebulan pasca lahiran, Megan masih tidak menyangka bahwa ia sudah menjadi ibu muda. Masa-masa kehamilannya berhasil ia lewati dengan baik. Walaupun rintangannya begitu berat, Megan berhasil melewatinya dengan perasaan haru, bahagia, sedih, susah senang, tangis dan air mata.


Hamil, ngidam dan menjadi seorang ibu masih terus menjadi ingatan terindah dan sekaligus mendebarkan baginya. Seorang ibu pasti merasakan hal yang sama seperti ia rasakan saat ini.


Ibu, ibu, ibu panggilan mulia untuk tahta tertinggi seorang wanita di dunia ini dan sepenuhnya Megan mendapatkan gelar tersebut. Perasaan kasih sayang seorang ibu terus mengalir dari dalam dirinya untuk buah hatinya.


Untuk Kevin sendiri mendapatkan gelar hot daddy. Kevin sangat bahagia dan bersyukur dikaruniai anak laki-laki. Kevin sangat menyayangi anak-anaknya dan senantiasa membantu Megan merawat bayinya yang baru genap sebulan itu.


Kevin kembali belajar hal baru tentang merawat bayinya. Padahal ia sudah sedikit berpengalaman dalam hal merawat bayi, mulai dari memberikannya susu, menggantikan popok dan memandikannya sudah biasa ia lakukan kepada Azzam dulunya. Dan sekarang ia pun kembali melakukannya kepada darah dagingnya sendiri, Ares Anderson Smith.


Ya Kevin memberikan nama untuk putranya dari kedua silsilah keluarga mereka antara keluarga Anderson dan keluarga Smith. Kevin percaya bahwa kelak anak nya akan menjadi anak yang tangguh dan membanggakannya.


Mulai sekarang, Kevin hanya perlu menjadi Daddy yang bijak dan berlaku adil kepada anak-anaknya. Karena dirinya bisa saja menjadi panutan anak-anaknya kelak dikemudian hari.


*


*


*


Sore hari, Megan bersantai di kamar sambil menggendong bayinya melihat pemandangan langit senja melalui jendela kamarnya. Ditemani Azzam, ibu dua anak itu tampak bahagia menikmati perannya sebagai ibu muda.


Sesekali Megan dan Azzam tergelak tawa saat melihat baby Ar menyentuh wajahnya menggunakan jemari mungilnya. Dan hal tersebut sangat menggemaskan menurut mereka.


Baby Ar menjadi kesayangan dikeluarkannya, semua orang berlomba-lomba ingin menggendongnya dan mendapatkan perhatian darinya.


Setelah puas melihat senja, mereka kembali menunggu kedatangan Daddy Kevin yang tak kunjung pulang dari kantor.


Tampak Megan duduk di pinggir tempat tidur menyusui baby Ar yang sudah lapar. Sedangkan baby Ar begitu tenang dan nyaman dalam gendongan ibunya. Bayi laki-laki nan mungil itu begitu lahap menyusu pada ibunya membuat Megan terus mengukir senyuman di wajahnya.


Azzam senantiasa memperhatikan adiknya menyusu pada sang mommy. Sesekali anak menggemaskan itu tersenyum mencoba meraih perhatian adik kecilnya.


"Mommy, mengapa adik bayi kerjanya cuman tidur dan minum susu? padahal boy ingin mengajaknya bermain." tanya Azzam dengan polosnya.


"Sayang, adik bayi masih kecil dan ia masih dalam proses adaptasi dengan lingkungan yang baru. Bukankah sebelumnya adik bayi berada dalam kandungan mommy, di mana siang dan malam itu tidak ada. Maka dari itu adik bayi masih merasakan kehangatan seperti berada dalam kandungan mommy. Itulah sebabnya adik bayi akan tidur terus dan terkadang menyusu" jawab Megan panjang lebar.


"Ooh jadi begitu mommy. Lalu mengapa pula adik bayi belum berbicara kepada kita?" kembali Azzam mengajukan pertanyaan kepada Mommynya.


"Belum saatnya adik bayi berbicara, sayang. Seiring berjalannya waktu, adik bayi akan belajar berbicara, berjalan, berlari dan bermain bersama Azzam. Jadi Azzam harus siap membantunya ya" ucap Megan tersenyum.


"Siap mommy" ucap Azzam antusias.


Megan tersenyum sambil mengelus puncak kepala Azzam.


Tak berselang kemudian, muncullah Kevin di balik pintu kamar.


"Daddy pulang" ucap Kevin sambil menutup pintu kamarnya. Azzam dan Mommynya segera mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamar.


Megan memberikan isyarat kepada Kevin untuk tidak mendekat. Bahwa saat ini baby Ar sudah mengantuk dalam gendongannya.


Sementara Kevin juga memberikan isyarat kepadanya bahwa ia hanya ingin melihat baby Ar. Dengan langkah pelan Kevin melangkah mendekati mereka.


Azzam segera turun dari tempat tidur untuk menghadang daddynya. Azzam dengan cepat merentangkan kedua tangannya untuk menghalangi jalan Daddynya.


"Stop Daddy! Daddy tak boleh dekat-dekat dengan adik bayi jika baru pulang dari kantor. Daddy harus mandi lebih dulu" ucap Azzam dengan antusiasnya menghadang daddynya.


Azzam kembali mengingatkan kepada Daddynya untuk tak mendekati mereka.


"Oke, baiklah sayang. Daddy lupa, ya sudah jaga mommy dan adik bayi, Daddy mau mandi dulu" ucap Kevin lalu berbelok ke kamar mandi.


Megan tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah laku anaknya yang hampir setiap hari mengingatkan Daddynya.


Azzam berbalik badan menatap mommy dan adik kecilnya. Megan dengan cepat menaikkan jempolnya bahwa Azzam sangat hebat melakukan tugasnya.


Kini Kevin sudah bergabung dengan keluarga kecilnya. Mereka tampak bercanda gurau mencari perhatian baby Ar. Sedangkan baby Ar sendiri terkadang tersenyum ataupun menangis dengan mood yang berubah-ubah.


🍁🍁🍁🍁🍁


Terlihat Arin memasuki sebuah restoran klasik di pinggiran kota dan restoran tersebut menjadi tempat tongkrongan untuk muda mudi bersama pasangannya.


Arin iseng melakukan kencan buta lewat aplikasi biro jodoh. Arin mulai celingak-celinguk mencari lelaki yang menjadi teman kencan nya malam ini. Sesekali Arin mengecek riasan wajahnya dan tak lupa merapikan rambutnya agar terlihat rapi.


Tiba-tiba saja ponsel Arin berbunyi. Arin segera mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya.


"Aku yakin orang ini yang menjadi teman kencan ku" gumam Arin melihat nomor tak dikenal melakukan panggilan di ponselnya.


"Halo dengan siapa disana?" ucap Arin berbasa-basi.


"Nona menempati meja berapa?" tanyannya di ujung telepon.


"Ahh aku menempati meja 15" ucap Arin sambil celingak-celinguk mencari keberadaan si penelepon. Arin mulai menduga-duga beberapa lelaki tampak menelepon yang baru saja masuk ke dalam restoran.


"Baiklah" ucap si penelepon dan segera memutus panggilan secara sepihak.


"Eeh kok dimatiin sih" ucap Arin dengan pandangan tertuju kearah pintu masuk.


Seorang lelaki melambaikan tangannya kearahnya, dengan cepat Arin ikut melambaikan tangannya, namun sayangnya bukan dia yang dimaksud oleh lelaki tersebut tapi meja disebelahnya.


Arin tersenyum kikuk menurunkan tangannya dan merasa malu dengan ulahnya. Terdengar deheman seseorang yang sedang menarik kursi tepat di hadapannya.


Arin segera mengalihkan pandangannya dan terlonjat kaget hingga matanya ikut membulat sempurna melihat dengan jelas orang yang dengan entengnya duduk di hadapannya.


"Kamu!" ucap Arin tidak percaya. "Sepertinya anda salah meja tuan sekretaris" ucap Arin dengan penekanan.


Sementara orang tersebut hanya mengernyitkan dahinya lalu kembali menghubungi Arin.


Ponsel Arin berbunyi dengan hebohnya.


"Apa kamu sudah percaya" ucapnya menyeringai menatap wajah bingung Arin. Orang tersebut adalah Tio, sekretaris Kevin.


"Loh, kok bisa" gumam Arin dengan tatapan melotot sambil meremas tangannya.


Arin tak menduga bahwa teman kencan nya malam ini adalah Tio, lelaki angkuh dan super menyebalkan menurutnya. Arin kembali sibuk dengan pikirannya sendiri. Sedangkan Tio sibuk memperhatikan wajah Arin yang tampak kebingungan plus kesal menurutnya hingga senyuman tipis terpancar di sudut bibirnya.


Lalu muncullah pramusaji membawa menu spesial restoran untuk pasangan tersebut.


"Kamu yang memesan semua ini?" tanya Arin.


"Ya, sebaiknya makan makanan mu. Kamu tak bisa pulang sebelum menghabiskan semua makanan ini" peringat Tio terdengar mengancam.


"Oke, tak masalah. Aku bisa menghabiskan semua makanan ini. Kalau perlu nambah sekalian, aku masih sanggup" ucap Arin dengan percaya dirinya.


Tio tersenyum tipis melihat tingkah kocak wanita dihadapannya. Selesai makan malam dengan sedikit obrolan yang mereka anggap sebagai kencan buta pastinya. Lalu Tio dan Arin bergegas keluar dari restoran tersebut.


Mereka berjalan menuju parkiran dengan santainya. Sesekali mereka saling melirik. Tio memilih menghentikan langkahnya.


"Ayo kita berpacaran" ucap Tio dengan entengnya.


Arin segera berbalik badan kearahnya. "Maksudmu?" tanya Arin pura-pura tak dengar.


Tio lalu menggenggam tangannya seperti yang dilakukan pasangan kekasih yang baru saja berpapasan dengannya.


"Kita berpacaran, menjalin hubungan spesial" ucap Tio gugup.


Arin berpikir keras mendengar ucapan Tio barusan.


"Bagaimana? apa kamu setuju berpacaran dengan ku?" tanya Tio dengan entengnya.


"Baiklah, ayo kita berpacaran" jawab Arin tersenyum.


Tio ikut tersenyum mendengar jawaban Arin. Mereka pun tersenyum bersama yang tidak menyangka kencan buta memberikan peluang bagi mereka menjalin hubungan spesial.