Hot Daddy And Miss Mafia

Hot Daddy And Miss Mafia
HDMM 37



"Aku tak sanggup melakukannya" ucap Bara menunduk sambil mengepalkan tangannya.


Tuan Anderson tak mampu berkata-kata mendengar ucapan Bara. Padahal dia begitu mempercayai lelaki tersebut.


“Jika sangat mendesak, sebaiknya lakukan cara praktis saja. Sepertinya masih banyak pengusaha sukses yang menginginkan putri anda untuk dijadikan simpanannya” ucap Bara dengan seringai licik diwajahnya.


“Apa maksudmu! Aku tidak akan pernah melakukan cara praktis itu. Aku bukan bagian dari Ziko yang rela menjual putrinya pada pengusaha kaya raya”tegas tuan Anderson yang mulai terpancing emosi.


“Ha ha ha...lalu apa bedanya denganku” sindir Bara diiringi gelak tawa.


Tuan Anderson mengepalkan tangannya mendengar ucapan Bara, lelaki yang selalu dia puja-puja.


“Aku sudah mengenalmu selama satu tahun belakangan dan aku merasa bahwa kamu laki-laki baik yang cocok mendampingi putriku. Selain mapan kamu juga pebisnis hebat”ucap tuan Anderson yakin yang berusaha menurunkan egonya.


Semua itu kulakukan demi tercapainya tujuanku, agar kamu bisa masuk dalam perangkapku. Batin Bara.


“Ada baiknya jika anda melalukan cara praktis itu, jangan sampai anda kehilangan segalanya” ucap Bara yang sudah bebicara formal yang memberikan masukan untuk tuan Anderson.


“Aku tidak setega itu menjual putriku, jangan pernah memberiku ide gila seperti itu” kesal tuan Anderson sambil memijit keningnya yang mulai dilanda pusing memikirkan kehidupannya.


“Tersisa seminggu lebih anda akan kehilangan segalanya. Seluruh aset beserta perusahaan yang anda punya akan musnah. Jadi tunggu apa lagi, lakukan saja cara praktis itu. Bahkan para rekan bisnis anda sering melakukannya demi tercapainya tujuan mereka” ucap Bara menyeringai lalu bangkit dari duduknya.


Tuan Anderson hanya diam seribu bahasa mendengar ucapan Bara. Kedua tangannya di kepal kuat yang siap dilayangkan sewaktu-waktu jika Bara banyak bicara dan sudah tak bisa dikendalikan.


“Apa salahnya jika melelang putri anda di depan__” Bara menjeda ucapannya hingga….


Bugh!


Satu pukulan telak langsung bersarang di wajah Bara dan Bara sendiri hanya tersenyum sinis menyentuh wajahnya yang tampak lebam.


“Cukup! Aku sangat muak dengan ucapanmu!" ucap tuan Anderson dingin dengan sorot mata tajam sambil mencengkram jas Bara.


"Pergi!! Pergi dari hadapanku!” bentak tuan Anderson yang sudah tersulut emosi mengusir Bara.


Tidak sekedar mengusir, tuan Anderson juga mendorong Bara dengan kesalnya.


Bara dengan cepat merapikan jasnya dengan gaya angkuhnya.


“Jika butuh bantuan, hubungi saja aku. Seorang Bara akan siap membantumu”ucap Bara menyeringai lalu berjalan menuju pintu keluar.


Tuan Anderson begitu murka mendengar seluruh ucapan Bara. Tuan Anderson lalu menendang dan membanting meja di ruangan tersebut hingga hancur.


“Arrghhh” teriak tuan Anderson dengan amarah menggebu-gebu sambil menjambak rambutnya.


Tuan Anderson tak menyangka Bara akan mengatakan hal seperti itu kepadanya. Walaupun dirinya tak pernah mempedulikan putrinya, namun tuan Anderson tidak akan pernah setega itu kepada putri semata wayangnya.


Dari lubuk hatinya yang paling dalam, tuan Anderson tetap menyayangi putrinya, darah dagingnya sendiri. Seorang ayah tak akan pernah membawa putrinya ke dalam hal terkeji sekalipun.


Inilah yang selalu tuan Anderson takutkan, bukan tanpa sebab dia tak mengharapakan soerang anak perempuan. Akan tetapi anak perempuan selalu di anggap lemah dimata orang dan tak memiliki keberuntungan lebih dibandingkan anak laki-laki. Lebih parahnya lagi, begitu mudahnya dikorbankan atau dijadikan sebagai alat tukar tambah.


Tuan Anderson dengan penuh amarah mendudukkan kembali tubuhnya di sofa. Mengamati suasana Mansionnya yang sebentar lagi akan dia tinggalkan.


“ Argghhh…ini begitu sulit” ucapnya lalu mengusap wajahnya dengan kasar.


Segala perbuatan yang dilakukannya selama ini kembali direnungkan lelaki yang baru saja genap berusia lima puluh tahun tersebut.


Selama ini, begitu banyak orang yang membencinya bahkan ingin menjatuhkan reputasinya. Dan pada akhirnya ia pun runtuh juga.


Sementara di dalam kamar bernuansa warna pink dengan segala perabotan berwarna pink. Tampak seorang wanita meringkuk di atas tempat tidur.


Sayup-sayup mata bulat dengan bulu mata lentik yang dimiliki wanita tersebut mulai terbuka. Matanya mulai mengamati disekelilingnya hingga terlonjat kaget dan segera bangun dan memilih duduk.


Tiba-tiba saja kepalanya terasa berat. Wanita cantik tersebut kembali melihat penampilannya yang sudah berganti mengenakan piyama tidur.


"Kamar ini sangat tidak asing" ucapnya dan segera menyeret paksa tubuhnya turun dari tempat tidur.


"Tidak mungkin aku berada di kamar ini, kalau daddy tidak menculik ku" ucap Megan yakin yang berbicara sendiri di dalam kamar yang super mewah.


" Terus, bagaimana dengan Kevin, mengapa dia tak menyelamatkanku" ucapnya kembali dan segera berjalan mendekati pintu.


Pakkkkk


Pakkkkk


Megan menggedor-gedor pintu kamarnya yang sepertinya terkunci dan tak segan-segan mendobraknya.


"Sial semua ini ulah daddy" kesal Megan dan segera menghentikan aksinya.


Megan lalu berjalan mendekati jendela dan mencari jalan keluar untuk kabur. Dan usahanya untuk kabur hanya sia-sia dan sangat tidak memungkinkan semua jendela dipenuhi besi pengaman. Sepertinya Daddy-nya sudah mengatur segalanya.


Megan mengepalkan tangannya dan kembali mendekati pintu lalu mulai berteriak keras dari dalam.


"Daddy! buka pintunya" teriak Megan sambil menggedor-gedor pintu kamarnya.


Tak ada jawaban dari luar. Megan kembali berteriak keras ingin keluar dari kamarnya. Namun tak ada seorangpun yang menanggapinya.


Lelah berteriak Megan memilih mengamati kembali suasana kamarnya yang hampir lima tahun ia tinggalkan. Megan mendekati meja belajarnya yang masih dipenuhi buku-buku dan terdapat deretan foto masa kecilnya bersama mommy dan daddy nya tersusun rapi.


"Mommy, apa yang harus kulakukan, daddy kembali mengurungku di dalam kamar" ucap Megan dengan mata berkaca-kaca mengusap-usap foto ibunya seolah memberitahukan ibunya.


"Mommy, aku sangat merindukanmu. Lihatlah aku sudah dewasa dan sudah menikah. Aku sangat bahagia dengan keluarga baruku. Kami hidup bersama dan saling menyayangi. Aku begitu bahagia bersama laki-laki baik dengan anaknya yang sangat menggemaskan" ucap Megan hingga air matanya mengalir membasahi pipinya.


Megan segera menghapus air matanya lalu tersenyum memandangi foto ibunya.


"Kevin, tolong bawa aku pergi dari tempat ini"ucap Megan sambil memejamkan matanya.


Hanya Kevin satu-satunya nama yang mengisi pikirannya dan sangat dia percayai akan membawanya pergi dari mansion Daddy nya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Sementara di kediaman Kevin.....


Kevin tampak mondar-mandir di ruang tamu menunggu kedatangan seseorang. Kevin terlihat tak tenang dengan pikiran mulai kemana-mana.


Hingga seseorang yang ditunggu-tunggu datang juga.


"Aku pikir kamu tidak datang menemuiku" ucap Kevin lalu merangkul pundak orang tersebut.


"Aku selalu menepati janjiku bro" ucapnya tersenyum.


"Ada apa ini?" tanya Kevin menyentuh wajah orang tersebut yang tampak lebam


"Haisshhh, ini karena rencana gilamu" ucapnya kesal lalu meninju dada Kevin.


"Ha ha ha, bodoh. Bara, Bara...Aku tidak pernah memintamu pasang wajah di depannya" ucap Kevin diiringi gelak tawa.


"Aku merasa yang kamu lakukan ini sangat keterlaluan. Walaupun kamu tertawa puas, tapi pikiranmu terus saja tertuju pada wanita itu, bro" ucap orang itu yang tidak salah lagi adalah Bara.


Bara satu-satunya sahabat Kevin sedari kecil bahkan mereka begitu akrab layaknya adik kakak. Dan Bara lah orang yang selalu Kevin hubungi selama ini.


"Benar, tapi beberapa langkah lagi kita akan mencapai tujuan" ucap Kevin dingin lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Kevin sudah jauh melangkah dan tak berniat untuk mundur. Walaupun permasalahannya semakin rumit bersama wanita yang dicintainya, tapi tekadnya sudah bulat untuk tetap menjalankan rencananya.


Bersambung......


Jangan lupa like love komen dan vote ya teman-teman 🙏🙏🙏