Hot Daddy And Miss Mafia

Hot Daddy And Miss Mafia
HDMM 47



"Ayo, mainkan gong nya" bisik orang misterius tersebut melalui earphone kecil miliknya.


Tiba-tiba saja seluruh lampu hotel padam seketika. Suara jeritan seseorang mulai terdengar di tengah-tengah pesta hingga membuat kegaduhan para tamu undangan.


"Kevin, apa yang terjadi" ucap Megan panik.


Kevin selalu saja bersikap tenang dan sama sekali tak menggubris ucapan Megan.


"Azzam, dimana Azzam sekarang. Aku mengkhawatirkannya. Kevin! apa kamu mendengar ku!" bentak Megan yang sudah was-was.


"Tenanglah, jangan lakukan apapun" bisik Kevin yang mencoba menenangkan istrinya.


"Daddy, mommy..... tolong..... tolong lepas...." teriak seseorang dari arah belakang.


"Itu pasti Azzam.....Azzam... kamu dimana?" teriak Megan yang begitu khawatir.


Tlep....


Seluruh lampu hotel kembali menyala membuat para tamu undangan tampak lega.


Megan tampak was-was melihat disekelilingnya untuk mencari keberadaan Azzam.


"Sayang, tenanglah. Jangan mengkhawatirkan apapun" ucap Kevin memperingatkan istrinya.


"Aku tidak bisa tenang, apa kamu tidak dengar suara anak kecil berteriak meminta tolong? aku sangat mengenali suara itu, Kevin" kesal Megan sambil memegang keningnya.


"Jangan khawatirkan Azzam. Anak kita baik-baik saja" ucap Kevin dengan tatapan hangatnya.


Megan tak percaya dengan ucapan Kevin, dia terus saja melihat disekelilingnya untuk mencari keberadaan Azzam.


Tanpa diduga, tiba-tiba salah satu tamu undangan bertopeng langsung menodongkan pistol kearah Megan.


"Jangan bergerak, tempat ini sudah kami kepung" ucapnya dengan suara lantang.


Kevin langsung menarik tangan Megan untuk tetap berada di sampingnya.


Kemudian Kevin mengangkat sebelah tangannya sebagai tanda aba-aba untuk beraksi, karena anak buahnya sudah tersebar untuk meringkus orang-orang yang ingin mengacaukan hari bahagianya.


Tanpa mereka ketahui, seluruh anak buah Kevin sudah bergerak lebih dahulu mengetahui trik para penjahat tersebut.


"Turunkan senjata mu, beberapa kelompok mu sudah kami tahan" ucap Gerald yang juga menodongkan pistol kearah orang bertopeng tersebut.


"Tak semudah itu aku mempercayai mu. Kelompok Goper sudah mengepung tempat ini, maka tamatlah riwayat kalian semua" ucapnya kembali dengan suara lantang dengan gaya bicara mengancam.


Megan tak terima dengan ucapan orang bertopeng tersebut. Dengan gerakan cepat Megan melakukan serangan membabi buta, melayangkan tendangannya ke wajah orang bertopeng tersebut. Sehingga pistol yang dipegangnya ikut tergeletak di lantai.


Dor


Prangg.....


Terdengar suara tembakan dari orang tidak dikenal dan entah dari mana asalnya hingga mengenai lampu kristal hotel tersebut.


Seluruh tamu undangan tampak histeris lalu berhamburan keluar. Ada beberapa diantara mereka yang terluka akibat serpihan kaca dari lampu kristal tersebut.


Megan mengepalkan tangannya melihat kegaduhan yang terjadi pada pesta pernikahannya.


Pistol orang bertopeng tadi tergeletak di lantai, Megan bergerak cepat memgambil pistol tersebut lalu kembali diarahkan pada orang yang begitu lancang menodongkan pistol kearahnya.


"Aku tidak akan pernah membiarkan seorang pun mengacaukan hari bahagiaku” ucap Megan dengan tatapan membunuhnya.


“Ha ha ha…jangan membual nona, aku kelompok mafia Goper yang ditakuti di negeri ini. Sejauh mana kemampuanmu untuk membunuhku nona?” ucapnya meremehkan Megan.


Megan mengepalkan tangannya mendengar ucapan orang bertopeng tersebut. Pelatuk pistol dipegangnya sudah siap dia lepaskan, namun Kevin segera menghentikan aksinya.


“Jangan pernah kotori tanganmu selama berada di sampingku” bisik Kevin dan dengan lembut mengambil pistol dari tangan Megan.


“Tapi, dia sudah mengacaukan pesta pernikahan kita” timpal Megan.


“Ya, aku tahu. Semua ini ulah pamanku” ucap Kevin dengan raut wajah sulit diartikan.


“Ulah pamanmu? Sial*an, aku tidak akan mengampuninya”Kesal Megan.


Kevin segera memberikan kode keras untuk Gerald agar menangkap orang misterius yang sudah berani menyelinap di pesta pernikahannya.


Tak butuh lama, Gerald segera bertindak cepat menangkap orang bertopeng tersebut lalu membawanya keluar dari hotel.


Kevin dan Megan kembali mendapatkan kejutan dengan kedatangan seseorang yang menjadi biang kerok nya.


Prokkk


Prokkk


Prokkk


Kevin langsung mengalihkan pandangannya. Tangannya dikepal kuat melihat sosok yang dikenalinya berjalan kearahnya.


Perasaan dendam yang terus mendarah daging dalam dirinya kepada orang yang sudah menghancurkan keluarganya.


“Oh ponakan tersayang ku, selamat atas pernikahanmu, Ckckck…kalian benar-benar serasi. Tunggu, bagaimana dengan hadiah istimewaku, apakah kamu menyukainya?” ejeknya dengan tatapan sinis nya. Orang tersebut adalah Robert, paman Kevin.


Robert akan melakukan segala cara demi menghancurkan Kevin.


Berulang kali dia menyusun taktik licik demi tercapainya tujuan yang selalu dia inginkan, yakni menggulingkan kekuasaan Kevin dan menjadi penerus satu-satunya di keluarga Smith.


Kevin tak mengubbris ucapan pamannya, tatapannya penuh kebencian menatap lelaki paruh baya yang berambisi menggulingkan kekuasaannya.


“Lihatlah penghianat ini, apakah kau yakin 100% mempercayainya? Jangan sampai dia pun kembali berkhianat dibelakang mu” ucap Robert dengan seringai licik diwajahnya memperingatkan ponakannya.


“Cukup, kamulah penghianat di keluarga kami. Sampai kapan pun aku tidak akan mengampuni dosa-dosamu”ucap Kevin dingin.


“Aaaa..ha.ha ha, apa itu ponakanku! Huuhhh, hebat juga, aku jadi takut mendengar ucapannya” ucap Robert diiringi gelak tawa.


Megan begitu kesal melihat tingkah Robert, dia pun tampak geram dan langsung menyiramkan segelas minuman ke wajah Robert.


Syuurrrrrr


Kekesalan pun tampak jelas pada raut wajah Robert. Matanya berapi-api ingin menghabisi pasangan suami istri itu.


“Lebih baik aku berkhianat darimu daripada menjadi boneka bodohmu tuan Robert” ucap Megan lalu menjatuhkan gelas kaca dipegangnya tepat dihadapan Robert.


Robert melayangkan tangannya untuk menampar wajah Megan, untungnya Kevin segera menangkis tangan Robert lalu memelintirnya tanpa ampun.


"Aku tidak akan membiarkan tangan kotor mu menyentuh istriku" ucap Kevin dingin lalu menendang kedua lutut Robert hingga terselungkup di lantai.


"Sial, aku tidak akan mengampuni kalian"pinta Robert dan segera bangkit.


Tanpa diduga Robert langsung mengeluarkan pistolnya dari saku jasnya.


Dor


Satu tembakan dilepaskan di udara. Seluruh tamu undangan kembali histeris untuk mencari tempat aman.


"Tamatlah riwayat kalian, selamat tinggal" ucap Robert lalu menarik pelatuknya.


Dor


Sayangnya mewujudkan mimpinya untuk menghabisi pasangan suami istri itu begitu mustahil. Seseorang lebih dahulu mendahului Robert. Tangan kiri Robert terkena timah panas dari orang tak dikenal hingga pistolnya terjatuh.


Megan dan Kevin sedikit syok dengan kejadian barusan.


Lagi-lagi Robert mengambil pistolnya dengan sedikit gemetaran dikarenakan tangan kirinya sudah berlumuran darah.


"Aku bisa saja membunuhmu sekarang juga Robert! tapi, aku sudah bersumpah kepada mendiang saudaraku untuk tidak mengotori tanganku untuk orang sepertimu" ucap Kevin dengan tatapan dingin yang juga memegang sebuah pistol.


"Ayo bunuh aku!" teriak Robert dengan suara bass-nya sambil memainkan pistolnya.


Dor


Kembali kaki kiri Robert terkena timah panas. Robert mengepalkan tangannya sambil melihat disekelilingnya mencari pelaku penembak. Namun nihil baginya untuk menemukan pelakunya.


"Ada bom! ayo pergi" seseorang mulai berteriak histeris menemukan benda mematikan itu.


Kevin dan Megan tampak terkejut mendengar teriakkan seseorang. Mereka berusaha tenang dan tetap saling menjaga satu sama lain.


"Ha ha ha ha, itulah kejutan kalian" ucap Robert lalu bergegas keluar dari hotel tersebut.


Kevin melambaikan tangannya kepada sahabatnya yang berada di lantai 5 dan sudah bekerja keras membantunya.


"Dia yang menembak pamanmu" ucap Megan.


"Hemm"


"Sebaiknya kita pergi" ucap Kevin sambil menggenggam tangan Megan.


"Ayo, tunggu apa lagi" pinta Megan.


Kevin dan Megan lalu berlari kecil keluar dari hotel tersebut. Perasaan bahagia masih saja terpancar di wajah keduanya, walaupun pesta pernikahan mereka menjadi kacau balau.