Hot Daddy And Miss Mafia

Hot Daddy And Miss Mafia
HDMM 22



Pertahanan Kevin runtuh seketika. Tanpa basa-basi, Kevin mencium bibir Megan dengan lembutnya dan meresapi bibir manis Megan yang semerah delima. Walaupun tak ahli dalam berciuman, namun Kevin mampu mempraktekkannya dengan benar lewat tontonan gratis yang sering dilakukan oleh rekan bisnisnya selama melakukan party bersamanya.


Berciuman bukanlah hal lumrah bagi laki-laki 28 tahun tersebut, dia tak pernah melakukannya kepada siapapun. Dan bisa dibilang Megan adalah wanita beruntung yang diciumnya.


Sedangkan Megan sendiri hanya mampu membulatkan matanya dan begitu syok dengan aksi Kevin yang tiba-tiba menciumnya.


Megan pun tak tinggal diam, Megan dengan kesalnya mendorong dada Kevin yang menempel di tubuhnya. Hingga ciuman Kevin terlepas darinya.


Ya ampun! ciuman pertamaku di ambil oleh si Jerapah, sial..sial. Batin Megan kesal.


"Apa-apaan kamu! mengapa kamu menciumku hah!" kesal Megan sambil mengusap bibirnya yang basah akibat ciuman Kevin.


"Aku tak sengaja melakukannya, bibirku tiba-tiba saja menempel di bibirmu. Lagian bukankah kamu menyuruhku mempraktekkan gaya yang kedua" ucap Kevin membela diri sambil menyentuh sudut bibirnya.


Dalam hati Kevin sangat menikmatinya dan ingin mengulanginya kembali.


"Kamu pintar juga membual, mana mungkin bibirmu tiba-tiba menempel di bibirku kalau kamu tidak ada niatan ingin mencium bibirku!" bentak Megan sambil bertolak pinggang.


Jelas sekali Megan merasakan ciuman Kevin begitu dalam dan sedikit bernafsu.


"Oke, aku minta maaf. Anggap saja tadi hanya kecelakaan kecil atau angin berlalu. Sebenarnya aku hanya ingin terlihat totalitas di dalam foto" ucap Kevin gelagapan sambil menatap bibir ranum Megan dengan wajah memerah yang masih bernafsu sekali lagi ingin menciumnya.


"Ya, tapi tidak seharusnya kamu menciumku. Oh iya, aku juga mengganggap nya angin mesum berlalu" ejek Megan dengan tatapan sinis. "Ayo ulangi lagi, sebelum Azzam terbangun. Awas ya... jika kamu kembali macam-macam kepadaku, milikmu yang menjadi taruhannya" ucap Megan dengan ancamannya, lalu kembali mendekati Kevin.


"Baiklah, aku tak akan mengulanginya lagi nona cerewet" ucap Kevin tersenyum tipis sambil mengelus rambutnya ke belakang.


Kevin dan Megan kembali melakukan pose yang kedua. Sungguh Kevin betul-betul mendapatkan ujian berat jika terus berdekatan dengan Megan, ingin rasanya dia melahap habis Megan sekarang juga.


Sementara Megan begitu santainya berdiri di hadapannya dengan gaya elegan dan menggoda. Ditambah wajah Megan dan wajahnya begitu dekat dan hanya berjarak beberapa centi saja. Bergerak sedikit saja mungkin mereka kembali berciuman yang kedua kalinya.


Ckrett


Ckrett!


"Akhirnya selesai, Wow... lihatlah hasilnya sangat memuaskan bukan" ucap Megan antusias sambil menyentuh lengan Kevin yang tengah memperlihatkan foto bersama mereka.


Aku yakin tak ada lagi yang bisa memaksaku melakukan tindakan bodoh setelah ini. Batin Megan menyeringai.


Kevin terdiam sejenak menatap jemari lentik Megan yang menyentuh lengannya. Kemudian Kevin ikut menatap layar ponsel Megan, dimana foto mesra dirinya bersama Megan terpampang jelas.


Baguslah, wajahku tak terlihat jelas di setiap foto. Aku tak ingin rencanaku gagal. Batin Kevin.


Kevin ikut tersenyum tipis melihat foto dirinya bersama Megan. Lagi-lagi Kevin kembali curi-curi pandang menatap raut wajah Megan yang tampak berseri-seri.


Emm aku langsung kirim saja foto-foto ku ke Arin dan memintanya membuatkan poster yang berukuran besar, lalu meminta kembali Arin mengirim poster itu ke kediaman Daddy, ya ide bagus. Batin Megan.


Tak ingin menunda-nunda waktu, Megan segera mengirim foto-fotonya ke Arin. Untungnya dia masih hafal nomor ponsel asisten pribadinya. Dan tak lupa Megan mengirimi pesan singkat untuk Arin untuk dibuatkan poster yang berukuran besar.


"Terima kasih, aku pikir yang kamu lakukan tadi impas dengan foto ini" ucap Megan tersenyum sinis.


"Hemm, berarti kita impas kan" ucap Kevin menyeringai.


"Yups, apa kamu lupa didalam kontak kerjasama kita tercantum bahwa tak ada kontak fisik diantara kita selama masa kontrak kerjasama berlangsung. Berpelukan, berciuman dan lain-lain salah satu kontak fisik yang harus kita hindari. Akan tetapi, aku anggap berpelukan wajar-wajar saja demi kepentingan bersama" ucap Megan tersenyum, lalu berjalan masuk ke dalam kamar.


Kevin tak menggubris ucapan Megan dan lebih memilih mengikuti langkahnya.


"Selama aku tinggal, jangan sekali-kali membawa boy keluar. Apalagi kamu mencoba kabur, berdiam dirilah bersama Oma di mansion" tegas Kevin memperingatkan Megan.


"Hemm, jangan khawatir" ucap Megan acuh mendekati tempat tidur.


Kevin lebih dulu membungkukkan badannya lalu mencium kening anaknya.


"Jika boy mencariku katakan padanya aku berangkat ke kantor" ucapnya kembali lalu menyambar ponselnya yang berdering heboh di atas nakas.


"Kamu tak serapan bersama kami?" tanya Megan yang menatap punggung Kevin terus menjauhinya.


Kevin sudah tak terlihat lagi di balik pintu yang mengarah pada balkon kamar. Kevin buru-buru menjauhi Megan untuk mengangkat panggilan masuk di ponselnya.


"Ya halo" ucap Kevin dingin di ujung telepon.


"Berapa lama lagi aku harus bersandiwara dengan orang-orang bodoh disekelilingmu" ucap seseorang di ujung telepon.


"Sampai kamu berhasil menghancurkannya. Lakukanlah sesuai dengan rencana awal kita dan sesuai kemampuanmu. Ingat baik-baik, jangan pernah rencana yang satu ini gagal total akibat kebodohanmu"ucap Kevin dengan tegasnya sambil mengepalkan tangannya.


"Percayalah brother, aku bisa melakukannya dengan baik. Aku sudah menjadi orang kebanggaan lelaki tua yang serakah itu. Dia bahkan ingin menentangmu lewat diriku. Satu lagi, bahkan begitu tega mengorbankan putri satu-satunya demi kepentingannya sendiri persis dengan paman terbaikmu" ucap seseorang panjang lebar dengan suara beratnya.


"Hemm sudah kuduga, begitulah kelakuan orang-orang serakah. Dan teruslah menjadi kebanggaannya" ucap Kevin menyeringai lalu mengakhiri sambungan teleponnya.


Kevin menggenggam erat ponselnya lalu berbalik badan. Kevin terlonjat kaget mendapati Megan berdiri di belakangnya.


Semoga saja dia tak mendengar pembicaraanku. Batin Kevin.


"Apa kamu tak punya kerjaan lain sampai harus menguping pembicaraanku" ucap Kevin sambil menatap tajam Megan.


"Aku sama sekali tak menguping pembicaraan mu. Aku membuat kopi untukmu lalu meletakkannya di atas meja sana, jika kamu tak ingin meminumnya tak masalah aku akan segera membuangnya" ucap Megan kesal dengan tuduhan Kevin yang tidak-tidak kepadanya. Lalu berjalan mendekati meja bundar.


"Berhenti, aku akan meminum kopi buatan mu" ucap Kevin cepat untuk menghentikan aksi Megan.


Kini Kevin dan Megan duduk bersama saling berhadap-hadapan menikmati secangkir kopi hitam di pagi hari.


"Jadwalku begitu padat hari ini, kemungkinan besar aku lembur malam ini. Tolong jaga Azzam dengan baik, jika terjadi sesuatu cepat hubungi aku" ucap Kevin lalu bangkit dari duduknya.


Megan ikut bangkit dari duduknya dan mulai buka suara.


"Ya percayalah aku akan menjaga Azzam dengan baik, dan kuharap pekerjaanmu juga berjalan lancar" ucap Megan tersenyum.


"Aku pergi" pamit Kevin lalu melenggang pergi.


Megan hanya mampu menatap punggungnya hingga tak terlihat lagi di balik pintu kamar. Megan kembali berjalan mendekati tempat tidur untuk memastikan Azzam yang tak kunjung bangun.


"Astaga, anak mommy belum bangun" gumam Megan sambil mengusap-usap puncak kepala Azzam.


Bersambung.....


Jangan lupa like, love, komen dan vote ya teman-teman 🙏 🙏🙏


terima kasih 🙏 🤗