
"Oke, aku setuju!" ucap Megan sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar. Hanya itu jalan satu-satunya demi menolak keinginan sang ayah.
"Heh..aku belum menjelaskan panjang lebar perihal kerjasama kita, kamu bahkan begitu cepatnya menyetujuinya" ketus Kevin sambil menyodorkan amplop cokelat untuk Megan.
Megan hanya menatap amplop cokelat tersebut tanpa ingin menyentuhnya.
"Aku sih setuju-setuju saja, karena aku pun akan mengajukan syarat untukmu tuan. Belum tentu syarat ku dapat kamu setujui" ucap Megan tersenyum sinis.
"Sebaiknya buka amplop ini, lalu baca dengan seksama seluruh isi dari perjanjian kontrak kerjasama kita" ucap Kevin dengan tegasnya.
Megan segera membuka amplop tersebut lalu mengeluarkan isinya. Terdapat tiga lembar kertas yang berisikan perjanjian kontrak kerja sama mereka. Megan kembali menatap Kevin dengan penuh tanda tanya.
"Sebanyak 50 butir poin syarat yang kamu ajukan kepadaku?" tanya Megan sambil mengepalkan tangannya.
"Hemm, poin pentingnya kamu harus menjadi ibu sambung anakku dan yang lainnya hanya mematuhi seluruh peraturan yang tertera di kontrak kerjasama kita" ucap Kevin dingin sambil menopang dagu menatap tajam Megan.
Megan langsung bangkit dari duduknya dengan wajah kesalnya.
Brakkkk
Megan memukul keras meja yang mereka tempati. Kemudian Megan mengambil pisau kecil lalu kembali ditancapkan pada meja tak bersalah itu.
"Wow,, ternyata kamu cerdik juga. Aku bisa saja berkhianat lalu membunuh kalian berdua" ucap Megan sambil menggertakkan giginya yang menahan amarahnya.
"Kamu takut dengan semua poin yang tertera di kontrak ini?" tanya Kevin sambil mengangkat tinggi-tinggi kontrak kerjasama tersebut.
Megan hanya berdengus kesal dengan wajah ditekuk.
"Bukankah kamu pecinta uang yang bisanya menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan" ucap Kevin dan terlihat tenang duduk di kursinya.
Sifat wanita ini persis ayahnya. Batin Kevin.
Megan menghela nafas panjang kemudian kembali duduk di kursinya.
"Apa saja keuntungan yang kudapatkan dari kerjasama ini" ucap Megan dingin kemudian menyeruput minumannya.
"Sebaiknya baca dengan seksama seluruh poin perjanjian kontraknya, sebelum kamu memutuskan segalanya" bentak Kevin sambil menunjuk wajah Megan.
Megan dengan terpaksa membaca seluruh isi dari perjanjian kontrak kerjasama mereka. Megan begitu kesal karena dirinya tipikal orang yang begitu malas membaca, apalagi bacaan yang hanya membuat tanduk-tanduknya bermunculan.
Si*lan, dia ingin menjadikanku sebagai budak yang berkedok ibu sambung untuk anaknya. Batin Megan.
Megan kembali berdengus kesal melanjutkan bacaannya dengan sumpah sarapannya yang hanya mampu diucapkan dalam hati.
What, uang..uang yang akan kudapatkan senilai 20 M.
Megan memicingkan matanya untuk lebih jelas melihat nominal uang yang tertera di lembar berikutnya.
Uang sebanyak ini bisa aku dapatkan jika membunuh puluhan orang. Bagaimana mungkin dia membayarku dengan bayaran begitu mahal? jelas-jelas perusahaannya tidak begitu besar, bahkan masih kalah jauh dengan perusahaan Daddy.
Apa dia tidak bangkrut jika memberikan seluruh pendapatan perusahaannya hanya untuk membayarku. Sepertinya aku harus mengerjainya balik agar dia tak sanggup mengabulkan permintaan ku. Batin Megan.
Megan tersenyum sinis kemudian mengalihkan pandangannya menatap Kevin.
"Aku kurang setuju dengan nominal uang yang tertera di kontrak ini, masih kurang, aku ingin dua kali lipat lagi" ucap Megan menyeringai.
"Baiklah tak masalah, Tio bisa merubah nominalnya sesuai yang kamu inginkan" ucap Kevin tanpa ragu.
Megan menggigit bibir bawahnya mendengar ucapan Kevin.
Sial, tak mempan juga untuk menjatuhkannya. Batin Megan.
"Apa ini! mengapa kita harus melakukan pernikahan kontrak" ucap Megan dengan kesalnya sambil melemparkan berkas tersebut di wajah Kevin, sedangkan Kevin dengan sigap mengambil berkas tersebut yang hampir saja mengenai wajahnya.
"Aku tidak ingin kamu melarikan diri! maka dari itu aku mengikatmu melalui pernikahan kontrak ini. Jangan salah paham, batas kontrak ini hanya berlaku satu tahun. Kamu hanya perlu menjadi ibu sambung anakku, tidak lebih. Setelah batas kontraknya berakhir, kamu harus pergi sejauh mungkin dari kehidupan kami, ingat itu!. Jika kamu tak menyanggupi batas kontraknya sesuai waktu yang ditentukan, maka kamu siap-siap membayar denda sebesar 1 Triliun" ucap Kevin dengan tegasnya yang menjelaskan panjang lebar perihal kontak kerjasamanya.
Megan tersenyum sinis mendengar semua ucapan Kevin. Tiba-tiba ucapan ayahnya kembali terlintas di pikirannya. Megan menjadi diam seribu bahasa.
Kontrak ini sama-sama menguntungkan kami. Aku tak perlu lagi mencari laki-laki yang mau dijadikan sebagai pacar pura-puraku, cukup dengan ayah satu anak ini. Batin Megan.
"Aku setuju menjadi ibu untuk anakmu bukan sebagai istrimu tuan" ejek Megan tersenyum sinis.
"Jangan terlalu berharap, aku menjadikanmu sebagai istri hanya untuk menjadikanmu sebagai ibu untuk anakku atau bisa disebut sebagai pengasuh anakku!" ucap Kevin dengan ketusnya.
Megan mengepalkan tangannya dibawah meja yang berusaha menahan amarahnya.
"Baguslah, aku memang tak bermimpi untuk dijadikan sebagai istrimu. Aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik tanpa melanggar seluruh poin dari perjanjian ini" ucap Megan tersenyum.
"Hemm" ucap Kevin dengan tatapan dingin. "Kamu tak mengajukan syarat untukku?" tanya Kevin.
"Oh, aku belum kepikiran untuk membahasnya sekarang" elak Megan yang berusaha tersenyum.
Aku sangat malu untuk mengatakannya dodol. Aku bahkan sudah dibuat pusing dengan seluruh isi dari kontrak si*lan ini.
Mereka kemudian saling bersalaman atas kerjasamanya. Setelah itu, Kevin bersiap-siap untuk pulang. Kevin bangkit dari duduknya, diikuti oleh Megan.
"Aku pastikan kontrak kerjasama kita rampung esok hari. Selanjutnya, kita akan melangsungkan pernikahan, jadi bersiaplah" ucap Kevin dingin, kemudian melenggang pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Megan tak mampu berkata-kata, hanya kepalan kedua tangannya di layangkan di udara.
"Dasar jerapah licik, begitu gampangnya menyebutkan ini itu termasuk pernikahan..... arrgghhh, sial... sial" ucap Megan dengan kesalnya sambil membanting kursinya.
Saat menyadari ulahnya yang membuat keributan di dalam ruangan tersebut, Megan segera ikut menyusul Kevin yang sepertinya sudah keluar dari restoran tersebut.
Dan benar saja dugaannya, Mobil Kevin mulai melaju meninggalkan restoran tersebut. Megan hanya mampu menatap mobil Kevin yang semakin menjauh dari pandangannya.
"Semua ini gara-gara daddy. Aku tidak mungkin melakukan kerjasama hanya untuk dijadikan sebagai seorang pengasuh. Daddy terus saja membuat hidupku menderita, aku sangat membencinya" gumam Megan sambil mengusap wajahnya.
Megan segera masuk ke dalam mobilnya, lalu menancap gas meninggalkan tempat tersebut. Pikirannya kembali kacau, walaupun dirinya terlihat kuat didepan semua orang, namun nyatanya hatinya begitu rapuh.
Sementara Kevin tiba di kediamannya tepat pukul 22.00 waktu setempat. Kevin melangkahkan kakinya menuju kamarnya untuk bersih-bersih sebelum menemui jagoannya.
Tak berselang lama kemudian, Kevin terlihat sudah segar dengan piyama tidurnya sambil melangkah menuju kamar anaknya. Dengan pelan Kevin membuka pintu kamar Azzam, dua pelayan wanita berada di dalam sana yang tengah menjaga Azzam.
Kevin hanya mengisyaratkan lewat ekor matanya untuk menyuruh mereka keluar, karena dirinya ingin bersama anaknya. Terlihat jagoannya sudah tertidur pulas di atas tempat tidur.
Kevin tersenyum tipis kemudian kembali menyelimuti tubuh anaknya dan tak lupa mendaratkan ciuman di keningnya sebelum ikut tidur bersamanya.
"Selamat tidur boy" bisiknya tersenyum sambil mengelus kepalanya.
Kemudian Kevin ikut berbaring di samping anaknya.
Kamu akan memiliki seorang ibu boy, Daddy sudah mengabulkan permintaanmu. Batin Kevin.
Bersambung....
Mohon maaf baru update 🙏🙏🙏
Aku begitu sibuk di dunia nyata 😔