Hot Daddy And Miss Mafia

Hot Daddy And Miss Mafia
HDMM 40



"Permisi, Nona Megan, tuan besar....tuan besar jatuh pingsan" teriak seseorang dari luar.


"Apa!"


Megan membulatkan matanya mendengar ucapan seseorang dari luar kamarnya. Pintu kamarnya sudah terbuka lebar.


"Tuan besar non.... tuan besar jatuh pingsan" ucap kepala pelayan dan terlihat panik.


Megan hanya diam seribu bahasa yang masih setia berdiri di tempatnya. Sungguh Megan tidak tahu harus berbuat apa.


Sementara orang-orang dibawah sana mulai panik yang tengah membopong tuan Anderson masuk ke dalam kamar.


Tak berselang kemudian, muncullah laki-laki paruh baya berjas putih sambil menenteng tas kerjanya di arahkan ke kamar. Dan sudah dipastikan laki-laki paruh baya tersebut adalah seorang dokter.


Dokter tersebut segera menjalankan tugasnya memeriksa kondisi tuan Anderson yang tengah jatuh pingsan.


Sementara Megan masih saja uring-uringan di dalam kamarnya yang belum juga kepikiran untuk melihat ayahnya. Megan menggigit kecil kukunya yang sedang dilanda kebingungan.


Jujur saja Megan belum juga berbaikan dengan ayahnya hingga detik ini. Namun perasaan khawatir entah mengapa tiba-tiba muncul dari dalam dirinya.


Megan menatap lekat-lekat foto ibunya bersama ayahnya yang terlihat bahagia di dalam foto tersebut. Lalu Megan kembali menatap foto dirinya sendiri bersama ayah dan ibunya.


Perasaan Megan kembali sesak di dada melihat foto kedua orang tuanya. Megan tak ingin buang-buang waktu. Megan bergegas berlari keluar dari kamarnya untuk melihat kondisi ayahnya.


Dan kebetulan sekali kamarnya tidak terkunci, kemungkinan besar kepala pelayan yang membukanya saat memberikan kabar buruk tentang ayahnya.


Megan menuruni anak tangga begitu tergesa-gesa yang dilanda perasaan khawatir, panik bercampur menjadi satu. Bagaimana tidak, sosok orang tua yang dimilikinya satu-satunya tiba-tiba saja jatuh pingsan.


Seburuk-buruknya ayahnya tetap saja Megan menyayanginya. Walaupun Megan membencinya, namun rasa sayangnya kepada ayahnya jelas sekali tidak pernah hilang dari relung hatinya yang terdalam. Perkataan bisa saja berbohong namun hati tak akan pernah bisa berbohong.


Megan mendorong keras pintu kamar ayahnya lalu bergegas masuk.


"Hah hah..." deru nafas ngos-ngosan dan keringat bercucuran di keningnya. Megan berdiri di ambang pintu kamar melihat suasana kamar tersebut dimana sang ayah masih ditangani oleh dokter.


Megan lalu melangkah masuk hingga membuyarkan konsentrasi semua penghuni kamar dan segera mengalihkan pandangannya ke arahnya.


Ada sedikit perasaan lega tersirat di hatinya manakala melihat ayahnya sudah sadar dan tengah bersandar di kepala tempat tidur. Sedang dokter masih saja sibuk memeriksa kondisi ayahnya.


"Bagaimana keadaan suami saya dok?" tanya nyonya Ana yang masih saja tak tenang.


Megan segera mendekati tempat tidur lalu berdiri tidak jauh dari nyonya Ana.


"Tekanan darahnya sangat tinggi diatas batas normal dan gula darahnya ikut mempengaruhinya. Ini bisa saja berakibat stroke ringan jika terlambat ditangani. Gejala asam lambungnya kembali kambuh, kemungkinan besar tuan Anderson telat makan dan terlalu stress memikirkan sesuatu yang dapat mempengaruhi pikirannya" ucap dokter panjang lebar.


Nyonya Ana begitu syok mendengar penjelasan dari dokter, begitu halnya dengan Megan.


"Tolong jauhkan segala hal yang membuatnya stress berlebihan dan ini resep obatnya" ucap dokter tersebut dan nyonya Ana segera mengambil resep obat untuk ditebus.


"Terima kasih dok" ucap nyonya Ana dengan mata berkaca-kaca.


"Kalau begitu saya permisi dulu" pamit dokter tersebut.


"Biar saya antar ke depan dok" tawar nyonya Ana.


Dokter tersebut tersenyum ramah menanggapi ucapannya. Kemudian mereka berjalan bersama-sama keluar dari kamar tersebut.


Bukan tanpa sebab, nyonya Ana hanya ingin mendekatkan ayah dan anak itu. Karena sepertinya mereka butuh bicara berdua untuk meluruskan segala hal yang membuat hubungan ayah dan anak itu semakin renggang.


Megan menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca. Ini pertama kalinya dia melihat ayahnya terbaring lemah di atas tempat tidur.


"Megan" ucap tuan Anderson tersenyum dengan raut wajahnya tampak pucat.


"Daddy" ucap Megan yang berusaha menahan air matanya.


Tuan Anderson mengatakannya dengan tulus bahkan matanya ikut berkaca-kaca yang diselimuti perasaan haru.


Megan segera mendekat dan langsung berhambur memeluk ayahnya.


"Daddy, hiks... hiks...hiks."


Tangis Megan pecah di pelukan ayahnya. Tak pernah sedikitpun terbesit pikirannya untuk memeluk ayahnya, namun Megan tidak ingin terus mengedepankan egonya. Jujur dia menyayangi ayahnya.


Tuan Anderson ikut tersenyum yang diselimuti perasaan haru dan bahagia dengan air mata yang berhasil lolos membasahi wajahnya. Akhirnya putrinya datang menemuinya.


"Daddy......Hiks..hiks.... hiks... jangan sakit" ucap Megan dengan tangis semakin pecah.


Tuan Anderson hanya mengangguk sebagai jawabannya. Dan tidak menyangka bisa memeluk putrinya, sosok yang dirindukannya.


Tangis keduanya semakin terdengar di dalam kamar tersebut. Nyonya Ana hanya mampu berdiam diri di luar dan sama sekali tidak ingin menggangu momen mereka.


"Megan, Daddy minta maaf... selama ini... Daddy terus menyakitimu. Maaf nak, sungguh Daddy sangat menyesal" pinta tuan Anderson dengan tulus dan tidak ingin lagi kehilangan putrinya.


"Tidak Daddy, Megan yang harusnya minta maaf kepada Daddy. Megan sadar, semua yang Daddy lakukan hanya untuk kebaikan Megan..."


Megan melepaskan pelukannya lalu menatap wajah ayahnya yang juga dipenuhi air mata. Megan terisak sambil menghapus sisa air mata ayahnya yang membuat dadanya sesak.


Tuan Anderson selalu saja memancarkan senyuman lalu melakukan hal yang sama, menghapus sisa-sisa air mata putrinya.


"Megan sudah maafin Daddy. Jangan sakit, Daddy" pinta Megan dan kembali memeluk ayahnya. Ayahnya senantiasa membalas pelukannya dengan penuh kasih sayang seorang ayah.


"Terima kasih nak. Daddy tidak akan sakit lagi" ucapnya.


Cukup lama, ayah dan anak itu melepas rindu bersama. Dan momen tersebut merupakan momen langka bagi mereka.


🍁🍁🍁🍁🍁


Sementara di tempat lain.....


Terlihat sekelompok orang tengah berkumpul di markas besarnya. Tampak sosok lelaki paruh baya yang terlihat dominan di antara kelompok nya tengah bersantai di kursi kebesarannya.


Mereka adalah kelompok mafia Goper yang di pimpin oleh Robert, paman Kevin. Sebenarnya kelompok mafia tersebut di pimpin oleh Amar, kakak Kevin. Namun nasib naas menimpanya hingga Robert dengan liciknya mengambil alih kepemimpinan kelompok tersebut dari tangan Amar.


Yang harusnya kepemimpinan kelompok tersebut jatuh di tangan Kevin, namun Kevin dengan suka rela menolaknya keras. Hingga Robert semakin menggila untuk menghancurkannya, agar segala yang dimiliki Kevin jatuh ditangannya.


"Arrgghhh, sial, lagi anak bodoh itu menggagalkan rencanaku" ucapnya kesal sambil mengepalkan tangannya.


Tampak seluruh anak buahnya hanya diam mendengarkan ocehannya.


"Bonar, mana informasi yang kamu dapatkan akhir-akhir ini" tegas Robert dengan suara baritonnya dan tanpa menunggu lama Bonar segera menyerahkan amplop cokelat yang berisi informasi yang didapatkannya.


"Jelaskan bodoh, aku ingin mendengarnya langsung" kesal Robert dan kembali memukul kepala bawahannya.


"Begini tuan, menurut informasi yang saya dapatkan. Wanita mafia yang bekerja mengasuh anak tuan Kevin sedang diculik. Dan sesuai penyelidikan, rencana penculiknya di lakukan oleh ayahnya sendiri, tuan Anderson. Bukankah tuan Anderson pernah bersekutu dengan anda? Dan kini perusahaan Anderson digadang-gadang bangkrut" ucap Bonar panjang lebar.


"Ha ha ha, aku mendapatkan ide bagus. Sepertinya target utamaku adalah Anderson. Aku harus melenyapkan Anderson untuk mengadu domba antara anak bodoh itu dengan wanita mafia penghianat" ucap Robert dengan seringai licik diwajahnya.


"Kumpulkan anak buahmu untuk memporak-porandakan perusahaan Anderson. Jika mereka menangkap kalian, katakan saja bahwa Kevin lah yang menyuruh kalian, ha ha ha" akal bulus Robert kembali disiapkan.


Bersambung......


Jangan lupa, like, love komen dan vote ya teman-teman 🙏🙏🙏


Terima kasih 🙏🙏🙏