
"Kita sudah sampai nona" ucap Edward yang membuyarkan lamunan nona mudanya.
"Ah iya"ucap Megan lalu mengalihkan pandangannya melihat suasana luar.
Edward membukakan pintu untuknya, kemudian Megan bergegas turun dari mobil.
Tampak hotel bintang lima berdiri kokoh di hadapannya yang menjadi tujuan mereka.
"Mari nona, beberapa rekan bisnis tuan sudah menunggu di dalam hotel" ucap Edward.
"Emm baik" pinta Megan dengan berat hati menginjakkan kakinya di hotel tersebut.
Semangat, aku pasti bisa. Walaupun begitu berat, ini sudah menjadi keputusanku.
Megan hanya mampu membatin menyemangati dirinya sendiri berjalan di lobi hotel.
"Saya sudah memesan kamar hotel untuk anda beristirahat. Melalui layar monitor anda bisa memantau kondisi di ruang VIP hotel dimana saya dan para klien melakukan transaksi. Jika anda setuju dengan penawaran salah satu dari mereka, maka segera hubungi saya nona" ucap Edward panjang lebar.
"Baik, jangan beritahu masalah ini ke Daddy. Tolong rahasiakan darinya" ucap Megan memelas.
"Tentu nona" ucap Edward sambil mengangguk.
Megan dan sekretaris ayahnya terlebih dahulu menghampiri staff resepsionis hotel untuk mengambil kunci kamar. Setelah itu mereka berpisah, Megan di antar ke kamar hotel, sedang Edward menghampiri para klien di ruang VIP hotel tersebut.
Harap-harap cemas, Megan masuk ke dalam kamar hotel. Tak ada yang mampu menghentikannya kali ini. Kevin yang selalu dia andalkan seolah menjauhinya tanpa memberikan respon baik untuknya.
Megan begitu berharap Kevin bisa membantu perusahaan ayahnya, namun tidak ada tanda-tanda dari Kevin hingga saat ini akan membantunya.
Sehingga Megan tak ingin ambil pusing, dia cukup tahu diri dan pastinya Kevin memiliki privasi sendiri. Semoga saja keputusannya kali ini tak memberikan bumerang baginya dan keluarganya.
Megan bergerak memeriksa kamar hotel dengan teliti. Hingga mendapatkan kamera kecil dan alat penyadap di kamar tersebut. Megan begitu yakin bahwa alat tersebut sengaja disiapkan oleh sekretaris ayahnya.
Megan lalu menyalakan laptop dan LCD yang semua itu sudah disiapkan oleh sekretaris ayahnya.
Megan duduk di pinggir tempat tidur untuk menyaksikan suasana ruang VIP. Dari layar monitor Megan melihat dengan jelas suasana ruangan tersebut.
Tampak foto dirinya berukuran besar terpajang di sana yang akan dijadikan sebagai alat lelang untuk diperjualbelikan. Teknik tersebut dianggap cara praktis demi menyelamatkan perusahaan ayahnya.
Para bos besar dari berbagai perusahaan ternama duduk berjejer rapi di sana dengan penuh semangat untuk mengikuti acara lelang kali ini, salah satunya tuan Ziko yang turut hadir di sana dan begitu antusias diantara mereka.
Sedang Edward bertugas sebagai MC selama kegiatan berlangsung. Edward mulai membuka acara lelang tersebut dengan berat hati, sungguh dia pun sangat menyayangkan nasib nona mudanya yang rela melakukan hal keji demi membantu ayahnya.
Semua orang mulai berlomba-lomba memberikan penawaran pertama dengan nominal angka cukup fantastis.
"Dua ratus juta!"
Penawaran pertama yang dilakukan oleh orang-orang di dalam ruangan tersebut.
Edward mulai memantau jalannya proses lelang tersebut. Semua orang mulai menaikkan nominal angka penawaran mereka.
Sementara di dalam kamar hotel, Megan memijit keningnya melihat layar monitor dimana orang-orang mulai berlomba-lomba membandrol harga untuk dirinya.
"Aku lebih hina daripada wanita malam diluaran sana. Sungguh dunia ini begitu kejam " gumam Megan yang tengah memikirkan nasibnya sendiri.
"Aku ingin semuanya segera berakhir dan melenyapkan orang-orang yang sudah membuat Daddy jatuh bangkrut. Aku juga ingin pergi sejauh mungkin dari kehidupan Kevin. Sungguh, aku begitu malu muncul di hadapannya" pinta Megan lalu mengusap wajahnya.
Megan masih sibuk melihat jalannya acara lewat layar monitor.
"1M"
Bandrol nominal angkanya sudah mencapai milyaran selama acara lelang tersebut berlangsung.
Edward menggeleng tidak setuju dan belum sesuai dengan target yang mereka sepakati bersama nona mudanya.
"Masih ada diatasnya" teriak Edward menyemangati mereka.
"2M"
Teriak lelaki paruh baya berkacamata yang duduk di sebelah meja tuan Ziko.
"5M"
Tuan Ziko mulai buka suara selama acara lelang tersebut berlangsung.
"7M"ucap kembali lelaki paruh baya berkacamata.
Tuan Ziko mengepalkan tangannya dan kembali buka suara.
"10M" ucapnya yang tidak ingin kalah dari saingan bisnisnya.
Tuan Ziko tersenyum kemenangan karena tidak ada lagi yang mematok harga tinggi diatasnya.
Akulah yang mendapatkan putri Anderson.
Semua orang tampak diam dan tak ada lagi yang mematok harga tinggi.
Sementara Megan mondar-mandir di dalam kamar dan terus berdoa agar masih ada orang yang mematok harga tinggi untuknya. Megan tidak ingin tuan Ziko memenangkan dirinya.
"20M" ucap seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut.
Semua orang mengalihkan pandangannya melihat seseorang yang baru saja masuk ke ruang VIP.
"Bara!"
Megan membulatkan matanya melihat kedatangan Bara di ruangan tersebut.
"Untuk apa lagi dia datang di acara itu, padahal jelas-jelas dia sudah mengecewakan Daddy" kesal Megan sambil mengepalkan tangannya.
Sedangkan tuan Ziko berdengus kesal lalu segera meneguk minumannya hingga tandas.
"Sial, aku tidak ingin kalah dari anak ingusan ini. Pokoknya aku yang harus mendapatkan putri Anderson. Sepertinya seluruh harta milikku harus di pertaruhkan di ruangan ini" ucap tuan Ziko sambil mencengkram gelas minumannya.
"25 M beserta perusahaan milikku. Sehingga bisa ditafsir angka mencapai 500 Milyar. Dan aku rasa tidak ada lagi yang membanderol harga tinggi"ucap tuan Ziko menyeringai.
Bara menjadi bungkam dengan penawaran tuan Ziko. Begitu halnya Edward yang mulai berpikir sejenak.
"Tak ada lagi yang mampu membandrol harga tinggi diatasku. Ayo Edward cepat putuskan" ucap tuan Ziko berbangga diri dan sudah tidak sabaran mendapatkan Megan, wanita yang diincarnya.
Sepertinya sudah tidak ada lagi, penawaran tuan Ziko yang tertinggi. Batin Edward.
"Kita tunggu beberapa menit lagi, jika sudah tak ada lagi, maka saya akan mengetok palu dan tuan Ziko lah yang berhak mendapatkan nona Megan Cooper Anderson" ucap Edward.
Semua orang mulai bertepuk tangan dengan heboh sedangkan tuan Ziko terus berbangga diri dengan angkuhnya di tempat duduknya.
Edward segera menghubungi nona mudanya untuk saling sepakat. Dan Megan sendiri hanya mampu mengikuti keputusan yang sudah ada didepan matanya.
Edward lalu menghitung mundur untuk mengakhiri acara lelang tersebut.
"10.....9......8.......7.......6......."
Semua orang bersama-sama menghitung mundur, sedang tuan Ziko sudah bangkit dari duduknya sambil melambaikan tangannya dengan penuh kemenangan.
"Tunggu sebentar, aku Tono utusan dari tuan Smith. Mohon maaf aku terlambat datang. Bayangkan saja aku datang dari negara Z demi menghadiri acara...." ucap lelaki paruh baya berambut putih bernama Tono berjalan tergopoh-gopoh yang baru saja datang.
"Siapa lagi ini, suruh saja dia pergi" potong tuan Ziko dengan kesalnya.
Bara tersenyum melihat kekesalan tuan Ziko.
"Maaf tuan-tuan, aku terjebak kemacetan di kota ini hingga terlambat datang menghadiri acara lelang ini. " ucapnya ramah lalu berjalan menghampiri Edward.
Edward menghentikan aksinya dan menghampiri orang tersebut.
"Silahkan di ambil, tuan Smith sudah menulis nominal angka di dalam amplop ini" ucapnya tersenyum.
Edward segera membuka amplop tersebut dan terlonjat kaget melihat nominal angka yang tertera di sana.
"2 Triliun!!!... acara lelang ini di menangkan oleh tuaaaaannnn......Smith" teriak Edward dengan hebohnya.
Megan mengusap wajahnya dengan kasar sungguh dirinya seperti barang yang di jadikan alat lelang dan sekarang dirinya sudah jatuh di tangan orang lain.
Sungguh malang nasibku, berakhir di jadikan alat lelang.
Bersambung.....
Terima kasih atas dukungannya berupa, like, love komen dan vote kalian 🙏🙏🙏