Hot Daddy And Miss Mafia

Hot Daddy And Miss Mafia
HDMM 34



Terlihat wanita berambut blonde dengan warna rambut kecoklatan mulai mondar-mandir di halaman perusahaan KBS Group. Kaca mata hitam bertengger di hidung mancungnya dan sepertinya digunakan sebagai alat penyamarannya.


Saat melihat seseorang yang sedari tadi ia tunggu kedatangannya wanita tersebut berlari menyusulnya.


"Hei tunggu sebentar, aku ingin berbicara denganmu" teriaknya pada lelaki jangkung yang terus melangkah ke lobi perusahaan.


Seketika lelaki jangkung berbalik badan kearahnya.


"Kamu siapa?" tanyanya dengan sorot mata tajam.


"Sekretaris tuan Kevin ya" ucapnya dengan tebakannya dan terlihat sok akrab.


"Ya, ada urusan apa mencariku, terus kamu siapa?" ucap lelaki jangkung dengan sorot mata tajam yang tidak salah lagi adalah Tio, sekretaris Kevin.


"Hehehe boleh bicara sebentar. Setelah itu aku akan memperkenalkan diri" ucap wanita tersebut dengan ramahnya.


"Aku tak memiliki banyak waktu untuk meladeni orang asing sepertimu" tegas Tio lalu kembali melangkahkan kakinya.


"Tunggu dulu" teriaknya kembali sambil menyusul Tio.


Tio terlihat begitu acuh dan sama sekali tidak ingin meladeni wanita asing tersebut.


"Tunggu sebentar!" lagi-lagi wanita tersebut berteriak untuk menghentikan Tio.


Tio dengan terpaksa menghentikan langkahnya lalu berbalik badan menatap tajam wanita tersebut.


"Kamu tidak ingin mendapatkan informasi dariku tuan" ucapnya tersenyum sambil menyilangkan kedua tangannya.


Tio begitu kesal kepada wanita asing tersebut. Kemudian Tio melangkah mendekatinya.


"Jangan berharap aku mempercayai ucapanmu nona" ucap Tio dingin sambil mengepalkan tangannya.


Tio kembali berbalik badan lalu melenggang pergi dengan langkah kaki lebar menjauhi wanita asing tersebut. Seketika wanita asing berambut blonde kembali mengejarnya sambil berlari mengikuti langkah kaki lebar dari seorang Tio.


"Hei, pembicaraan kita belum selesai" teriaknya dan segera berlari kencang mengejar Tio dan tangannya tak sengaja menarik celana Tio hingga......


Sreeekhhhh


Brukkkk


"Hah"


Wanita tersebut terjatuh dan celana panjang Tio melorot hingga memperlihatkan k*lor **********. Wanita tersebut mendongak ke atas dan begitu terkejutnya melihat perbuatannya. Sementara karyawan yang menyaksikannya berteriak heboh dan histeris.


"Si*lan!!! apa yang kamu lakukan!" bentak Tio dan segera memperbaiki celananya.


Wanita tersebut ikut membantunya namun Tio segera mendorongnya hingga terjatuh kembali.


"Maafkan aku!" ucapnya memohon sambil mengatupkan kedua tangannya.


Tio begitu kesal sambil mengeratkan gesper celananya agar tak melorot lagi.


"Aku sungguh minta maaf" ucapnya kembali sambil membungkukkan badannya berulang kali.


"Kamu kira meminta maaf sudah cukup hah!" kesal Tio dengan sorot mata tajam.


"Sekali lagi aku minta maaf tuan sekretaris" ucapnya sambil membungkukkan badannya.


Tio segera menarik tangannya untuk mengikuti langkahnya. Sorot mata karyawan lainnya terus saja mengarah kepada Tio bersama seorang wanita. Sedangkan Tio begitu acuh yang sedang diselimuti amarah berapi-api plus malu karena citranya menjadi buruk di depan karyawan.


Beda halnya dengan karyawan wanita mulai berbisik-bisik yang baru saja mendapatkan bahan gosip terbaru mereka.


Brukkkk


Tio mendorong wanita asing tersebut masuk ke dalam lift. Lalu lift mulai bergerak naik ke lantai yang di tuju.


"Aku Arin, asisten pribadi yang super komplit miss Megan"ucap wanita tersebut buka suara sambil bersandar di dinding lift melihat Tio yang berdiri di depannya.


Tio tak menggubris ucapannya yang masih saja kesal setengah mati kepada wanita tersebut.


"Untuk kejadian tadi, aku benar-benar tak sengaja. Dan itu juga karena kesalahanmu sendiri yang tak mau mendengar, jadi jangan terus menyalahkanku" oceh Arin yang mulai mengeluarkan sifat aslinya.


Pintu lift terbuka, Tio bergegas keluar dari lift disusul Arin di belakangnya.


"Penjaga, lempar wanita ini keluar dari perusahaan dan jangan pernah membiarkan nya berkeliaran di sekitar perusahaan. Satu lagi, ingat baik-baik wajahnya, agar kalian bisa mengenalinya sewaktu-waktu, karena dia orang yang harus dihindari" teriak Tio kepada ketiga penjaga yang sedang berjaga-jaga di lantai tertinggi.


"Hei, kalian mau apa" ucap Arin begitu waspada melihat gelagat para penjaga.


"Dengarkan dulu informasi ku. Seseorang sedang mengincar Miss Megan dan juga anak tuan Kevin. Jadi berhati-hatilah" ucap Arin cepat yang terdengar ceplas-ceplos.


Tio begitu acuh dan sama sekali tak ingin mendengar ucapan wanita tersebut.


Lalu para penjaga menyeret paksa Arin keluar dari perusahaan KBS Group. Sementara Tio berjalan menuju ruangannya untuk menunggu kedatangan atasannya.


"Tunggu pembalasanku tuan sekretaris"teriak Arin yang diseret paksa oleh para penjaga.


Apes banget aku, padahal aku hanya ingin memberikan informasi penting ini. Batin Arin.


Sementara Tio hanya melenggang pergi meninggalkannya.


"Mengapa wajahmu ditekuk dan terlihat kesal, apa terjadi sesuatu?" tanya Kevin penuh selidik yang mampu mengamati raut wajah orang kepercayaannya.


"Tak ada yang terjadi tuan. Silahkan masuk" ucap Tio mempersilahkan atasannya masuk ke dalam ruangan.


"Oh iya, apa kamu sudah membooking restoran yang ku maksud?" tanya Kevin.


"Sudah tuan, sesuai yang anda minta. Semoga makan malam spesial anda bersama nona Megan berjalan lancar malam ini" ucap Tio sambil menundukkan pandangannya.


"Hemm, aku sudah tak sabar menunggu nanti malam. Ku harap istriku menyukai kejutan spesialnya" ucap Kevin tersenyum yang sudah tidak sabar menunggu waktu berganti malam.


"Kamu boleh keluar" ucap Kevin lalu berjalan mendekati kursi kebesarannya.


"Baik tuan. Saya turut bahagia atas keputusan anda" ucap Tio lalu berjalan menuju pintu keluar. Tio menarik handle pintu untuk menutup pintu ruangan atasannya. Lalu mulai melanjutkan pekerjaannya.


Sementara Kevin segera menghubungi seseorang untuk mendengar informasi terbaru perihal orang yang diselidikinya.


Percakapan mereka melalui sambungan telepon.


"Aku suka gaya bermainmu. Sangat halus dan cukup licik" ucap Kevin menyeringai.


"Tentu saja bro, bukankah orang-orang yang mengkhianati kak Amar harus mendapatkan bayaran setimpal. Aku ingin melihat seberapa serakahnya lelaki tua itu mengorbankan putrinya" ucap seseorang di ujung telepon.


"Hemm, lanjutkan. Aku belum bisa memaafkan orang-orang yang sudah berkhianat kepada kakak. Kita lihat saja seberapa hebatnya dan menderitanya dia saat kehilangan sesuatu yang berharganya. Cepat buat perusahaannya sehancur-hancurnya" ucap Kevin sambil mengepalkan tangannya.


"Tenang bro, sepertinya dendam mu semakin bertambah saat dia merendahkan mu didepan umum" ucap seseorang di ujung telepon sambil tergelak tawa.


"Betul sekali, kesombongannya harus dijatuhkan. Aku tak sabar melakukannya, terus desak lelaki serakah itu untuk menyerahkan putrinya" ucap Kevin dengan seringai licik diwajahnya.


"Sungguh kelicikanmu patuh diajukan jempol. Kamu bahkan sudah memiliki putrinya mengapa harus kembali berusaha memperebutkannya. Asal kamu tahu, aku sudah bosan bermain kucing-kucingan denganmu dan juga lelaki tua itu" ucapnya panjang lebar.


"Aku menyukai putrinya dan tak ingin kehilangannya. Maka dari itu, aku harus menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkannya termasuk memanipulasi keadaan" ucap Kevin dengan entengnya.


"Apa? kamu menyukai putrinya. Apa aku tidak salah dengar?" tanyanya dengan begitu antusiasnya.


"Ya, aku sangat menyukainya" jawab Kevin dengan jujurnya.


"Wah sepertinya aku harus berterima kasih kepadanya. Sosok lelaki dingin dan tak pernah jatuh cinta ternyata bisa menyukai seorang wanita. Wanita itu benar-benar hebat dan luar biasa. Jujur aku akui dia memang cantik, aku bahkan terpesona saat melihatnya di pesta."


"Aku tidak suka jika kamu memuji wanitaku atau posisimu aku lengserkan!"


Kevin mengatakannya dengan penekanan dan terdengar mengancam.


"Jangan bro. Aku lagi ngumpulin modal untuk nikah. Aku sudah capek terus menjauhi wanita pujaan hatiku demi mengikuti rencana licikmu."


Ternyata sifat aslimu posesif juga, begini nih kalau terlambat bucin. Batinnya.


"Berhati-hatilah bro, lelaki tua itu sedang menyusun rencana untuk menculik wanitamu."


"Jangan khawatir, aku terus mewaspadainya."


Kevin lalu mematikan sambungan teleponnya secara sepihak. Kevin menggenggam erat ponselnya sambil menghela nafas panjang.


"Sebentar lagi bom waktunya akan meledak" gumam Kevin dengan seringai licik diwajahnya.


Kevin lalu melanjutkan pekerjaannya, menandatangani berkas penting dan memeriksa seluruh laporan pembangunan resort hotel yang akan berjalan dalam waktu dekat.


Bersambung......


Jangan lupa like love komen dan vote ya teman-teman 🙏🙏🙏