
Tio mengumpulkan nama-nama karyawan yang terlibat dalam proyek pembangunan resort hotel yang digadang-gadang melakukan penyelewengan dana dengan jumlah fantastis.
Dan juga diduga dalang utamanya adalah Robert, paman Kevin. Taktik mereka sungguh halus dan begitu cerdik bekerja sama dengan Robert untuk menghancurkan Kevin Abraham Smith.
Sekarang mereka semua di kumpulkan di ruang meeting. Terlihat delapan karyawan tampak was-was dan sedikit panik karena tiba-tiba saja dikumpulkan di ruang meeting.
Tak berselang kemudian, muncullah Kevin di ruangan tersebut. Semua karyawan menundukkan pandangannya dan tak berani bersitatap dengan atasannya.
Lalu Kevin melangkah mendekati kursi kebesarannya untuk melakukan sidang dadakan.
Tio tersenyum tipis melihat tatapan dingin atasannya layaknya akan melahap habis seluruh karyawan yang berada di ruangan tersebut.
Saat bersitatap dengan atasannya Tio mengangguk hormat dan segera menjalankan perintah atasannya.
"Baiklah, untuk kesempatan kali ini. Saya ingin mengajukan pertanyaan kepada rekan-rekan sekalian. Siapakah yang bersedia ditempatkan pada anak cabang perusahaan KBS Group?" tanya Tio menyeringai yang sedang berbasa-basi.
Kedelapan karyawan tersebut saling pandang untuk meminta jawaban ke sesama rekannya. Hingga akhirnya kedelapan karyawan tersebut tak ada yang berani menjawab seorang pun. Bahkan hanya saling diam-diaman.
"Mengapa tak ada yang buka suara" kesal Kevin yang mulai buka suara melihat gelagat karyawannya.
"Kami sudah nyaman disini tuan Kevin" ucap salah satu dari mereka.
"Benar tuan, disini tempat kami untuk berkarya dengan profesi yang kami miliki" timpal lainnya.
"Kami akan selalu setia mengabdi demi berjayanya perusahaan KBS Group"ucap mereka kompak.
Kevin tersenyum sinis sambil mengepalkan tangannya mendengar ucapan mereka.
"Aku rasa sudah waktunya untuk para pengkhianat seperti kalian di lempar keluar perusahaan" ucap Kevin dingin dengan sorot mata tajam.
"Ampun tuan, jangan lakukan itu. Kami akan terus mengabdi kepada perusahaan tuan" ucap salah satu dari mereka dan segera memohon pengampunan kepada Kevin.
Rekan lainnya ikut melakukan hal yang sama memohon-mohon di hadapan Kevin demi mendapatkan pengampunan dari sang penguasa KBS Group.
Kevin hanya diam sambil bersandar di kursi kebesarannya. Kedelapan karyawan tersebut bergegas bersimpuh di hadapan atasannya sebagai jalan satu-satunya untuk tetap bertahan di perusahaan KBS Group.
"Sudah terlambat, kalian menyelewengkan dana perusahaan demi kepentingan masing-masing. Dan sebagai akibatnya, kalian semua diberhentikan tak layak dari perusahaan KBS Group tanpa menerima pesangon sepeserpun" tegas Tio yang sudah mendapatkan arahan dari atasannya.
Kedelapan karyawan tersebut meraung-raung di bawah kaki Kevin demi mendapatkan belas kasihan. Namun seorang Kevin tak akan pernah menarik keputusannya kembali. Sekali berkhianat tak ada ampun bagi mereka.
Kevin bangkit dari duduknya dan tak lupa merapikan jasnya. Lalu beberapa bodyguardnya masuk ke dalam ruangan untuk membereskan semua penghianat tersebut.
Kevin keluar dari ruangan tersebut diikuti oleh orang kepercayaannya. Langkahnya terhenti saat mendengar teriakkan keras dari seseorang di belakangnya.
Tio segera berbalik badan untuk memastikan dengan jelas siapa yang sudah berani-berani memanggil nama atasannya. Hingga raut wajah Tio berubah kesal melihat orang tersebut.
"Tuan Kevin!" teriaknya dengan deru nafas ngos-ngosan yang masih saja berlari.
Kevin lalu berbalik badan untuk melihat siapa gerangan yang memanggilnya.
"Hei! ada apa lagi mencari tuan Kevin. Jangan sampai kamu kembali berulah" kesal Tio sambil menghalangi jalan orang tersebut.
"Aku tak memiliki urusan denganmu" ucapnya sambil berkacak pinggang.
"Siapa wanita ini, Tio?" tanya Kevin.
"He he he...halo tuan Kevin. Aku Arin, asisten pribadi Miss Megan" jawabnya yang tidak lain adalah Arin, asisten pribadi Megan.
"Dia wanita pembuat onar tuan, jangan dekat-dekat"ucap Tio lalu menarik tangan Arin untuk segera pergi.
"Apaan sih kamu" kesal Arin sambil menghempaskan tangan Tio. Lalu Arin kembali mendorong tubuh Tio dengan kesalnya.
Kevin mengerutkan keningnya melihat tingkah mereka.
"Ya sudah, urus saja urusan kalian" ucap Kevin yang tak ingin ikut campur.
"Tunggu tuan, Miss Megan nitip paket ini untuk tuan "ucap Arin dan segera menyodorkan paket untuk Kevin.
Kevin segera mengambil paket tersebut. Sedangkan Tio melirik tajam Arin dengan raut wajah ditekuk.
"Katakan padanya, aku tidak datang menemuinya malam ini, kuharap dia akan tetap bersabar menungguku sampai aku benar-benar bisa membawanya pulang" ucap Kevin.
"Baik tuan Kevin, kalau begitu aku permisi, bye" ucap Arin dengan ramahnya lalu mengerucutkan bibirnya menatap sinis Tio.
"Apa hah!" kesal Tio dengan tatapan Arin yang sangat menyebalkan.
"Jangan galak-galak, nanti kamu cepat tua, ha ha ha..." sindir Arin diiringi gelak tawa lalu melenggang pergi.
"Si*lan!" Tio begitu kesal sambil mengepalkan tangannya.
Setiap kali bertemu dengan Arin, membuatnya semakin kesal saja, dikarenakan pertemuan pertama keduanya tak mengenakan hati.
Sementara Kevin bergegas ke ruangannya untuk membuka paket dari Megan. Kevin masuk ke ruangannya lalu duduk di kursi kebesarannya untuk membuka paketnya.
"Isinya hanya surat" gumam Kevin dan segera membaca surat tersebut.
Mungkin kamu berpikir ini terlalu jadul atau kekanakan dengan memberimu paket seperti ini.
Emm Aku berinisiatif untuk menjual kediamanku, bisakah kamu membelinya?
Aku juga ingin meminjam uang darimu, mengingat bayaran dari kontrak kerjasama kita belum terbayarkan dengan lunas, aku rasa cukup itu saja sebagai jaminannya.
Baiklah, akhir kata aku hanya ingin mengatakan tolong bantu aku, karena bantuanmu begitu berharga bagiku.
...Megan...
...*****...
Kevin meletakkan kembali surat tersebut di tempatnya semula.
"Ada-ada saja, aku hanya memintamu bersabar, namun tekadmu sudah bulat" ucap Kevin tersenyum.
Dugaannya benar bahwa Megan akan meminta bantuannya.
πππππ
Malam harinya....
Megan belum juga tidur, sementara waktu sudah larut malam. Ucapan asisten pribadinya yang menyampaikan pesan dari Kevin terus terngiang-ngiang di kepalanya.
'Aku tidak datang menemuinya malam ini, kuharap dia akan tetap bersabar menungguku sampai aku benar-benar bisa membawanya pulang.'
"Huff, aku terus kepikiran ucapannya. Apa aku perlu menyelinap keluar demi bisa menemuinya! Arghh... tidak.... tidak, dia bahkan sudah berpesan kepadaku" gumam Megan sambil memukul-mukul guling nya.
Megan bergegas turun dari tempat tidur lalu berjalan keluar dari kamarnya. Sepertinya dia perlu menenangkan pikirannya dengan menghirup udara segar di luar.
Megan menuruni anak tangga menuju lantai dasar. Samar-samar Megan mendengar suara tangis seseorang di bawah sana. Megan mempercepat langkahnya lalu mengedarkan pandangannya.
Pintu ruang kerja ayahnya terbuka, Megan segera berjalan mendekat hingga suara tangis yang tidak begitu asing baginya semakin jelas.
Dada Megan terasa sesak melihat ayahnya duduk di kursi tengah menangis tersedu-sedu. Megan segera menghampirinya lalu berhambur memeluknya.
"Kita bisa lalui bersama Daddy" ucap Megan yang tak sanggup melihat ayahnya rapuh.
"Terima kasih nak sudah menguatkan daddy. Tapi, Daddy tak sanggup meninggalkan mansion ini. Banyak kenangan terindah yang daddy lalui bersama mommy mu" ucap tuan Anderson sambil menghapus air matanya yang tak ingin terlihat rapuh di hadapan putrinya.
"Percayakan kepada Megan, semuanya akan baik-baik saja" pinta Megan yakin.
Ayah dan anak itu hanya mampu saling berpelukan untuk berusaha saling menguatkan.
Setelah itu, Megan membantu ayahnya ke kamar. Kemudian Megan dengan hati-hati membaringkan ayahnya di tempat tidur lalu menarik selimut untuk menyelimuti tubuh ayahnya. Sedang sang istri memilih tertidur di kamar tamu.
"Daddy, beristirahatlah" ucap Megan tersenyum.
Ayahnya hanya mengangguk sebagai jawabannya dan mulai memejamkan matanya. Megan melirik ponsel ayahnya yang tergeletak di lantai.
Megan mengambilnya dan tak sengaja melihat deretan pesan singkat di ponsel tersebut. Dengan terpaksa Megan membalas semua pesan tersebut dengan berat hati.
Kurasa hanya ini jalan yang terbaik.
ππππ
Keesokan harinya....
Megan terlihat bersiap di dalam kamarnya. Gaun merah dan cukup seksi melekat sempurna di tubuhnya. Riasan wajahnya cukup natural namun tetap saja membuatnya menawan.
Sementara di bawah sana, Edward sudah menunggunya di ruang tamu.
Megan bergegas turun ke bawah untuk menemui Edward, sekretaris ayahnya.
"Aku sudah siap" ucap Megan tersenyum.
"Mari nona"ucap Edward.
Megan berjalan mendahuluinya lalu Edward mengekor di belakangnya.
Megan duduk termenung di dalam mobil yang melaju kencang, entah kemana arah tujuannya saat ini.
Maafkan aku Kevin, aku harus melakukan cara keji demi membantu Daddy ku.
Bersambung....
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh....
Author mau ucapin Selamat hari raya Idul Adha 1443 Hijriah 2022 Masehi, Mohon maaf lahir dan batinππ€
Jangan lupa, like, love, komen dan vote ya teman-teman πππ