Heaven Is Just An Illusion

Heaven Is Just An Illusion
Balikan



"Makasih banyak Sheyla atas doanya." Ucap Riki sambil senyum -senyum sendiri melihat ekspresi sahabatnya yaitu Justin yang wajahnya memerah.


Justin hanya terdiam tidak menjawab apapun dan hanya bisa melihat Sheyla yang berdiri di sampingnya.


Sudah lama merayakan pesta para tamu undangan sudah pulang yang tinggal hanya Maya dan Sheyla.


"Rik, gue pamit pulang soalnya gue udah ngantuk." Ucap Maya sambil mengambil hp nya dari meja.


"Iya May, hati-hati di jalan gue sangat berterima kasih sama loh karena sudah mau datang di acara ulang tahun gue." Ucap Riki dengan rasa bahagia.


Maya keluar dari rumah besar Riki dan menaiki sebuah taksi yang menunggunya sejak tadi.


Di tempat lain...


"Gue juga pulang dulu yah, soalnya udah larut malam apalagi besok sekolah." Ucap Sheyla kepada Justin dan Riki.


"Gue antar aja yah Shel, soalnya udah larut malam takut nanti terjadi apa-apa di jalan apalagi kamu cewek." Ucap Justin meyakinkan Sheyla.


Riki yang melihat perhatian Justin kepada Sheyla merasa bahagia karena Justin juga sangat menyayangi Sheyla tapi gengsi untuk mengungkapkannya.


"Gue bisa sendiri kok, gue sudah biasa sendiri lagian ini belum terlalu larut.


"Please, gue yang antar yah takut nanti terjadi apa-apa." Bujuk Justin yang pada akhirnya Sheyla luluh dan mendengarkan perkataan dari Justin.


Selama berada di mobil Justin dan Sheyla hanya diam yang terdengar hanya suara mobil yang lalu lalang.


Tiba di rumah Sheyla dengan langkah kaki Sheyla turun dari mobil tersebut lalu Justin kembali mengendarai mobil dalam hitungan detik Justin sudah menghilang dari hadapan Sheyla.


"Gimana Rik, ulang tahun loh yang kali ini menyenangkan bukan karena semua yang kita undang datang."


"Gue juga sangat berterima kasih sama loh tanpa sepengetahuan gue Sheyla datang ke hari ulang tahun loh dan di situ juga gue bisa dekat lagi dengan Sheyla." Ucap Justin dengan senang.


"Sudahlah Justin santai saja gue juga mendoakan yang terbaik buat loh. Btw, nggak ada niat buat balikan lagi sama Sheyla?" tanya Riki dengan santainya.


"Gue juga pikirnya begitu tapi mau gimana lagi gue rasa sekarang Sheyla sudah punya pengganti gue meskipun gue masih mengharapkan Sheyla sekarang."


"Gue akan bantu loh karena gue yakin Sheyla pasti juga masih mengharapkan loh gue lihat-lihat Sheyla memang egois dan loh juga keras kepala itu yang menyebabkan hubungan kalian berdua berantakan." Perjelas Riki merasa sudah berpengalaman padahal masih jomblo.


"Gue nggak yakin dengan perkataan loh tapi apa salahnya mencoba. Btw gue istirahat duluan yah gue ngantuk capek banget hari ini besok juga gue mau kerja ke bengkel." Ucap Justin lalu meninggalkan Riki sendirian.


Keesokan harinya...


Di sekolah seperti biasanya para siswa membersihkan pekarangan sekolah.


"Haha, dugaan gue benar siapa yang mutusin dia juga yang akan gamon." Ledek Riki lagi.


"Gue mau Sheyla Rik, meskipun hubungannya toxic tapi gue susah ngelupain dia." Justin curhat dengan apa yang dialaminya kepada Riki.


"Saran gue nih, ajak si Raya ketemuan sama si Sheyla nah di sana loh jelasin semua ke Sheyla siapa tahu ada muzijat tiba-tiba." Ucap Riki sambil melemparkan senyumnya kepada Justin.


"Gue ragu Rik, loh tahu sendiri Sheyla bukan cewek yang gampang diambil hatinya sekarang baik besoknya kayak nenek siam." Ucap Justin sambil memegang dahinya.


Saat siang hari sepulang sekolah Justin dan Riki berencana untuk melanjutkan misi mereka berdua.


Saat Sheyla bertemu dengan Justin tatapan yang diberikan Sheyla biasa-biasa saja.


Sekarang saatnya bagi Justin untuk mengungkapkan perasaannya.


"Sheyla, maaf kalau gue mengganggu waktumu ada hal penting yang harus kukatakan padamu."


"Katakan saja aku akan mendengarkannya dan tidak perlu khawatir dengan waktuku."


"Gue, gu, gue masih suka sama loh dan gue minta pendapat dari loh mau nggak balikan lagi dengan gue." Tanya Justin dengan gugup yang membuat sahabatnya yaitu Riki tertawa mendengarkan tata bahasa sahabatnya yang gugup.


"Maaf, jika selama ini ada banyak hal kontra yang kita lalui tapi bisakah kita mengulanginya lagi?" tanya Justin lagi dengan penuh harapan.


"Gue masih ragu lagian gue juga heran apa yang ada di pikiranmu dulu yang memutuskan hubungan adalah loh bukan gue."


"Lalu mengapa sekarang dengan tiba-tiba ada ungkapan darimu yang mengajakku balikan belum puas untuk membuatku terluka?" tanya Sheyla dengan nada meninggi.


"Justru itu gue minta balikan sama loh karena gue mau menebus kesalahan gue di masa lalu." Jawab Justin dengan penuh harapan.


Setengah jam berdiri dan berpikir entah mengapa pikiran dan hari Sheyla berlawanan dan tidak bisa diajak kompromi.


"Gue mohon Sheyla jangan tolak permintaan yang kukatakan padamu." Pertegas Justin sambil memegang tangan Sheyla.


"Hm, gue mau balikan sama loh tapi dengan satu syarat." Ucap Sheyla dengan ragu jika keputusan yang diambilnya akan kembali membuat dirinya terjatuh ke lubang yang sama.


"Apa syaratnya?" tanya Justin dengan serius.


"Gue nggak mau dipaksa untuk hubungan yang alay lagian loh tahu sendiri gue paling eilfill dengan yang namanya lebay. Keputusan ada di tangan loh mau pilih yang mana?" ucap Sheyla berharap Justin menarik permintaannya untuk balikan.


"Baiklah gue nggak akan maksa loh buat alay dan itu juga hak loh." Btw kita sekarang resmi balikan?" perjelas Justin lagi.


"Iya," jawab Sheyla dengan ketus tetapi Justin sudah terbiasa dengan sikap Sheyla yang jutek dan egois.