Heaven Is Just An Illusion

Heaven Is Just An Illusion
Tidur Satu Kamar



Malam yang panjang membuat pikiran Justin semakin kacau dan sulit baginya untuk mengekspresikan perasaannya terhadap masalah yang dihadapinya.


"Gue mengantuk dan besok akan ada masalah lagi yang mungkin harus gue hadapi." Ucapan Justin selalu membuatnya malas untuk menikmati hidup.


Maya memasuki kamar Justin dan langsung tidur di samping Justin tanpa berpikir panjang.


Saat Justin tertidur tubuh Maya juga terbaring di sampingnya tanpa terasa waktu berputar.


Hingga keesokan harinya, saat matahari sudah terbit dengan kilaunya membuat mata perih menatapnya.


"Akh, berat banget sih apaan ini?" Justin emosi dengan wajah yang kesal menatap tangan seseorang yang tak lain adalah Maya.


Dengan malam yang panjang dan mimpi yang selalu datang kepada mereka berdua membuat suasana semakin hening.


"Hm, May geser sedikit bisa nggak sih berat banget tangan loh." Ucapan Justin tidak didengarkan oleh Maya dan masih tidak melepaskan tangannya dari tubuh Justin.


Emosi yang meluap membuat Justin langsung duduk dan menjauh dari Maya.


"Gue ngantuk tapi si bocah ini mengganggu tidur gue saat ini." Tatapan Justin selalu memandangi wajah wanita yang sedang tertidur pulas di hadapannya.


Dengan suara yang kencang membuat salah satu alis Justin naik.


Suara Maya saat tidur sangat ribut dan menggangu yang lain.


"Woi, kalau tidur bisa diam nggak? terganggu gue sudah tidurnya lasak selimut di tendangi bantal guling sampai jatuh ke lantai lagi." Justin bersungut-sungut sambil merapikan semua yang berantakan karena ulah Maya.


Plak...


Dengan sigap Justin langsung memukul nyamuk tersebut meskipun wajah Maya yang jadi taruhannya.


"Astaga sudah sekuat ini gue tabok wajahnya sampai memerah tapi dia tidak merasa terganggu sedikitpun." Justin menatap Maya heran karena seumur hidup belum pernah dia bertemu dengan orang seperti Maya.


"Kenapa sih dia nggak bangun juga padahal gue sudah nggak betah lagi untuk tidur." Justin langsung mengambil bantal dan selimut berjalan menuju sofa lalu membaringkan tubuhnya di sana.


"Huam, kenapa gue nggak bisa tidur lagi yah, ngapain gue sekarang sudah larut malam juga." Justin langsung mengambil laptopnya dan menyalakannya.


Sebuah pesan masuk dari WhatsApp dari sahabatnya yaitu Riki.


"Tumben amat tu bocah kirim pesan ke gue." Justin langsung melihat pesan dari Riki yaitu mengundang Riki di acara ulang tahunnya.


"Bro, emangnya kapan loh ulang tahun bukannya sudah pernah yah?" Justin berusaha mencari masalah dengan sahabatnya itu.


Riki yang selalu begadang membalas pesan dari Justin sambil menyimpan rasa kesal dengan sikap Justin.


"Dasar loh, namanya juga ulang tahun ya sekali setahun lah. Mentang-mentang sekarang sudah tunangan jadi sombong."


Riki mengatakan seperti itu kepada Justin sambil cemburu karena dirinya sadar bahwa dia telah jatuh cinta kepada Maya tetapi tidak punya nyali untuk mengungkapkannya kepada Maya langsung.


"Btw, kapan ulang tahun loh? sudah lupa gue maklum faktor usia." Balas Justin lagi sambil mengunakan emoji lucu.


"Ingat saja tanggal 6 berarti satu hari lagi dan gue harap loh harus datang." Dengan rasa yang penuh Riki mengundang Justin ke acara ulang tahunnya.


"Tenang aja bro gue pasti datang dan gue bakalan bawa Maya jadi santai aja." Mendengar ucapan Justin jantung Riki berdetak tak karuan karena takut jika Justin mengetahui perasaan Riki kepada Maya.