Heaven Is Just An Illusion

Heaven Is Just An Illusion
Derita



Hari ini adalah waktu yang sangat tepat bagi Justin untuk memberikan pekerjaan yang sangat berat untuk Maya.


"Maya...Maya... cepat kemari!" ucap Justin sambil memegangi kepalanya karena frustasi melihat pakaian kotor di kamarnya.


Langkah kaki Maya mulai terdengar dan langsung menunjukkan kehadirannya.


"Aku akan pergi ke Jepang nanti sore dan aku mau semua barang-barangku bersih dan ini sudah kucatat perlengkapan yang akan kau susun, dan jangan sampai ada yang ketinggalan." Ucap Justin langsung mengambil handuk dan memasuki kamar mandi.


Tanpa berpikir panjang Maya melakukan perintah Justin meskipun itu sangat melelahkan tetapi dilakukannya dengan secepat mungkin.


"Maya..." panggil Justin lagi yang membuat jantung Maya berdetak kencang takut terjadi sesuatu kepada Justin.


"Iy, iya ada apa?" tanya Maya dengan suara terbata-bata.


"Tolong ambilkan bajuku yang di kasur itu jangan sampai kotor dan lecet." Perintah Justin dengan nada dingin.


Secepat mungkin Maya mengambilnya dan memberikannya kepada Justin.


Berselang beberapa menit kemudian, Justin keluar dari kamar mandi dengan rambut basah tanpa menggunakan sehelai pakaian hanya pinggang yang ditutupi oleh handuk.


Tatapan Maya tidak berpaling dari body seksi Justin yang sempurna.


"Astaga, sejak kapan dia memiliki roti sobek empat yang begitu menggoda." Ucap Maya dalam hati sambil menelan ludahnya.


"Apa? kenapa menatapku seperti itu?" tanya Justin mengamati tatapan Maya kebagian perutnya.


"Akh, tidak. Semua barang-barangmu sudah selesai kukerjakan dan apalagi yang harus kuselesaikan?" tanya Maya dengan penuh rasa percaya diri.


"Ada dan tidak begitu sulit, mari ikut aku" ajak Justin menuruni tangga dan berjalan menuju sebuah gudang.


Maya sudah tau tempat tersebut tetapi dia bingung mengapa Justin membawanya ke gudang.


Saat pintu dibuka, tatapan Maya sudah tidak kuat dan kembali meneteskan air mata.


"Sekarang kau sudah mengerti pekerjaanmu dan jangan banyak drama, cepat kerjakan karena waktumu tidak banyak."


"Kamu sehat kan sayang?" tanya Mamanya Maya dengan mulut yang penuh darah.


Tidak sanggup berkata-kata Maya menangis sejadi-jadinya di ruangan tersebut sambil memeluk mamanya yang dimana kedua tangan mamanya diborgol dengan rantai yang sudah berkarat.


"Kau hanya memeluk ibumu saja, aku kapan?" ucap ayahnya Maya yang mencoba tersenyum meski suaranya sudah lemah.


"Maafkan aku ayah, aku tidak tau kalau ayah disini juga karena cahayanya sedikit gelap." Ucap Maya dan langsung memeluk ayahnya.


"Maya, kamu harus kuat jangan menyerah, kamu harus bisa bahagia." Ucap mamanya Maya dengan tangisan yang tak terbayangkan.


"Maya, ayah lapar." Ucap ayahnya Maya sambil tersenyum meskipun hatinya sangat terluka.


"Yah ayah, aku akan mengambilkan makanan tunggu saja aku akan cepat kembali." Ucap Maya dengan suara yang kaku.


Dengan berani Maya memasuki dapur mewah Justin dan langsung mengambil makanan mewah dan terlezat di rumah itu, tanpa peduli berapa harganya.


Langkah kaki yang kencang dan cepat, Maya sampai di gudang dan disapa dengan senyuman oleh kedua orang tua Maya.


"Makanlah ayah, jangan sampai ada yang sisa." Ucap Maya dengan senyuman sambil mengeluarkan air matanya dan langsung ditepis oleh Maya.


"Ibu juga harus makan yang banyak supaya tetap sehat." Ucap Maya sambil memberikan suapan kepada ibunya.


"Tidak perlu Maya, ibu tidak lapar sekarang." Ucap mamanya Maya dengan suara serak karena menangis.


"Makanlah, anakmu sudah menyuapimu masa tidak mau makan, sementara aku yang makan sendiri pake tangan bisa dengan cepat melahap makanan ini." Ucap ayahnya Maya sambil mencoba menghibur Mamanya Maya.


"Aku masih memikirkan Anju putra sulungku, entah bagaimana nasibnya sekarang ini." Tangisan mamanya Maya semakin membuat suasana menjadi pilu.


"Memangnya dia dimana Bu?" tanya Maya yang sama sekali tidak tau dimana keberadaan Abangnya itu.


"Dia telah diperlakukan oleh Justin sebagai budak di sebuah perusahaan yang sudah diambil alih oleh Justin, sementara dia juga sering sakit." Ucap mamanya Maya dengan tangisan yang semakin terdengar jelas membayangkan putranya itu yang sakit-sakitan.