
Saatnya sudah pagi hari yang dinanti sudah tiba. Sheyla yang sudah pasrah tidak tahu harus berbuat apa.
Saat ini seorang wanita memasuki kamar Sheyla dan mulai merias wajah Sheyla.
Sekitar satu setengah jam Sheyla sudah selesai di rias dan akan segera menuruni tangga menghadap para tamu undangan.
"Tuhan berkatilah hidupku meskipun saat ini semuanya sudah buntu bagiku." Sheyla tepat berada di depan Anju yang tidak bisa berpaling dari tatapannya.
"Gue akan kuat meskipun saat ini bukan jalan yang terbaik menurut gue." Sheyla berusaha menunjukkan senyumannya di hadapan Anju meskipun di dalam hatinya ada gejolak yang terpancar jelas.
"Btw gue lihat loh cantik banget, tapi gue ragu bagaimana jika loh kembali kabur dari hadapan gue." Ucap Anju memberikan isyarat dan berharap jika Sheyla tidak meninggalkannya lagi.
"Satu menit lagi acara pertunangan akan dilangsungkan semua tamu undangan sudah tidak sabar untuk menyaksikan Anju dan juga Sheyla.
Senyuman Anju terpancar jelas dan selalu memegang pinggang Sheyla yang ramping.
"Gue tidak bisa harus berbuat apapun dan sungguh tidak mungkin gue akan lari lagi." Sheyla merasa dirinya sangat payah dan tidak berguna.
"Saatnya loh akan menjadi milik gue sampai selamanya" Ucap Anju dengan senyuman di wajahnya.
"Selamat pagi para tamu undangan yang sangat kami hormati, saat ini kita akan melangsungkan acara pertunangan yang tertunda beberapa hari yang lalu." Ucap pembawa acara dengan suara yang lantang.
Anju dan Sheyla berjalan menaiki sebuah tempat yang dihiasi dengan bunga yang didekorasi dan didesain semenarik mungkin.
Suasana mulai ricuh dan bertepuk tangan pertanda kebahagiaan di tempat tersebut.
"Gue nggak bisa bertunangan dengan seseorang yang sama sekali tidak gue cintai, ya Tuhan apa yang harus kuperbuat?" Sheyla *******-***** jarinya dan berpikir bagaimana caranya supaya pertunangan ini gagal.
Berselang beberapa menit, waktu yang ditunggu akan segera tiba dimana pertukaran cincin akan dimulai.
Saat pertukaran cincin Anju memegangi jari manis Sheyla dan selalu menatap Sheyla sambil melemparkan senyuman manisnya.
"Sheyla, gue akan menjadi milik loh dan begitu juga sebaliknya." Dengan tatapan sinis Sheyla mengalihkan pandangannya.
"Sekarang giliran gue yang memasang cincin di jari loh, sini biar gue pasangin." Sheyla sudah pasrah dengan hidupnya karena sudah tidak memiliki jalan lain.
Darrr...darrr...darrr...
Suara peluru terdengar sangat jelas di hadapan para tamu undangan yang menyaksikan pertunangan Anju dan Sheyla.
"Gue tahu loh pasti datang dan gue juga tahu kalau loh sangat mencintai Sheyla, tapi sayang sekali saudaraku Justin dia akan menjadi milik gue." Anju sangat keras kepala dengan niatnya untuk mendapatkan Sheyla.
Tatapan Justin hanya kepada Sheyla karena takut terjadi sesuatu dengan seseorang yang disayanginya.
"Gue sadar saat ini peluru yang loh gunakan sangat berguna tapi coba lihat apa yang akan gue lakukan supaya loh mengerti." Anju memecahkan dua botol wine yang masih tertutup rapi.
Pandangan Sheyla kearah mamanya Justin yang berdiri tanpa bergerak sedikitpun, sementara tujuan jalan Anju ke arah Mamanya Justin.
Dengan sigap Sheyla berlari untuk menyelamatkan Mamanya Justin dari tusukan botol wine yang tajam.
Justin melihat dari kejauhan tanpa berkedip sedikitpun dan mulai mengepalkan tangannya.
"Shel, Shel, gue ap, apa? bagaimana mungkin? tidak mungkin, mustahil dan nggak." Anju sangat syok karena perbuatannya sudah melewati batas dan membuat otaknya sulit mencerna perbuatan yang dia lakukan barusan.
Darah bercucuran di lantai yang membuat semua tamu takut dan menghindar dengan cara pulang dan tidak ada yang mau tahu supaya saat polisi datang tidak ada yang bisa menjadi saksi.
"Shel, gue mohon bertahanlah. Please saat ini gue mohon loh pasti kuat." Sambil menyetir Justin selalu menangis tidak tahan melihat Sheyla tersiksa.
Dengan nafas yang mulai semakin melambat membuat Justin semakin menangis kencang.
"Brakkkkkkkkkkkk...
Tanpa disadari Justin menabrak sebuah sepeda motor yang sedang lewat.
Justin melihat pengendara tersebut hanya luka kecil, dengan cepat Justin langsung melajukan mobilnya lagi menuju rumah sakit.
"Jus, gue minta maaf nggak bisa menjadi yang terbaik buat loh dan selalu saja hobby gue hanya beban di hidup loh." Ucap Sheyla dengan suara yang patah-patah sambil memegang tubuhnya yang sedang mengeluarkan darah.
"Suttttt, gue mohon loh jangan bicara karena gue nggak mau kalau loh semakin tersiksa nantinya." Justin memarkirkan mobilnya dan langsung menggendong Sheyla masuk ke rumah sakit.
"Gue minta tolong dokter utamakan pasien yang ini karena dia adalah yang paling parah kondisinya." Ucap Justin sambil menangisi Sheyla melihat kondisinya yang semakin memprihatinkan.
"Mohon maaf Pak, saat ini ada pasien yang paling penting untuk kami tangani dan tunggu sekitar 5 menit lagi." Ucap sang dokter meninggalkan Justin sambil menggendong Sheyla.
"Su, sudahlah tidak perlu harus memaksa orang lain untuk mengasihi diri, realitanya hidup memang seperti ini." Sheyla masih berusaha tersenyum di hadapan Justin sambil berbicara.
"Dok, dokter tolonglah dia juga manusia yang perlu untuk diselamatkan dan beginikah pelayanan kalian?" Justin menendang sebuah tong sampah membuat semua yang menyaksikan tercengang.
"Jika dia sampai meninggal gue nggak mau tahu gue akan membunuh semua dokter dan juga suster yang ada di rumah sakit ini." Justin semakin geram menyaksikan kondisi Sheyla yang semakin sesak nafas.
Karena sangat takut terjadi hal yang lebih menakutkan kepada Sheyla, Dokter menyuruh Justin untuk membawa Sheyla ke sebuah ruangan.
"Maaf Pak, supaya prosesnya lebih cepat saya sarankan supaya Bapak keluar." Ucap dokter mencoba membuat Justin mengerti dengan penanganan mereka terhadap Sheyla.
Selama sekitar satu jam kemudian, para Dokter belum ada yang keluar dari ruangan tersebut. Hal ini yang membuat Justin sangat khawatir dan sangat cemas jika terjadi sesuatu yang lebih parah kepada Sheyla.
Mama dan Papanya Justin datang dan langsung memeluk Justin yang lemah.
"Hanya karena menyelamatkan Mama Sheyla jadi terluka dan menderita seperti ini." Ucap Mamanya Justin sambil dipeluk oleh Justin.
Beberapa menit kemudian dokter keluar dengan wajah murung dan takut jika kemarahan Justin akan memuncak.
"Dok, dokter bagaimana keadaan Sheyla?" Dokter hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan dari Justin.
"Dok, masih punya kuping kan? saya bertanya bagaimana keadaan Sheyla saat ini dia baik-baik saja kan?" tanya Justin dengan rasa penasaran dan berharap Sheyla selamat.
"Maaf semuanya sudah berakhir saat kami ingin melakukan operasi, pasien sudah terlebih dahulu menghembuskan nafas terakhirnya." Ucap sang dokter yang membuat Justin mundur beberapa langkah.
"Nggak, bohong! ini semua pasti bohong." Justin menangis dan memukuli kepalanya beberapa kali ke tembok.
"Justin, Mamanya nggak bisa bilang apapun karena ini mungkin sudah jalan yang terbaik." Ucap Mamanya Justin sambil memeluknya dan sesekali mengelus kening Justin.
"Shelya, masih selamat dan nggak mungkin." Justin berusaha tidak untuk menghiraukan perkataan dokter.