Heaven Is Just An Illusion

Heaven Is Just An Illusion
Sifat Usil Justin



Saat pendaftaran di universitas ternama dan termahal, Sheyla sangat senang karena dirinya bukan hanya bisa merubah nasibnya tetapi ternyata saat ini belahan jiwanya yaitu Justin sebagai seorang CEO muda di sebuah perusahaan di Jepang.


"Gue heran sama dunia mengapa setelah lama perpisahan sekarang kita kembali dipersatukan." Ucap Sheyla dengan nada rendah.


"Gue juga nggak tahu tapi inilah hidup jika sudah ditakdirkan untuk bersama tidak ada yang dapat memisahkan kecuali maut." Ucap Justin lagi sambil mengelus rambut Sheyla yang terurai panjang.


"Sekarang gue nggak akan paksa loh buat balikan lagi ke gue karena gue juga sadar bukan gue yang lebih pantas buat loh." Perjelas Justin lagi membuat tatapan Sheyla seketika berubah.


"Gue bukannya nggak niat balikan sama loh tapi gue butuh waktu dan sebelumnya gue juga minta maaf karena tidak bisa menjadi yang terbaik buat loh, minimal bisa bahagiain loh tapi yang ada gue malah beban." Ucap Sheyla lagi meyakinkan Justin supaya jarak mereka tidak renggang.


"Sudah sekarang kamu harus istirahat mungkin satu hari ini kamu sangat lelah apalagi cuaca tadi siang sangat panas." Ucap Justin mencoba mengalihkan pembicaraan dengan Sheyla.


"Gue belum ngantuk, kamu aja yang pertama nanti gue nyusul." Ucap Sheyla sambil melihat jam di tangannya.


"Ap, apa? maksud loh kita satu kamar, satu kasur? nggak, sorry gue nggak bisa apalagi setan ada dimana-mana nanti jika ada hal negatif yang terjadi gue nggak mau." Justin mengatakannya berkali-kali dengan ekspresi yang tegang.


"Hey, goblok! gue juga nggak bakalan mau juga kalau dekat sama loh dan nggak perlu gr."


"Sudah loh pergi aja dari sini gue mau tidur meskipun belum ngantuk." Sheyla langsung menarik selimut yang ada di tangan Justin.


"Gue nggak mau, malas gue. Lagian ini kamar gue seharusnya loh yang keluar ngapain malah usir gue." Ucap Justin memandangi Sheyla yang mulai murung.


"Gue mau makan, lapar banget." Ucap Justin menarik selimut Sheyla yang sudah sempat membuatnya hangat.


"Hah, lapar makan! kenapa malah gangguin gue sih." Sheyla mencoba menutup matanya dan berharap dirinya akan terlelap.


"Iss, nggak peka banget sih. Kalo lapar makan kalau nggak ada makanan mau makan apa? meja gitu maksudnya?" pertegas Justin lagi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Beban amat sih loh, oke mari ke dapur." Ajak Sheyla dan berlari ke arah dapur.


🥀🥀🥀


"Aww, sakit banget" Sheyla meringis kesakitan karena jidatnya terkena sudut pintu depan yang tingginya hampir sama dengan Justin.


"Dasar bocah ingusan nggak liat apa gimana sih?" Justin tertawa lagi sambil menatap ekspresi Sheyla yang kesakitan.


Saat di dapur Justin selalu memandangi Sheyla, entah mengapa dirinya sangat suka menatap Sheyla meskipun itu dalam waktu satu detik saja.


Setelah 15 menit kemudian...


"Tadah, mie gorengnya sudah masak silahkan cicipi kalau kurang garam kasih tahu sama gue supaya gue tambahin, tapi kalau terlalu keasinan pandang saja wajahku karena itu bisa mengurangi rasa asinnya satu kilogram."


Perkataan Sheyla membuat Justin tidak mengatakan apapun responnya terhadap Sheyla biasa saja.


Saat mencicipi masakan Sheyla, Justin hanya terdiam dan kembali menguyah makanan itu sampai habis.


Setelah semuanya habis yang tersisa hanya piring dan peralatan lainnya, Sheyla senang karena masakannya habis semua tanpa ada yang tinggal di dalam piring.


"Gimana masakan gue, enakkan?" tanya Sheyla karena sudah jelas masakannya pasti lezat buktinya semuanya habis.


"Hm, nggak! biasa aja malahan garamnya terlalu banyak jadi rasa asinnya sangat jelas di lidah."


"Tapi karena sebelum gue makan loh sudah bilang tadi jika melihat wajahmu maka rasa asinnya berkurang, dan gue coba ternyata hasilnya benar juga."


"Lain kali kalau gue suruh masak itu lebih banyak lagi yah." Ucap Justin sambil meneguk segelas air putih dan berjalan menjauhi Sheyla.


"Loh pikir gue akan muji loh, nggak bakalan" Ucap Justin senyum-senyum karena masakan Sheyla sangat lezat bahkan 10 restoran termewah saja tidak ada yang bisa menandinginya.