Heaven Is Just An Illusion

Heaven Is Just An Illusion
Pembalasan



Saat di rumah Sheyla dengan cepat Justin berlari mendobrak pintu rumahnya.


Dengan tatapan kosong Justin melihat Sheyla dan Pria tersebut.


"Jangan maju jika satu langkah saja kau maju maka nyawanya akan melayang." Ucap pria tersebut sambil memegang pistol.


"Sebenarnya loh siapa dan apa maumu?" tanya Justin kepada pria tersebut.


"Hal itu nggak penting, sekarang akan kubalas dendam keluargaku karena kedua orang tuaku telah mati di tangan Orang tua loh yang bangsat itu." Ucap Pria tersebut dengan penuh amarah dan dendam.


"Gue nggak ngerti sama sekali apa maksud dari perkataan loh." Ucap Justin yang mulai marah tidak terima jika orang tuanya difitnah.


"Masih belum ngerti juga? yaudah biar gue kasih tahu yah kalau orang tua loh yang sudah membunuh orang tua gue dan juga orang tua Riki." Jawab Pria tersebut.


"Memangnya loh punya bukti apaan dan nggak usah sok menyakiti orang-orang yang gue sayang." Ucap Justin sambil menendang pistol yang ada di tangan pria tersebut.


"Gue akan pastiin hidup loh dan juga keluarga loh akan menderita lebih dari yang gue alami." Ucap pria tersebut dan langsung pergi meninggalkan Sheyla dan juga Justin.


"Gue minta maaf karena nggak bisa ngejagain loh bahkan sekarang gue juga menambah beban buat loh." Ucap Justin lagi sambil memeluk Sheyla.


"Aish, sudahlah. Kita akhiri saja hubungan ini dan gue juga sudah tahu kalau loh sudah jadian dengan Maya tapi kenapa loh nggak bilang ke gue, loh pikir gue cewek apaan?"


"Gue tahu tujuan awal loh jadian dengan Maya hanya untuk mencari jawaban dari semua yang sudah terjadi tapi nyatanya sampai hari belum ada tanda-tanda bahkan gue yang jadi incaran penjahat."


"Gu, gue nggak bermaksud untuk menyakiti hati loh dan gue juga minta maaf karena terlanjur sudah jadian dengan Maya."Ucap Justin kepada Sheyla.


"Sekali lagi gue minta maaf Shel, dari awal gue nggak jujur sama loh dan akhirnya sekarang loh tahu sendiri."


"Sekarang juga loh pergi dari sini gue nggak mau liat muka loh lagi, gue benci sama loh." Sheyla menangis di hadapan Justin bingung karena sebenarnya di hati yang paling dalam dia sangat menyayangi Justin itu sebabnya dia berpura-pura tidak tahu kalau Justin sudah jadian dengan Maya.


"Sekarang apa yang harus gue lakuin nggak ada yang bisa membantu gue dari masalah yang rumit ini."


Keesokan harinya, Sheyla mencoba mencari informasi mengenai kebenaran siapa yang telah membunuh kedua orang tuanya dan yang paling aneh ucapan dari Pria yang ingin membunuh Sheyla mengatakan kalau orang tua Justin yang menghancurkan keluarganya.


Dengan penuh tekad yang kuat Sheyla mencoba menelpon nomor yang selalu mengetahui apa yang dilakukan oleh Justin.


Setelah lama menunggu telepon tersebut tidak menjawab telepon dari Sheyla.


Pikiran Sheyla buntu dan akhirnya mengirimkan pesan dari wa kepada Pria tersebut.


Pesan masuk ternyata dari Pria tersebut dan langsung dilihat oleh Sheyla.


"Nanti gue akan ceritakan semuanya, jam 2 siang ini kita bertemu di taman dekat kompleks."


Sheyla merasa heran dengan Pria tersebut karena bisa mengetahui semuanya bahkan lokasi dia paham.


Tepat jam 2 siang...


Di taman yang sepi karena bukan waktunya libur, Sheyla berdiri sambil melihat jam tangannya karena yang di tunggu-tunggu belum datang.


"Hei," ucap seorang Pria dari belakang Sheyla.


"Bukannya loh tadi malam yang ingin membunuh gue sampai Justin datang dan menendang pistol dari tangan loh?"


Sheyla perlahan berjalan mundur menghindari Pria tersebut karena trauma akan melakukan sesuatu kepada dirinya.


"Yaya, loh benar tapi cerewet amat sih loh. Gue semalam hanya bercanda dan juga hanya sekedar memancing pacar loh aja." Jawabnya lagi dengan santai tanpa memikirkan Sheyla sudah ketakutan.


"Jadi yang menelpon gue dan chat gue terus itu ternyata loh?" dasar manusia aneh. Ucap Sheyla sambil mendorong Anju jauh dari hadapannya.


"Gue pikir loh nggak bakalan datang lagi." Ucap Sheyla lagi.


Sheyla dan Pria tersebut duduk di bangku taman yang sejuk karena dipenuhi pohon rindang.


"Nama gue Anju, maklum nama gue pasaran jadi nggak perlu melototi gue kayak gitu." Ucapnya lagi sambil menjabat tangan.


"Btw, loh cewek berani juga ternyata padahal gue kirim chat ke loh sudah seperti meneror, memang nyatanya seperti itu sih, dan gue juga sudah berniat untuk membunuh loh." Ucapnya lagi membuat Sheyla tertawa merasa tidak ada masalah.


"Gue Sheyla, bisa dipanggil Shel terserah mau panggil apa. Dan kalau soal berani untuk bertemu denganmu itu sudah konsekuensi yang harus kuhadapi jika kau akan membunuhku sudah kutabahkan hatiku." Ucap Sheyla membuat Pria tersebut tertawa kencang.


"Gue mau nanya kamu dapat keberanian dan tekad seperti itu darimana?" tanya Anju lagi dengan penasaran.


"Gue nggak tahu sih tapi semenjak kedua orang tua gue udah nggak ada lagi rasa ketakutan gue sudah hilang."


"Nasib kita sama gue juga seperti yang loh alami kedua orang tua gue mati terbunuh tepat di hadapan gue, darahnya berlumuran di baju gue bahkan sampai di mulut gue."


"Dendam yang selama ini gue tahan tidak bisa selamanya gue simpan karena keadilan harus ditegakkan dan gue juga akan membalasnya sebanyak dua kali lipat dari apa yang sudah dia perbuat."