Heaven Is Just An Illusion

Heaven Is Just An Illusion
Penculikan



Dalam hati Sheyla juga merasa ada yang aneh dengan sikap Justin tetapi dia berusaha untuk menepis pemikirannya yang aneh.


"Shel, gue sekarang adalah milik loh dan loh juga adalah milik gue jadi tidak boleh rahasia yang saling kita sembunyikan kau mengerti?"


Justin hanya bisa memandangi kemesraan mereka berdua di hadapannya sendiri.


"Gue baru saja memulai permainan dan lihat saja nanti siapa yang akan memenangkan ini semua." Justin berusaha untuk tetap tenang meskipun hatinya sudah sangat patah berantakan.


"Gu, gue ke toilet bentar yah!" ucap Sheyla dengan cepat dirinya langsung pergi.


Setelah keluar dari toilet tersebut, betapa terkejutnya Sheyla melihat seseorang yang sedang berdiri di hadapannya.


"Hai cantik apa kabar?" tidak ada jawaban dari Sheyla membuat lelaki tersebut melontarkan kata-kata manis kepada Sheyla.


"Ngapain loh dekatin gue sekarang nggak perlu banyak bicara minggir gue mau turun." Ucap Sheyla sambil berusaha pergi dari hadapan Pria tersebut.


Tiba-tiba lampu mati di ruangan tersebut tidak ada cahaya sedikitpun membuat Sheyla bingung apalagi saat ini dirinya tidak memegang hp.


Tangan seseorang mendekati dirinya dan langsung menyuntikkan obat bius ke tangannya.


Beberapa menit kemudian para tamu undangan sudah lama menunggu kehadiran Sheyla yang tidak kunjung sejak daritadi.


"Kak, Sheyla kemana kenapa daritadi tidak kunjung datang juga." Maya juga bingung sambil melihat-lihat ke berbagai arah.


"Gue juga nggak tahu kemana perginya." Anju mengambil hp nya khawatir terjadi sesuatu dengan Sheyla.


Beberapa menit kemudian, Justin datang menghampiri Anju berusaha mengalihkan perhatiannya.


"Gue heran kenapa loh cemas dengan Sheyla mungkin dia lagi sibuk kali." Ucapan Justin membuat Anju bingung dan merasa ada yang aneh.


"Nih, minum dulu masa hari pertunangan loh sendiri wajahnya cemberut gitu jelek banget sih." Justin meneguk segelas wine yang ada di tangannya.


"Gue cabut duluan yah, bosan gue disini apalagi lihat muka loh yang nggak seberapa itu muak gue." Ucap Justin sambil membalikkan badannya.


Tapi saat berbalik Anju langsung memberikan satu pukulan di wajah Justin membuat dirinya sempoyongan dan hampir jatuh.


Semua tamu undangan dan kedua orang tua mereka heran apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa-apaan ini kenapa berkelahi ada masalah diselesaikan baik-baik bukannya mencari keributan seperti ini." Ucap Riki sambil menarik salah satu diantara mereka.


"Kak, sudahlah orang yang tidak tahu malu tidak perlu diladeni kurang waras memang seperti itu." Maya memeluk kakaknya sambil menatap Justin dengan tatapan tajam.


"Wah, wah... ternyata loh masih hidup juga gue pikir loh udah mati kenapa bisa sih hidup lagi ada definisi yah kalau sudah mati bisa hidup kembali?" Justin meluapkan semua emosinya yang selama ini berusaha dia tahan di dalam hatinya.


"Gue muak, dan loh kenapa loh hadir di tengah-tengah keluarga gue kebahagiaan keluarga gue hancur hanya gara-gara loh, dasar Tante tidak tahu diri." Ucapan Justin membuat amarah Anju memuncak dan langsung mengambil sebotol wine dan melemparkannya ke arah Justin.


Darah berlumuran di lantai keramik yang membuat semua tamu sangat takut dan ada juga yang langsung pulang takut jika suasana semakin panas apalagi saat ini sudah mulai larut malam.


"Gue tegaskan sekali lagi ke loh Mama gue bukannya tidak tahu diri tapi Papa loh yang tidak tahu akhlak yang mendekati Mama gue." Pertegas Anju lagi dengan wajah yang ingin menghabisi seseorang.


"Jangan-jangan loh nggak terima kalau Sheyla menikah dengan saudara gue karena loh masih sayang sama Sheyla?" Ucapan Maya mampu membuat hati Justin rapuh apalagi saat ini Sheyla adalah alasan mengapa dirinya harus mengorbankan nyawanya.


"Gue nggak cinta sama Sheyla dan gue juga nggak tahu sama sekali maksud loh." Justin bangkit dari lantai dan berjalan menjauhi mereka.


"Gue pastiin gue akan membalas semua kejahatan ini dan gue akan menghancurkan kalian satu-persatu." Sebuah dendam yang sulit dijelaskan tergambar jelas di mata Justin.


Saat di rumah yang gelap Justin menangis dengan keadaan hidupnya yang sungguh malang.


Hanya dirinya yang tahu seberapa dalam luka dan amarah yang berusaha dia kubur tetapi orang-orang di sekitarnya selalu memaksa dirinya untuk membalaskan dendamnya.


Saat disana Justin menangisi takdirnya yang suram dan sedikit menjijikan.


Perlahan Justin memasuki sebuah ruangan yang gelap dihidupkannya lampu dan di sana seorang perempuan sedang diikat dengan kepala tertunduk lemas.


Langkah kaki semakin dekat, wanita itu menaikkan wajahnya dan menatap Pria yang saat ini berjongkok di hadapannya.


Lelaki tersebut terdiam sejenak sambil memandangi wanita itu, yang tak lain lelaki itu adalah Justin.


"Gue minta maaf sudah menyiksa loh disini bukan maksudku untuk menghancurkan hidup loh." Justin memeluk wanita tersebut menghilangkan rasa kangennya yang di tahannya selama bertahun-tahun.


Wanita yang diikatnya yang dimana wanita itu adalah Sheyla memandang wajah Justin dengan tatapan penuh kebencian tetapi hatinya sangat merindukannya.


"Gue terpaksa selama ini banyak drama yang harus kujalani dan kulakukan untuk mengetahui jati diriku yang sebenarnya."


"Kau tahu Papa dan Mamaku yang merawat dan membesarkanku selama ini bukanlah orang tua kandungku."


"Mereka telah menculikku dari orang tua kandungku hanya demi aset-aset, saham, dan properti milik kedua orang tua kandungku dan kau tahu diriku dijadikan sebagai jaminannya."


"Papaku di bunuh dan Mamaku disiksa dan juga dibunuh dengan sadis tanpa ada rasa manusiawi sedikitpun."


"Dan yang melakukan itu semua adalah Papa yang kuanggap adalah orang yang sangat baik padaku, dia telah menghabisi kedua orang tuaku dengan sadis."


"Bukan hanya orang tuaku saja tetapi juga orang tua Riki karena terlibat dengan perusahaan Papaku dulu."


"Kebohongan selama ini selalu menang dan dengan rasa percaya diriku tidak tahu jika sebelum itu semua terjadi Papa angkatku sudah mengancam beberapa orang untuk merahasiakan hal ini."


"Tapi Tuhan sungguh baik, diriku diberikan petunjuk hingga saat ini satu-persatu bukti dan kejanggalan mulai jelas kuketahui meskipun hanya sebagian." Ucap Justin lagi dengan suara serak karena menangis.


"Gue juga semakin hancur karena dengan rasa terpaksa gue harus meninggalkan seseorang yang sangat gue sayangi kecewa dengan sifat dan perbuatan gue."


"Seandainya gue jujur dari dulu kalau gue sangat menyayanginya dan andai aja gue dulu memberikan petunjuk kepadanya dan menjelaskannya dengan jujur mungkin saat ini dia tidak akan bertunangan dengan seseorang yang sama sekali tidak memiliki hati nurani."


"Tetapi sekarang gue berhasil membawa dia kabur dari api neraka meskipun tangannya terluka setidaknya jiwa dan raganya masih baik-baik saja."


Tatapan Justin sangat dalam kepada Sheyla dan langsung memeluk Sheyla.


"Gue minta maaf dulu gue nggak bisa mengatakan apapun ke loh sebelum gue berpura-pura jadian dengan Maya."