Heaven Is Just An Illusion

Heaven Is Just An Illusion
Takdir Yang Pahit



"Sheyla masih hidup gue sudah berjanji sama dia untuk menunggunya sampai membuka hati lagi ke gue dan cita-citanya tercapai dan akan melanjutkan kuliahnya di Jepang." Justin mengatakan semua yang sudah lama dibicarakannya bersama dengan Sheyla.


Justin langsung berlari ke ruangan dan melihat tubuh seseorang yang sudah ditutupi dengan sebuah kain warna putih.


Hikss...hikss ...hikss ...


"Gue masih ingat awal kita bertemu karena perkelahian dan sejak saat itu gue sangat membenci loh, hingga akhirnya gue sadar gue suka sama loh. Justin langsung menyapu air matanya yang sulit ditahannya.


"Gue juga masih ingat kalau loh adalah cewek yang paling cuek yang gue kenal tapi sekaligus paling bucin yang pernah ada." Justin semakin mendekat tidak sanggup jika Sheyla memang sudah pergi.


Perlahan dirinya membuka kain yang menutupi tubuh Sheyla meskipun dengan tangan yang gemetar tetapi harus dia kuatkan.


"Nggak, tidakkkkkkk...."


"Shel, gue mohon sadar tidak lucu jika loh selalu terdiam."


"Asal loh tahu gue gengsi banget buat bilang kalau loh senyum sangat manis apalagi saat loh marah imutnya bertambah."


"Tapi loh sangat jelek jika harus seperti ini lihat bibir loh pucat, biasanya loh pake lipstik kalau nggak modal bilang aja sama gue."


"Please, jangan diam mulu bicara dikit kenapa sih? gue nggak suka lihat loh diam mulu. Kenapa matanya harus ditutup ayolah buka bukan saatnya untuk tidur."


Justin memandangi wajah Sheyla sambil menciumnya beberapa kali dan menangisi Sheyla yang tidak menjawabnya lagi.


"Kenapa sih nggak jawab gue? kapan kita balikan? kapan kita balikan lagi?"


Mamanya Justin yang melihat anaknya sangat rapuh langsung memeluknya lagi dan tidak berbicara apapun.


"Tubuh Sheyla sudah memucat karena darah yang keluar sudah menguras tubuhnya.


"Mah, lihatlah! Sheyla tidak menjawabku padahal daritadi semua sudah ku jelaskan kalau tidur terlalu lama tidak baik."


"Saat kutanya kapan balikan dia tidak menjawab pertanyaan dariku."


"Tapi loh harus janji setelah kita balikan loh harus lanjut kuliah lagi, dan kita akan tinggal di Jepang."


Plakkkkk...


"Sadarkan dirimu, Sheyla sudah tidak ada!"


Ucapan mamanya Justin membuat dirinya menunduk dan kembali menatap Sheyla.


"Gue nggak sanggup tanpa loh Shel, apalagi gue sudah berjanji untuk menunggu loh dan kita akan balikan."


"Sudahlah Justin tenangkan dirimu jangan seperti orang gila." Mamanya Justin berusaha menguatkan Justin yang kondisinya semakin lemah.


"Gue mau keluar sebentar," Ucap Justin berjalan keluar dengan langkah kaki yang berat.


Brukkk....


Tubuh Justin langsung tergeletak di lantai dengan tubuh yang lemah.


Dengan panik dokter dan para suster langsung mengangkat Justin dan membawanya ke sebuah ruangan untuk diperiksa.


Justin pingsan karena pikirannya tidak bisa dikontrol dan tidak percaya jika semua ini kenyataan.


Jenazah Sheyla langsung dibawa menuju rumah keluarga yang tak lain adalah Anju.


Semua orang sudah berkumpul menyambutnya dengan tangisan sekaligus dendam kepada Anju.


"Shel, gue nggak tahu mengapa gue bisa sekejam ini ke loh. Gue minta maaf Shel" Anju menangisi mayat Sheyla meskipun tangannya sudah diborgol dan dikawal oleh polisi.


Maya dan juga Riki merasa sangat kehilangan dan menangisi Sheyla yang sudah pergi terlebih dahulu.


Justin yang mulai tersadar dari pingsan bertekad untuk langsung pulang karena tahu jika Sheyla sudah dibawa pulang.