Heaven Is Just An Illusion

Heaven Is Just An Illusion
Bersikap Aneh



Setelah pertunangan selesai semua telah berpulangan, yang tinggal hanyalah keluarga Justin dan Anju.


Di meja makan saat makan bersama sifat kenakalan Anju kambuh dengan menyuruh Justin untuk menyuapi saudaranya yaitu Maya.


Hal itu membuat Justin marah dan langsung melemparkan piring ke lantai dengan keras.


Semua yang menyaksikan hal tersebut hanya bisa diam mematung tidak ada yang berani berkutik sedikitpun.


"Gue sudah bosan mengikuti perkataan kalian dan kau tidak punya hak sama sekali untuk mengatur hidupku."


"Gue tidak butuh keluarga seperti loh," ucapan Justin membuat Maya semakin tersakiti dan langsung pergi meninggalkan mereka semua begitu juga dengan Justin.


"Kita hanya perlu bersabar karena ini adalah permulaan dan sifat mereka masih sedikit kekanak-kanakan jadi kita harus maklum." Ucap Papanya Justin dan kembali menyuapkan nasi ke mulutnya.


Tatapan matanya Justin sangat jelas menyimpan dendam kepada Papanya Justin tapi mamanya tidak bisa berbuat apapun karena sekarang semuanya sudah berubah.


"Mah, Anju pergi ke perusahaan Papa dulu yah sambil melihat-lihat suasana di sana."


Dengan lantang Mamanya Anju langsung mengizinkan Anju tanpa bertanya kepada Papanya Justin apakah diizinkan atau tidak.


"Nih, bocah pasti membuat keonaran di sana lihat saja pasti akan terjadi." Dalam hati Justin semua masalah hidupnya sekarang sudah seperti mati rasa.


Papanya Justin kembali menegaskan kepada Justin bahwa sesuai dengan perjanjian jika Justin menikah dengan Maya maka semua warisan akan diberikan kepada Justin.


Justin dan semua anggota keluarga yang ada di rumah tersebut menyaksikan Papanya Justin memberikan semua aset rumah dan sertifikat lainnya untuk ditandatangani oleh Justin sebagai tanda bahwa semuanya itu sudah menjadi milik Justin.


"Pah, Anju tidak setuju bagaimana mungkin hanya karena bertunangan dengan Maya semua harta diambil alih oleh Justin." Sikap cemburu yang dikeluarkan oleh Anju sama sekali tidak dipedulikan Papanya Justin.


"Papa harap setelah kamu menandatangani semuanya kamu bisa mempergunakannya ke hal yang penting dan bermakna." Tatapan Anju semakin tajam kepada Justin karena tidak terima jika semua harta diberikan kepada Justin.


"Kalau tahu seperti itu lebih gue aja yang bertunangan dengan Maya, tapi nggak bisa juga sih dia kan saudara gue." Anju bertengkar dengan isi kepalanya sendiri karena tidak habis pikir dengan tindakan Papanya itu.


Setelah Justin selesai menandatangani semuanya Papanya tersenyum licik kepada Justin, tapi di dalam hati Justin sedikit curiga rencana seperti apa lagi yang akan direncanakan Papanya Justin.


"Mulai hari ini Papa dan Mama kamu beserta kamu Anju, kita bertiga akan pindah ke Jepang karena sekarang semua aset yang ada di Indonesia sudah jatuh ke tangan Justin." Ucapan Papanya Justin membuat Anju heran dan dia tahu jika selama ini yang memiliki harta adalah mamanya Justin.


Karena pikirnya dipenuhi dengan beban yang sama sekali dia saja tidak mengerti apa yang dipikirkan tanpa berpikir panjang dia langsung mengikuti perintah Papanya untuk pindah ke Jepang.


"Hari ini juga kita pergi karena perusahaan di sana mungkin sudah tidak jelas lagi cara kerjanya karena tidak ada yang mengawasi."


Justin menatap Anju sinis dan berusaha terlihat tenang dengan sikap Papanya meskipun pikirannya sudah tegang.