Heaven Is Just An Illusion

Heaven Is Just An Illusion
Melebihi Sampah



"Jus, gue mohon tolong maafin kesalahan kedua orang tua gue dan gue janji sebagai jaminannya biarkan gue yang loh siksa."


Tatapan tajam Justin tidak bisa diramal oleh Maya apa yang sedang dipikirkan oleh Justin.


"Plaaaaaaakkkk........"


Tamparan di wajah seseorang sangat nyaring terdengar jelas di sebuah ruangan yang gelap dan tertutup rapat.


Maya yang menyaksikan semua kepahitan dihidupnya semakin jelas karena saat ini dia tidak bisa berbuat apapun selain menyaksikan kedua orang tuanya disiksa.


Kedua tangan Maya memeluk erat kaki Justin dan menyembah dengan memohon supaya Justin membebaskan kedua orang tuanya.


"Gue nggak punya banyak waktu sekarang juga loh harus memberikan kata terakhir kepada kedua orang tua loh, sebelum gue melemparkan mereka ke tempat yang layak dengan perbuatannya." Ucapan Justin membuat tangisan Maya semakin sulit terkendali.


"Gue akan hitung mundur sebelum gue langsung menghabisi mereka berdua dengan waktu yang bersamaan." Justin semakin membuat Maya bingung dan ketakutan.


"Gu, gue mau kedua orang tua gue supaya tidak disiksa seperti ini lagi, kasihanilah mereka berdua kumohon." Suara tangisan Maya yang masih terdengar jelas di ruangan tersebut.


"Tidak akan kusiksa mereka berdua lagi asalkan kau menjadi budak gue seumur hidup." Ucapan Justin membuat hati Papa dan Mamanya Maya sangat terluka.


"Tidak apa-apa asalkan mereka berdua selamat dan tidak disiksa seperti ini, kasihan mereka berdua tolong bebaskan mereka berdua." Ucapan Maya membuat Maya semakin gemetaran.


"Terserah gue akan melihat kehancuran loh setelah gue menyiksa loh." Justin memberikan isyarat kepada para anggotanya untuk melakukan sesuatu kepada kedua orang tua Maya.


Maya saat ini diseret ke sebuah kamar yang mewah dan megah yang disana dilihatnya seorang wanita yang sudah pernah dia temui sebelumnya.


"Gu, gue sepertinya pernah melihat loh, ucapan wanita tersebut membuat air mata Maya semakin mengalir."


"Hm, yah gue adalah pembantu Justin di rumah ini." Jawaban Maya sangat menyakiti hatinya yang saat ini sudah hancur.


"Ohk, kenalin nama gue Myshel teman dekat Riki dan saat ini gue adalah pacarnya."


Mendengar jawaban tersebut hati Maya semakin berantakan dan tidak tau mengapa semakin lama dirinya merasa sangat berantakan.


Maya langsung pergi berputar balik keluar dari kamar tanpa berpamitan dan menyapu kembali air matanya.


"Sampai kapan penderitaan ini akan gue alami di hidup gue? seandainya dulu gue tidak mencintai Justin tidak mungkin sekarang sesakit ini penderitaan yang gue alami."


Tiba -tiba terdengar suara panggilan dengan sebutan yang memanggil Maya, dan langsung dihampiri oleh Maya.


Saat bertemu dengan seseorang yang memanggilnya terlebih dahulu Maya menarik nafas.


"Gue saranin loh harus merahasiakan hal yang paling besar yaitu jangan pernah menganggap bahwa kita dulu pernah bertunangan."


Tatapan Maya kembali dipenuhi dengan bulir -bulir cairan yang semakin lama mungkin akan selalu turun dengan sendirinya.


"Jangan pernah terlalu berpikiran bahwa perasaan gue akan tumbuh lagi terhadap loh karena saat ini gue sangat membenci loh. Kalau bukan karena hati gue masih ada ngak mungkin gue biarin loh hidup bebas."


"Hm, iya gue nggak akan mengatakan hal seperti itu kepada siapapun." Meskipun bagi Maya itu adalah hal yang sangat menyakitkan.


"Dan satu hal yang harus loh tau saat ini loh harus memanggil gue dengan sebutan tuan muda Justin."


"Sekarang loh pergi mandi dan persiapkan semua peralatan gue untuk mandi, dan satu hal lagi jangan pernah berpikir bahwa Myshel adalah orang yang paling gue cintai ngk."


" Mantan terindah gue yang sudah pergi meninggalkan gue yang selalu menjadi pemenang di hidup gue dan tidak boleh ada yang menggantinya kecuali gue yang merubah pemikiran gue."


Maya hanya bisa menahan air matanya yang selalu mengalir dari matanya dan saat ini dirinya tidak punya pilihan lain selain menjadi budak Justin hanya demi keselamatan kedua orang tuanya.


Selama berada di dalam kamar mandi Maya hanya bisa memandangi wajahnya yang selalu menangisi takdirnya dan sangat iri dengan orang lain yang bisa dicintai oleh orang yang mencintai mereka dengan hebatnya.


"Gue nggak butuh uang, jika seperti ini buat apa gue masih hidup bunuh diri aja sekalian."


Maya yang saat ini sudah mulai frustasi dengan kehidupannya yang tidak ada habisnya air mata yang dikeluarkannya.


Setelah beberapa lama meratapi nasib yang malang yang sulit meyakinkan dirinya bahwa itu semua nyata, dirinya harus kembali berhadapan dengan seseorang yang sangat hoby menghancurkan kebahagiaannya, yaitu Justin.


"Gue nanti akan pergi ke sebuah pesta club' dan gue harap semua peralatan dan di rumah ini loh bereskan dan abunya jangan ada yang lengket sedikitpun."


"Dan satu lagi gue baru ingat nanti loh harus merapikan kamar gue dengan bersih dan jangan lupa untuk menyemprotkan pewangi di sana."


Setelah menjelaskan beberapa arahan dan memberikan tugas untuk dilakukan oleh Maya, saatnya Justin pergi dengan kekasih barunya yaitu Myshel.


"Gue harus kuat masa dengan hal sepele seperti ini aja gue udah langsung nangis lemah amat sih gue."


Jam dinding selalu berputar dan sampai lah saat ini dimana pekerjaan Maya yang terakhir membereskan kamar Justin yang mewah.


Dengan cepat Maya langsung membersihkan tempat tidur tersebut dan menjalankan suruhan Justin yang sangat banyak.


"Maya....Maya...."


Suara panggilan dari pintu utama samak terdengar dan langsung dihampiri oleh Maya.


Dilihatnya langkah berjalan Justin sudah mulai sempoyongan dan sangat oyong.


Inisiatif Maya untuk merangkul Justin tetap saja salah dihadapan Justin.


"Loh hanya pembantu di rumah ini dan nggak usah belagu jadi manusia."


Berkali-kali ucapan Justin sangat melukai perasaan Maya tapi karena rasa cintanya lebih besar logikanya belum berfungsi dengan jelas.


"Saat ini gue sangat suntuk itu sebabnya gue pergi ke sebuah club dan ternyata benar yang dikatakan oleh teman kalau di sana bisa menghilangkan stres."


Maya hanya bisa berdiri sambil terdiam karena takut jika ada perlakuan atau tingkahnya yang salah.


Tanpa butuh waktu lama akhirnya Justin langsung tidur lelap.


Kesempatan Maya untuk istirahat juga karena dirinya sangat lelah dan sekarang dia tidak bisa seperti dulu lagi yang dimana tidur bisa di samping Justin.


Sudut pandang Justin berubah saat mengingat kejadian yang dilakukan Papanya Maya kepada banyak orang.


Maya langsung pergi ke sebuah ruangan yang kecil dan langsung dibersihkannya dan membaringkan tubuhnya di sana karena takut jika Justin akan semakin marah padanya jika terlalu lancang.