
Setelah beberapa menit yang sudah membuat Maya sangat bosan selama didalam angkot, akhirnya turun dan berlari cepat menuju rumahnya yang besar.
Disana dilihatnya garis polisi dan banyak wartawan yang bertanya-tanya kepada seseorang bagaimana bisa pemilik perusahaan terkenal memberikan semua aset kepada sang menantu.
"Ada apa ini? kenapa banyak pertanyaan yang tidak penting kalian tanyakan kepadanya. Ucap Maya mencoba menenangkan suasana yang mulai ricuh.
"Hei, wanita sialan jangan pernah menginjakkan kaki disini dan jangan ganggu kehidupan gue lagi." Suara tersebut sudah tidak asing bagi Maya dan spontan membalikkan tubuhnya ternyata dugaannya benar yaitu Justin.
Secara perlahan langkah kaki semakin mendekati kehadapan Maya dan langsung mencampakkan tubuh Maya sampai terpental.
Para wartawan yang menyaksikan kejadian tersebut langsung bergegas memotret karena ini sangat berharga untuk mereka jadikan bahan perbincangan.
" Gue salah apa? kenapa gue selalu loh siksa dan menghancurkan kehidupan gue, bukan hanya gue keluarga gue juga loh hancurkan."
Tatapan Maya yang mengeluarkan butir -butir cairan bening berusaha ditepisnya.
Maya mengalihkan pandangannya saat melihat kedua orang tuanya yang juga menangis menyaksikan keadaan putrinya yang sangat menyedihkan.
Saat berlari untuk menghampiri kedua orangtuanya tangan Justin menahan Maya.
"Jika loh maju satu langkah lagi, maka nyawa kedua orang tua loh akan melayang." Tatapan tajam Justin membuat Maya berpikir untuk mendekati kedua orang tuanya.
Sebuah aba-aba diberikan Justin kepada salah satu ajudannya dan langsung dimengerti.
Kedua orang tua Maya dibawa ke sebuah gudang yang tempatnya sangat gelap dengan tangan yang diikat kuat agar mereka tidak melarikan diri.
"Gue akui dia adalah Papa gue dan Papa loh juga dan apakah loh sadar jika perbuatan yang dia lakukan untuk membuat kita bertunangan logika? dia sudah menghancurkan kebahagiaanku dengan menjodohkanku denganmu." Mendengar hal tersebut Maya menundukkan tatapannya.
"Dan satu hal yang paling gue benci adalah dia telah membunuh banyak orang hanya demi bisnisnya. Salah satunya adalah orang tua Sheyla, yang paling gue hargai."
"Orang tua Riki dan masih banyak lagi dan gue sudah lama mengetahui hal tersebut tapi dengan kekuatan dan kesabaran gue merancang sesuatu bagaimana caranya untuk menghancurkan ular berbisa seperti dia."
"Dan Mama tercinta loh telah merebut lelaki tua ini dari Mama gue sampai -sampai gue harus kelelahan menghadapi sikap Mama yang dengan bodohnya masih mau bertahan dengan seseorang yang telah mendua.
"Akibat ulah orang tua yang menjijikan ini gue harus mengeluarkan banyak energi untuk berpikir dan langkah pertama yang gue lakukan adalah menghancurkan hidup loh, tapi menurut gue itu semua terlalu buang -buang waktu saja."
"Dan sekarang gue sudah berjanji untuk tidak menyia-nyiakan waktu gue lagi dan sekarang semua permainan akan berakhir."
"Gue akan membunuh loh satu-persatu seperti dulu loh menghancurkan hidup gue yang secara perlahan."
"Tidak akan kubiarkan seseorang pun untuk menghalangi rencana gue dan gue pastikan gue yang akan menang."
"Hei nona, silahkan ucapkan kata terakhir kepada kedua orang tua mu yang sungguh meresahkan ini."
"Setelah lima menit kemudian semuanya akan selesai dan gue tidak akan perduli apa yang akan terjadi setelah itu."
Maya tidak bisa menahan airmatanya yang selalu bercucuran karena saat ini dirinya tidak ada pilihan lain karena dia sudah yakin bahwa keputusan Justin tidak dapat diganggu gugat.