
Hari ini saatnya Maya dan Justin memulai hidup baru karena hari yang ditunggu-tunggu untuk bertunangan sudah dimulai.
"Gue mau bilang sama loh kalau nanti kita sudah selesi bertunangan jangan pernah menyentuh gue." Ucap Maya dengan memberi penjelasan kepada Justin.
Tanpa menjawab perkataan Maya dengan cepat Justin langsung pergi menuruni tangga menuju ruang tamu yang dimana di sana semua orang telah menatapnya.
"Malas amat gue jawab loh dan jangan pernah berpikir untuk bisa mendekatiku." Justin menjanjikan hal tersebut di dalam dirinya.
Semua para tamu undangan sudah banyak yang hadir, dengan penuh rasa trauma Justin mencoba menenangkan dirinya.
"Gue masih sangat takut dengan masa lalu yang dulu terjadi di hidup gue tapi saat ini tidak ada cara lain lagi." Justin harus berani tegas kepada dirinya bahwa keputusan yang dia ambil hanya sebuah alasan untuk mengambil harta Papanya Justin.
"Setelah gue bertunangan dengan Maya langkah selanjutnya yang akan gue ambil adalah mencari siapa pelaku atas meninggalnya Papa dan Mama dulu." Ucap Justin dalam hati dan membuatkan tekadnya.
"Justin tunggu apa lagi, ayo segera pasangkan cincin di jarinya Maya." Mendengar perkataan Mamanya Justin dengan cepat langsung memasangkan cincin di jarinya.
Setelah itu semua para tamu undangan menikmati hidangan yang telah disiapkan oleh keluarga Justin.
Tak berselang lama semua para tamu undangan sudah pergi berpulangan karena acara pertunangan sudah selesai.
"Gue ke kamar duluan yah ngantuk banget gue soalnya dan sekaligus capek banget pegal-pegal semua badan gue." Ucap Justin dan langsung meninggalkan Maya yang masih berdiri di sampingnya.
Saat di dalam kamar yang sunyi, Justin menangis karena merasa dirinya sangat tidak bisa dipercaya apalagi soal cinta.
"Semua masalah yang gue hadapi akan sangat sempurna saat ini karena menurut gue awal kehancuran gue dimulai dari sekarang." Justin menyisir rambutnya dan langsung melemparkan tubuhnya di kasur sambil merentangkan kedua tangannya.
Sekitar setengah jam kemudian, Justin terlelap dengan tubuh yang telentang dan wajah yang gusar.
Maya yang melihat Justin seperti itu tidak bisa berbuat apapun selain menyelimuti tubuh Justin.
"Gue merasa bersalah meskipun penyebab kematian Sheyla adalah perbuatan abang gue tapi tetap juga gue ikut merasa bersalah." Maya berdiri mematung dan hanya bisa memandangi Justin.
Maya mengambil selimut dan bantal guling sambil berjalan menuju sofa dan langsung membaringkan tubuhnya di sana.
Tanpa disadari tubuh mereka terlelap tertidur sampai pagi hari.
Justin yang mulai merasa segar karena menurutnya malam ini sangat indah tidak ada begadang sedikit pun.
Tatapannya langsung melongo melihat Maya yang terbaring di kasur dengan selimut tipis dan mungkin tubuhnya akan kesemutan karena sofa tersebut tidak senyaman dengan kasur.
"Akh, nyusahin juga nih anak dia pikir saat dia melakukan hal seperti itu hatiku akan luluh dan merasa kasihan melihat sikapnya." Justin langsung pergi menuruni tangga dan meneguk segelas air putih.
"Saat ini loh sudah bertunangan dan ingat tolong jaga adek gue karena sifatnya juga masih sedikit kekanak-kanakan gue harap loh bisa ngertiin dia." Ucapan Anju membuat Justin semakin dendam kepada mereka berdua dan hanya bisa mengikuti perkataan Anju dan keluarganya. Hal itu dibuat Justin hanyalah taktik semata untuk mendapatkan jawaban yang sebenarnya.