
Perasaan Maya bercampur aduk ketika dia mengingat kejadian yang dimana seorang Justin makan bersama dengan orang lain dibandingkan dengan pasangannya sendiri.
"Gue tahu kalau loh menerima pertunangan ini hanya untuk mendapatkan warisan dan harta dari Papa, tetapi gue juga butuh perhatian dan cinta."
Maya pergi berjalan menuju dapur dan mencuci peralatan yang digunakannya tadi saat memasak.
"Sampai kapan gue harus bertahan seperti ini dan sabar jika harus bersama tetapi tidak dianggap sama sekali." Dengan penuh harapan yang besar Maya mencoba menyemangati dirinya untuk tetap berusaha dan bertahan.
Saat ini sudah sore dan Justin belum pulang dari kantor.
Tidak ada yang membuat perasaan Justin berubah sedikitpun dan tidak ada yang mengetahui sampai kapan Justin akan menyimpan perasaannya untuk Sheyla yang sudah pergi meninggalkannya.
"Gue tahu jika gue bukanlah seseorang yang layak untuk mendampingi Justin tetapi izinkan diriku untuk membuatnya bahagia." Maya selalu mengeluarkan air mata jika menyangkut perasaannya dengan Justin.
Meskipun jam sudah menunjukkan pukul 7 malam tetapi karena cahaya lampu membuat keadaan seperti masih siang.
Maya melangkahkan kakinya menuju taman bunga yang ada di belakang garasi sambil membawa sebuah siram yang berisi air.
Sesampainya di sana mata Maya terlihat lebih indah karena bunga yang di tanamnya akhirnya bermekaran dengan sangat cantik dan indah.
"Gue nggak nyangka ternyata sudah menjadi bunga yang sangat indah, besok gue akan petik bunganya lalu menjualnya di toko."
Maya duduk di dekat tanaman yang sedang bermekaran dengan hati yang sangat rapuh.
"Gue selalu gagal soal percintaan karena gue adalah orang yang sangat kurang beruntung."
"Mending gue tidur di sini saja kalaupun gue tidur di kamar yang ada Justin malah tidur di sofa."
"Daripada tubuhnya keseleo saat tidur di sofa lebih baik gue tidur di sini."
Tanpa disadari beberapa menit kemudian Maya tertidur di samping tanaman bunganya yang hanya beralaskan karung tipis.
Hembusan angin yang kencang menusuk tulang-tulang Maya tetapi dia harus menahannya karena baginya kesehatan Justin yang paling utama.
"Gue bisa saja kedinginan seperti ini tetapi Justin harus selalu aman." Ucap Maya dengan mulut yang gemetaran.
" Tidak ada yang mengerti betapa gilanya diriku saat sudah mencintai seseorang dengan sangat kuat." Maya memegang cincin pertunangannya sambil menciumnya.
Maya berusaha menutup matanya untuk tetap tertidur meskipun banyak nyamuk yang mengintainya.
Sekitar jam 11 malam Maya terbangun dan mulai kedinginan.
Maya yang masih meratapi nasibnya hanya bisa mendoakan yang terbaik bagi Justin.
Maya mencoba untuk kembali menutup matanya dan tertidur.
Semua kerja keras yang dilakukan Maya untuk berusaha membahagiakan Justin tidak pernah dipandang Justin dan tidak pernah dihargai sedikitpun.
Bagi Justin kehadiran Maya hanyalah membawa malapetaka atau membawa masalah baginya.
Seperti sekarang ini saat Justin sudah selesai melakukan pekerjaannya di kantor dan waktunya untuk makan, Justin sangat bersemangat untuk melahap makanan tersebut.
Setelah makan dengan santainya Justin pergi berjalan menuju kamar melihat Maya tidak ada di kamar tersebut, Justin langsung membaringkan tubuhnya di sana.
Untung tidak ada manusia sialan itu kalau ada di sini mungkin gue akan tidak tidur di kamar tetapi di tepi jalan.
Dengan bangganya tanpa perasaan khawatir sedikitpun tentang kondisi Maya yang entah bagaimana nasibnya.