Heaven Is Just An Illusion

Heaven Is Just An Illusion
Perasaan Iba



Suara hembusan angin yang terdengar jelas membuat suasana malam itu sangat dingin dengan iringan hujan yang lumayan deras.


Tubuh Justin saat ini tertidur lelap begitu juga dengan Maya apalagi saat ini dirinya sendiri tidur bersama dengan kedua orangtuanya.


Maya langsung pergi ke rumah Justin untuk bekerja membereskan rumahnya sebelum justin mengetahui bahwa dirinya satu malam tidur bersama kedua orangtuanya di gudang.


"Kau darimana saja?" Justin mengejutkan Maya saat berada di dapur.


"Ak, aku," dalam hati Maya sangat takut berbohong kepada Justin jika dirinya menemui ayah dan ibunya tapi jika dia jujur sama saja bahwa dirinya sudah bosan dengan hidupnya.


"Hm, lupakan saja pertanyaan konyol itu. Cepat buatkan aku sop buah sekarang aku harus cepat -cepat pergi ke kantor." seketika Maya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Ak,aku minta maaf sebenarnya tadi malam aku pergi ke gudang." Ucap Maya dengan suara yang terbata -bata dan gugup.


Diluar dugaan Maya dengan santainya Justin hanya menatapnya saja tidak ada omelan-omelan dari mulutnya.


"Aku tau tetapi sekarang aku sangat lapar aku ingin kau membuatku sop buah." Maya tidak tahu harus mengatakan apa lagi kepada justin karena sebenarnya semua makanan sudah habis diberikannya kepada kedua orangtuanya.


"Sekali lagi aku minta maaf tolong maafkan aku karena sebenarnya semua makanan yang ada di kulkas sudah kuberikan kepada Ayah dan Ibu."


Mendengar kejujuran Maya sekali lagi sikap Justin hanya terdiam sambil menatap Maya dengan tatapan sendu.


"Sesayang itukah kau kepada kedua orangtuamu sampai kau rela menanggung semua penderitaan ini. Kau pasti sudah tahu jika melawan seorang Justin maka nyawa yang akan menjadi taruhannya."


"Semalam aku melepaskan ikatan mereka berdua dan aku dengan lancang mencuri selimut dari salah satu kamar rumahmu." Ucap Maya lagi tanpa rasa takut mengatakan semuanya kepada Justin.


"Aku sangat bahagia saat melihat mereka berdua tadi malam tersenyum meskipun aku sangat menyesal tidak bisa membayar kebaikan mereka berdua padaku."


"Kau sudah tahu apa yang kulakukan selama satu malam ini kan? jadi kau bebas untuk menghukumku yang penting kedua orang tuaku sudah bisa tersenyum."


"Aku hanya takut jika mereka pergi tidak bisa memberikanku sebuah senyuman yang akan kuingat." Seketika mendengar perkataan Maya hati Justin sangat terluka.


"Kau sudah selesai berbicara? menurutmu aku akan menghukummu?" tanya Justin dengan suara berat.


"Aku tau dan kau akan menghukumku karena perbuatanku yang sudah terlalu berlebihan." Ucap Maya dengan suara rendah.


Sontak jantung Maya berdetak lebih kencang dan tidak beraturan karena saat ini Justin sedang memeluk tubuh Maya.


"Aku minta maaf aku tidak tau ternyata aku sekejam dan sejahat ini padamu." Ucap Justin dalam hatinya dan semakin memperkuat pelukannya kepada Maya.


Air mata Maya kembali menetes karena Justin adalah alasan kehidupan Maya hancur.


"Aku akan pergi ke kantor sekarang dan kau masak masakan untukku nanti siang aku akan makan di rumah." Ucap Justin dan langsung meninggalkan Maya.


"Ada apa dengannya mengapa dia memelukku? Tetapi seumur-umur aku tidak pernah dipeluknya." Maya menyapu kedua air matanya yang kembali menetes.