
Di dalam rumah yang besar dan megah seorang lelaki mulai geram dan berusaha untuk menenangkan diri karena kekasihnya tidak ditemukan dimana keberadaannya.
Anju Pramuja putra pertama dari selingkuhan Papanya Justin merasa khawatir karena Sheyla tunangannya pergi meninggalkannya.
"Hahhhhhhhhh, gue memang nggak berguna jadi orang. Bisa-bisanya Sheyla pergi begitu saja dari gue." Anju selalu frustasi bagaimana jika satu minggu lagi dia tidak akan bertemu dengan Sheyla.
"Banyak hal yang tidak bisa gue jelaskan bagaimana ini?" Anju menelpon Sheyla tetapi tetap saja nomor teleponnya tidak diangkat.
Saat di dapur Anju sangat merindukan Sheyla semua pekerjaan yang dilakukannya tidak ada yang beres.
"Shel, gue kangen sama loh kenapa loh meninggalkan gue?" Air mata yang mengalir di wajahnya dengan cepat dia sapu menggunakan jarinya.
"Tuhan, gue kangen dengan Sheyla dia wanita yang gue sayang setelah Mama." Saat ini Anju sangat menyesal dan bertanya-tanya mengapa Sheyla meninggalkan dirinya.
🥀🥀🥀
Di rumah Justin yang besar dan megah Sheyla merasa ada sesuatu yang aneh setiap kali dirinya melakukan sebuah aktifitas ada saja sesuatu hal yang menurutnya sangat mengganjal tetapi dia tidak bisa menjelaskan apa yang sedang dia alami.
"Shel, gue sekarang pergi ke mall bentar buat belanja karena gue liat semua bahan sudah habis." Tanpa menjawab apapun dari Sheyla, Justin langsung pergi meninggalkan Sheyla.
Telepon Sheyla berbunyi pertanda seseorang sedang menelpon.
Tapi karena sibuk mengerjakan tugas kuliah yang dimana besok akan dikumpulkan, Sheyla mengurungkan niat untuk tidak mengaktifkan hp nya.
Saat malam hari suasana di Jepang dan di Jakarta berbeda jauh. Sheyla berdiri menatapi sekeliling pemandangan di Jepang karena sangat indah dipandang mata.
Telepon Sheyla kembali berbunyi dan dengan sigap dia membukanya dan melihat siapa yang menelpon ternyata dari Anju yang tak lain adalah tunangannya.
Saat menarik selimut angin yang kencang menambah suasana semakin dingin apalagi jendela dibiarkan terbuka.
Sheyla beranjak dari tempat tidurnya berniat untuk menutup jendela, tanpa sengaja Sheyla melihat ke bawah jika Justin berpelukan dengan seorang wanita yang seksi dan Sheyla belum mengenalinya sama sekali.
"Ap, apa? siapa lagi wanita itu? jangan-jangan gue dikhianati kembali, tapi nggak mungkin karena gue juga harus sadar diri kalau gue bukan siapa-siapanya dia." Sheyla berusaha menenangkan dirinya meskipun dalam hatinya ada perasaan api cemburu yang membara.
Saat Justin menaiki tangga satu-persatu menuju kamar Sheyla, dengan cepat Sheyla menutup matanya berpura-pura kalau dirinya seperti sudah tidur nyenyak.
"Huh, syukurlah ternyata dia sudah tidur juga." Ucap Justin sambil mematikan semua lampu kamar Sheyla dan kembali menarik pintu kamar.
"Gue sekarang nggak boleh lemah lagian gue juga yang mengambil jalan seperti ini, jadi gue juga harus terima konsekuensinya." Sheyla masih memikirkan sikap Justin yang sangat mudah dekat dengan para wanita.
Keesokan harinya...
Di dalam kampus yang besar, Shelya hanya diam saat berada di samping Tulus yang tak lain adalah teman barunya.
"Gue nggak tahu kalau loh sekarang sudah datang, meskipun sudah lumayan lama." Ucap Sheyla mencoba mengalihkan pembicaraan karena Sheyla.
Sikap Tulus kepada Sheyla membuat mereka berdua cepat beradaptasi dengan satu sama lain.
"Hm, gue mau nanya loh masih jomblo belum?" tanya Tulus tiba-tiba yang membuat Sheyla heran dan bingung dengan pertanyaan Tulus.
"Gue belum punya pacar tapi saat ini gue lagi dekat dengan seseorang." Jawab Sheyla lagi dengan ramah dan sopan.