Heaven Is Just An Illusion

Heaven Is Just An Illusion
Keluar Negeri



"Gue nggak bisa membohongi hati dan pikiran gue yang sebenarnya sangat hancur dan tidak tahu harus berbuat apa saat berada diantara dua pilihan yang sulit harus bersama dengan seseorang yang sama sekali tidak kucintai dan meninggalkan seorang wanita yang sungguh kucintai."


"Kau tahu banyak masalah yang harus kulewati sendirian dan juga berusaha untuk tetap semangat."


"Gue nggak terima jika seseorang yang sangat gue sayangi meninggalkan gue itu sebabnya gue terpaksa untuk menculik loh."


Ucapan yang dikatakan Justin membuat Sheyla terlena apalagi selama ini Sheyla berusaha melupakan Justin tetapi tidak bisa dibohongi jika dirinya masih sangat mencintai Justin.


"Gue juga minta maaf soalnya gue dilema dengan akting loh yang bagus sungguh sangat meyakinkan." Ledek Sheyla sambil menarik nafasnya.


"Hm, sorry gue lupa bersihin hati loh yang penuh dengan kaca dan lumuran darah, tapi sekarang izinkanlah diriku kembali menghiasinya." Ucap Justin mencoba melontarkan kata-kata manis kepada Sheyla.


"Maksud loh kita balikan lagi?" tanya Sheyla sambil mengangkat salah satu alisnya.


"Yahk, begitulah gue mau menebus semua kesalahan gue tapi gue ragu jika loh nggak mau menerima gue tapi gue mohon supaya gue bisa bersama loh lagi."


"Saat ini gue belum bisa menerima loh lagi dan saat ini loh sendiri juga tahu kalau gue dan Anju sebentar lagi akan menikah."


"Ahaik, waras loh mana mungkin di usia yang masih muda loh mau nikah sama tu bocah ingusan." Ledek Justin lagi meyakinkan keputusan Sheyla salah besar.


"Gue sekarang nggak masalah mau nikah sama bocah ingusan, anak gembel kek, bodo amat gue yang penting setia udah itu aja." Ucap Sheyla langsung dengan lantang.


"Terserah loh gue sekarang berusaha mengeluarkan loh dari jalan sesat ini karena gue sayang sama loh."


"Apaan sih loh, bukannya dulu loh sendiri yang ninggalin gue saat gue tahu kalau loh jadian sama Maya meskipun awalnya hanya pura-pura saja." Ucap Sheyla lagi menyadarkan Justin akan perlakuannya yang menyakiti Sheyla.


Jarak diantara mereka berdua sangat dekat membuat jantung Sheyla berdetak kencang dan tidak berani bergerak sedikit pun.


"Gue dan Maya adalah saudara meskipun tidak satu Ibu dan Anju calon suami loh itu adalah saudara gue juga." Justin menceritakan semuanya kepada Sheyla tanpa ada yang tertinggal sepatah katapun.


Dengan mata yang berkaca-kaca Sheyla hanya memandangi mata Justin yang damai.


"Gu, gue minta maaf karena gue sama sekali tidak mengerti jika ternyata loh dan mereka berdua adalah saudara." Sheyla merasa sangat kasihan dengan Justin yang selalu mendapatkan beban di hidupnya yang kejam.


"Gue nggak bisa mengerti semua alur hidup ini hanya satu yang gue pikirkan hari ini pasti akan berusaha dengan besok, dan akan kupastikan hari ini akan lebih indah dari hari kemarin." Ucap Justin dengan rasa yang sedikit tertusuk membuat air matanya mengalir dari kedua matanya.


Melihat hal tersebut Sheyla tidak tahu mengapa semua hal ini terjadi.


"Jadi saat ini tujuan loh buat menculik gue di hari pertunangan gue apa?" tanya Sheyla mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Gue akan balas dendam kepada Papa angkat gue dan gue juga akan membalaskan dendam kepada Anju dan juga mamanya." Justin mengepalkan tangannya mencoba menahan emosinya.


"Gue sekarang akan membawa loh ke tempat yang jauh karena di sekitar sini sangat banyak lalat kotor yang mendekati bunga yang belum mekar." Kau mengerti maksudku bukan? tanya Justin kepada Sheyla.


Belum sempat menjawab Sheyla langsung di tarik oleh Justin menuju mobilnya yang terparkir di depan rumah Justin.


"Gue akan membawa loh ke luar negeri dsn gue masih ingat jelas dulu waktu SMA kalau Maya adalah siswa pindahan dari negara Jepang. Jadi kita akan tinggal di sana untuk mengetahui siapa-siapa saja yang melakukan pembunuhan terhadap kedua orang tuaku dan orang tua Riki." Ucap Justin dengan tekad yang bulat.