Heaven Is Just An Illusion

Heaven Is Just An Illusion
Siapa Pelakunya?



"May, gue minta tolong ambilkan air hangat untuk Sheyla." Perintah Justin menguji Maya dengan menyuruhnya.


"Iya, gue akan ambilkan." Jawab Maya dengan sigap dan langsung berjalan menuju dapur.


"Tenang, tidak ada yang bisa merubah takdir seseorang jika yang diatas sudah berkehendak." Ucap Justin sambil mengusap pundak Sheyla.


Setelah Maya memberikan air hangat kepada Sheyla ada respon yang membuat Justin selalu curiga.


"Gue mau nanya saudara loh ada berapa?" tanya Justin tiba-tiba yang menyadarkan Maya dan dengan lantang menjawab, "gue anak tunggal."


"Apasih loh nanya hal yang nggak penting sudah jelas-jelas saat ini lagi berkabung." Ucap Riki dengan emosi.


"Its, ok gue minta maaf." Ucap Justin sambil memeluk Sheyla dengan erat.


Jam 4 sore kedua orang tua Sheyla dimakamkan dan saat ini Sheyla beserta keluarganya kembali ke rumah.


"Sayang, lihat mataku! tidak ada yang bisa menjatuhkan dirimu dan jiwamu seberapa banyak masalah yang datang akan terlewatkan dan ada masanya datang kebahagiaan." Justin berusaha memberi semangat dan menghibur Sheyla.


"Jadi gimana sekarang Justin, kita pulang ke rumah atau gimana?" tanya Riki sambil mengerucutkan dahinya.


"Sayang, gue sama Riki pulang dulu yah besok kita berdua datang ke sini lagi." Ucap Justin sambil mempererat pelukannya.


Tidak menjawab apapun Sheyla tetap terdiam merasa beban yang dialaminya sangat besar dan tidak mungkin bisa melewati masalah sebanyak ini.


Di tempat lain...


"Mam, Maya pulang." Ucap Maya sambil menapaki tangga satu-persatu.


"Iya mah, tapi Maya kasihan sama Sheyla sekarang dia sudah anak yatim-piatu dan tidak ada yang menemaninya melewati hari-hari." Ucap Maya lagi sambil meneteskan air mata.


"Sudah ganti bajumu dan istirahat di kamar besok sekolah supaya tidak terlalu lelah." Saran Mamanya Maya sambil memainkan ponselnya.


Selama di kamar Maya sangat bimbang langkah yang pertama sudah berhasil dia wujudkan meskipun bukan dia pelakunya.


"Rik, gue merasa ada yang aneh dengan sikap Maya nggak biasanya dia seperti itu." Ucap Justin merasa firasatnya benar.


"Madsud loh?" tanya Riki sama sekali tidak mengerti dengan perkataan Justin.


"Gue lihat Maya seperti menyembunyikan sesuatu dari kita dan selama gue dekat dengan Sheyla tatapannya sangat aneh." Perjelas Justin mencoba mengingat-ingat hal yang ganjal dengan kejadian yang dialaminya.


"Gue tahu Jus, mungkin Maya naksir sama loh dan bisa jadi dia nggak suka melihat kedekatan loh dengan Sheyla." Tutur Riki mencoba menebak pikiran Maya.


"Kita lupain aja tentang Maya, kembali ke pembahasan semula sebenarnya apa tujuan dari penjahat yang membunuh Papa dan Mama loh." Ucap Justin semakin tidak terima dengan kebebasan penjahat tersebut.


"Gue juga bingung dulu kedua orang tua loh sekarang Sheyla besoknya bisa jadi Papa dan Mama gue." Jawab Justin lagi dengan rasa penuh kekhawatiran.


"Sekarang gue mengerti sedikit menurut dugaan gue orang-orang yang dibunuh adalah yang mulai dekat dengan loh." Jawab Riki mulai kembali berpikir.


"Mungkin pembunuhnya adalah yang paling dekat dengan loh karena setelah gue teliti bisa jadi pelakunya adalah yang paling tau tentang kepribadian loh." Ucap Riki lagi dengan penuh keyakinan.


"Iya sih tapi siapa?" tanya Justin lagi mulai geram karena penjelasan Riki mulai logika dengan alur yang terjadi.


"Gue juga bingung tapi yang jelas dia akan selalu melanjutkan aksinya jika tujuannya belum tercapai." Ucap Riki lagi sambil menatap Justin.