Heaven Is Just An Illusion

Heaven Is Just An Illusion
Pernikahan



Justin menyuruh Maya untuk bersiap-siap karena memiliki niat mengajaknya ke suatu tempat.


"Kau sudah siap?" tanya Justin kepada Maya yang hanya bengang-bengong melihat perubahan sikap Justin.


"Kemana?" tanya Maya lagi.


Justin langsung menarik tangan Maya dan pergi menjauh dari rumahnya itu.


Sesampainya di sebuah taman yang mewah dan besar, Justin seketika mencium kening Maya.


"Aku mencintaimu Maya, maafkan aku selama ini tidak bisa menerima kehadiranmu." Ucap Justin kepada Maya.


"Aku akan membahagiakanmu semua masa lalu harus dilupakan, dan memang hanya untuk dijadikan sebagai pelajaran saja." Ucapan Justin membuat Maya menangis.


Disaat itu juga Justin mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah dari sakunya.


"Maya, menikahlah denganku. Aku sangat membutuhkanmu." Ucapan Justin membuat detak jantung Maya berdetak lebih kencang tidak beraturan.


Sebuah cincin dikeluarkannya dari dalam kotak tersebut dan berharap Maya menerimanya.


"Aku mau, tapi aku takut jika kau akan menyiksaku lagi, aku trauma Justin." Ucap Maya dengan suara serak.


"Aku berjanji demi "Tuhan" tidak akan kusia-siakan wanita sepertimu." Ucap Justin lagi dengan wajah penuh harap.


Lama Maya terdiam dan kembali menjawab pertanyaan Justin tadi.


"Ya, aku mau menikah denganmu." Mendengar jawaban bahagia itu Justin langsung memeluk Maya dengan erat.


"Tidak akan kusakiti lagi wanita sepertimu dan aku akan menebus semua kesalahanku." Ucap Justin dalam hatinya.


Hari ini adalah hari yang sangat bahagia bagi Maya karena impiannya bersama dengan Justin akan terwujud.


Sesampainya di rumah saat malam hari, Justin bersama dengan kedua orang tua Maya makan bersama.


"Jadi kapan acara pernikahannya?" tiba-tiba tanya orang tua Maya dengan suara lantang.


"Sekitar tiga hari lagi dan aku juga menunggu kedatangan Anju dari Jepang." Ucapan Justin membuat Maya semakin senang dan bahagia.


Maya membereskan semua piring di meja dan langsung mencucinya ke dapur.


Tiga hari kemudian...


Hari yang paling dinantikan oleh Maya adalah hari pernikahannya saat ini telah tiba.


"Aku sangat senang sekali bisa menikah denganmu." Ucap Maya dalam hati dan tidak tahu harus mengatakan apa lagi karena dirinya merasa semua itu seperti mimpi.


Resepsi pernikahan itu dihadiri banyak pengusaha terkenal dan juga Myshel beserta Riki.


Tidak terasa satu hari yang indah telah berlalu dan saat ini para tamu undangan sudah banyak yang berpulangan.


Justin tersenyum lebar melihat Maya sangat bahagia menikmati hari indah itu.


"Mengapa tidak dari dulu aku mengikuti kata hatiku bahwa Maya pantas menggantikan Sheyla." Ucap Justin dalam hati.


"Maafkan aku Sheyla, seharusnya kau yang menikah denganku bukan Maya tetapi takdir berkata lain kau sudah terlebih dulu pergi." Justin mengusap air matanya turun begitu saja.


Maya melihat Justin dari kejauhan dengan tatapan heran dan langsung menghampiri Justin.


"Ada apa? mengapa kau sedih?" tanya Maya sambil menatap Justin. Dalam hati Maya sangat ingin memeluk Justin tetapi dirinya takut jika Justin memarahinya karena terlalu lancang.


Dengan cepat Justin menjawab bahwa dirinya hanya kelelahan saja selama resepsi tadi jadi ingin istirahat.


Justin langsung melangkah pergi ke kamar dan diikuti oleh Maya yang ikut juga menghampiri Justin.


"Makasih banyak kau sudah mau menerimaku dan menikah denganku." Ucap Justin lagi sambil menghela nafas lega.