
Saat Justin hendak tertidur dirinya berjalan menuju dapur dan meminum segelas air hangat.
"Astaga gue lupa menutup pintu garasi," dengan cepat Justin berlari khawatir jiks terjadi hal yang tidak diinginkan.
Saat dirinya hendak meninggalkan garasi dan berjalan menuju kamarnya, suara handphone berbunyi.
Justin mencari-cari hp nya di kantong celananya tetapi tidak ada. Dirinya mengingat bahwa hp hya tertinggal di kamar.
Dengan penasaran dia mencari asal suara hp yang berbunyi tersebut.
Di sebuah taman bunga yang jaraknya tidak terlalu jauh dari garasi, Justin menatap Maya yang terbaring tanpa selimut sedikitpun.
Justin heran dengan sikap Maya yang selalu saja berusaha menjaga jarak dari Justin demi ketenangan Justin.
"Ngapain nih anak tidur di sini, rumah sebesar ini tapi dia malah tidur di belakang garasi."
"Akh, sudahlah bodo amat gue lagian apa urusannya sama gue nggak penting juga." Ucap Justin dan langsung pergi meninggalkan Maya yang tertidur pulas.
Saat berada di dalam kamar ada perasaan yang tidak enak di pikiran Justin.
"Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya, kasihan juga dia harus tertidur di sana. Lagian peduli amat gue sama dia kenapa nggak mati aja sekalian." Ucap Justin sambil menyalakan televisi.
Perasaannya tidak tenang selalu ada yang menghantui apalagi saat ini hujan deras sedang turun.
"Merepotkan banget jadi manusia beban amat tau nggak sih." Celoteh Justin dan langsung pergi berlari menuju taman bunga dan dengan sigap langsung mengangkat tubuh Maya.
Di dalam kamar Justin bersungut-sungut dengan sikap bodoh Maya yang nekat tidak jelas.
Justin langsung menyelimuti tubuh Maya dan mengolesi minyak di kaki Maya dan memasangkan kaos kaki pada Maya.
Tubuh Maya tiba-tiba dingin dan bibirnya pucat tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Dengan sigap Justin langsung berjalan menuju dapur dan memasak ramuan untuk Maya.
"Hei, bangun!" perintah Justin sambil menarik selimut Maya.
"Apa? gue kedinginan." Melihat tingkah Maya yang melawan membuat amarah Justin meninggi drastis.
"Gue bilang duduk dan jangan melawan." Perintah Justin langsung dituruti Maya tanpa melawan sedikit pun.
"Nih, minum!" Justin menawarkan ramuan obat tersebut kepada Maya.
"Iuhh, ramuan macam apa ini?" Maya mengomentari obat resep Justin.
Tatapan tajam Justin mampu membuat Maya merasa bahwa dirinya sudah dekat dengan Tuhan.
"Gue peringatkan sekali lagi ke loh jadi manusia itu nggak perlu belagu." Ucap Justin sambil mengganti siaran TV.
"Sejak kapan gue ada di sini?" tanya Maya sambil mengucek-ucek kedua matanya.
"Emangnya daritadi nggak sadar, pura-pura bego atau gimana sih?" tanya Justin heran dengan tingkah Maya.
"Malam ini kamu tidur di kasur biar gue
yang di sofa." Ucap Justin sambil memegang selimutnya.
"Nggak, biar gue aja yang tidur di sofa," ucap Maya takut terjadi sesuatu kepada Justin.
"Karena loh yang menyuruh gue untuk tidur di sini gue akan menuruti perkataan loh." Maya kembali menutup matanya meskipun di lubuk hatinya yang paling dalam dirinya sangat salah tingkah brutal.
Justin hanya terlihat dingin di awal jika sudah semakin dekat akan lebih bahagia.
"Gue mau tidur dulu ngantuk soalnya." Ucap Justin langsung tertidur di sofa tanpa perduli dengan tatapan Maya padanya.