Heaven Is Just An Illusion

Heaven Is Just An Illusion
Kembali Ke Jepang



Selesai proses pemakaman Sheyla tidak ada lagi yang membahas tentang Sheyla di rumah Anju.


"Mah, Pah, Justin besok akan kembali berangkat ke Jepang untuk melanjutkan pekerjaan yang ada di sana." Ucap Justin sambil pergi berjalan menuju kamar.


Saat malam hari tiba Justin merenungi hidupnya yang begitu pahit sangat sulit baginya untuk menerima semua kenyataan itu.


"Gu, gue nggak boleh kalah dengan semua yang telah terjadi." Ucap Justin menguatkan dirinya sendiri dan langsung menepis hal-hal yang membuatnya sedih.


Keesokan Paginya...


Sebelum Justin pergi ke Jepang terlebih dahulu dia pergi ke pemakaman Sheyla yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahnya.


Banyak kenangan yang harus dia lalui dan dengan rasa terpaksa dia harus mengubur itu semua dalam-dalam.


"Gue nggak bisa hidup tanpa loh Shel, tapi dengan sekuat mungkin akan gue paksakan."


Setelah mengucapkan kata perpisahan kepada Sheyla, dengan berat hati Justin pergi ke Jepang berharap semua masalah yang dihadapinya akan terlupakan dengan sendirinya.


Sesampainya di Jepang, di pandangnya kamar yang sempat di tempati oleh Sheyla. Air matanya kembali mengalir karena mengingat semua hal yang telah dilewatinya bersama Sheyla dulu.


"Gue harus kuat dan pasti kuat karena nggak mungkin gue kalah dengan masa lalu." Dengan susah payah Justin menyemangati dirinya sendiri.


Tanpa disadari Justin tertidur di kamar tersebut sambil memeluk sebuah boneka yang selalu di samping Sheyla saat tidur.


Keesokan harinya ...


Justin kembali melakukan pekerjaannya dan menepis semua kenangan yang dilewatinya dulu.


"Gue tahu ini sangat sulit bagi gue tapi dibalik itu semua pasti ada kebahagiaan yang menanti gue." Dengan motivasi yang diungkapkan Justin membuatnya sedikit kuat.


Selama di Jepang tidak ada kegiatan yang membuatnya bahagia dan justru membuatnya lebih mengingat semua kenangan bersama dengan Sheyla.


"Akh, gue nggak bisa lemah dan gue pasti bisa." Secangkir teh di sampingnya langsung di minum tanpa berpikir panjang.


"Pusing gue kenapa terlahir menjadi anak yang kurang beruntung dalam segala hal."


Justin kembali pergi ke ruang tamu dan melihat semua foto lama bersama Sheyla, dengan cepat dia langsung menyingkirkannya dan berniat untuk membakarnya.


"Mungkin jalan satu-satunya adalah menghapus semua kenangan saat bersama dengan dia. Gue akan menjauhkan semua tentang loh Shelya."


Satu-persatu barang berharga yang diberikannya kepada Sheyla langsung di campakkannya karena tidak sanggup jika selalu diselimuti rasa kehilangan.


"Gue tidak ingin jika semua kenangan bersama dengan Sheyla selalu melintas di pikiran gue." Tekad Justin sangat dalam untuk melupakan Sheyla dan berniat untuk melanjutkan hidup.


"Mulai saat ini gue akan berubah tidak boleh sedih dan juga cengeng masa di tinggal seorang wanita saja menangis." Dengan senyum terpaksa Justin memandangi dirinya di depan cermin.


"Hanya orang penakut yang takut jika dirinya tersiksa untuk hal yang bertujuan untuk memberikan kebahagiaan."


Meskipun air matanya terus mengalir dari kedua pipinya tidak bisa dipungkiri jika Sheyla sudah pergi meninggalkan Justin dan tidak akan kembali lagi ke pelukannya.


"Gue pulang ke Jepang karena mengingat ajakan dari loh. Tapi sekarang gue kembali ke Jepang karena untuk berusaha melupakan kenangan bersama loh Sheyla." Ucap Justin sambil merenungi nasibnya.