
Keesokan harinya...
Maya sudah bangun terlebih dahulu dan sudah memasak makanan untuk Justin.
Dengan cepat Justin melahapnya tanpa ada makanan yang sisa membuat Maya senang.
Tingkah Justin kepada Maya membuatnya semakin merasa sangat bahagia apalagi sekarang Justin memberikan satu kiss di wajah Maya.
"Jaga dirimu baik-baik aku tidak ingin kau terlalu lelah, sekarang istirahat lah dulu kau masih lelah." Ucapan Justin membuat Maya salah tingkah.
Justin langsung pergi dari hadapan Maya dan menjauh dari hadapannya secara perlahan.
"Aku sangat takut jika terjadi sesuatu padamu. Aku tidak mau kau terlalu lelah, nanti aku saja yang akan memasak saat pulang dari kantor." Pesan masuk dari Justin.
Maya tidak percaya dan tidak yakin bahwa dirinya akan bisa seperti ini diperdulikan, diperhatikan oleh lelaki yang dulunya sangat menyiksa batinnya.
"Aku nanti pulang cepat kamu jaga kesehatan yah, jangan sampai masuk angin." Ucap Justin lagi dengan mengirimkan pesan suara.
Lama saling membalas dan bertukar kabar menbuat keduanya seperti baru pertama pacaran.
Sebelum pulang ke rumah, Justin singgah terlebih dahulu di makam Sheyla dan meminta maaf karena telah menikah dengan wanita lain yang saat ini menjadi pendamping hidupnya.
"Aku tahu kau mungkin tidak akan memaafkan aku telah menikahi wanita lain, tetapi aku benar-benar minta maaf aku tidak bermaksud untuk menghianatimu." Justin langsung menyapu air matanya dengan cepat.
"Kau benar-benar orang yang aku cintai, tidak ada yang tahu kepada siapa kita berjodoh, hanya Tuhan saja yang mengetahuinya." Justin langsung mencium batu nisan Sheyla dan meletakkan bunga yang dibawanya sambil berbalik badan untuk pergi.
Sesampainya di rumah yang besar dan megah, Justin disambut hangat oleh Maya istrinya itu.
"Kau sudah makan?" tanya Justin dengan suara lembut dan rendah.
"Ehemm... tidak aku menunggumu." Jawab Maya lagi.
"Banyak makan, supaya tidak kurus lagi. Kau harus gemuk jangan seperti ranting." Ledek Justin lagi kepada Maya.
"Maafkan aku jika aku seperti ranting." Ucap Maya membuat Justin semakin geram dengan ucapan maaf dari Maya.
Setelah makan malam, Maya berjalan lebih dahulu ke kamar meninggalkan Justin yang masih berada di dapur.
Saat hendak ingin tidur, Maya melebarkan selimutnya dan segan kepada Justin.
Hingga dirinya membuat batas diantara mereka berdua. Maya berpura -pura langsung tidur karena saat ini Justin membuka pintu kamar.
Justin diam saat melihat Maya sudah tertidur pulas, meskipun itu hanya sandiwaranya.
Justin mematikan lampu kamar, dan tertidur di samping Justin dan tidak berani banyak bergerak.
Justin memeluk Maya dengan kuat dan erat.
"Kali ini aku tidak akan menyia -nyiakanmu lagi." Ucap Justin dalam hatinya.
Hubungan keluarga berjalan dengan baik, hingga saat ini ada rasa aneh yang dirasakan oleh Maya yang dulunya dia juga tidak merasa seperti itu.
3 bulan akhir -akhir ini tubuh Maya menurutnya tidak enak dan sangat sulit dijelaskan.
"Aku melakukan meeting hari ini bersama klien." Ucap Justin sambil menyusuni barang-barangnya kedalam tasnya.
Tidak lupa Justin pamit kepada Maya dan kapan dia akan pulang, sudah dikabarinya juga.
"Aku tidak mau jika kau dekat dengan lelaki lain saat kau keluar rumah. Awas saja sampai kedapatan." Ucap Justin dengan nada tinggi pertanda serius.