Heaven Is Just An Illusion

Heaven Is Just An Illusion
Liburan



"Ada apa denganmu mengapa menjadi sangat posesif seperti itu?" tanya Maya heran dan tidak ingin menjadi terlalu di kekang.


"Tidak, aku hanya ingin bersama dengan istriku yang manis ini memangnya kenapa? Siapa yang keberatan." Ucap Justin manja dihadapan Maya.


Setelah makan malam bersama dengan rasa yang sangat kantuk Maya berjalan terlebih dahulu masuk ke kamar.


"Apakah kau tidak memiliki niat sama sekali?" tanya Justin menggoda Maya dengan tatapan lembut.


Tubuh Maya bergetar saat mendengar ucapan suaminya itu.


Disatu sisi Maya menolak tetapi sudah tiga bulan menikah Justin belum menyentuh wanitanya itu.


Maya akhirnya menyerahkan kehormatannya kepada suaminya itu.


Keesokan harinya...


Sekujur tubuh Maya seperti habis digigiti oleh hewan buas tubuhnya memerah bekas Justin.


"Kau ini kenapa?" tanya Justin tiba-tiba memandangi Maya.


"Tidak, aku baik-baik saja." Ucap Maya cepat.


Maya berjalan ke kamar mandi sambil membawa selimut untuk menutupi tubuhnya.


Justin menatap Maya mulai dari atas sampai ke bawah.


"Apa dia kesakitan?" tanya Justin dalam hati dan langsung memalingkan wajahnya.


Sekitar 25 menit Maya selesai mandi dan berjalan ke arah Justin yang masih menatapnya.


"Ada apa?" tanya Maya sinis.


"Hm... Terimakasih." Jawab Justin lagi dan langsung memeluk Maya.


Justin dan Maya saat ini berlibur ke sebuah pantai.


"Apa kau senang dengan pemandangan ini sayang?" tanya Justin tiba-tiba sambil memeluk Maya.


"Iy, iya aku sangat menyukai pemandangan ini sayang."


Justin memesan satu kamar hotel untuk mereka berdua tempati.


Maya menghabiskan waktunya untuk mandi di sebuah kolam renang.


Maya keluar dari kolam itu dengan tubuh yang sudah menggigil.


"Ada apa kau memandangiku seperti itu?" tanya Maya dengan suara yang bergetar.


"Sudah berapa jam kau didalam kolam renang itu.?" tanya Justin dengan wajah yang penuh amarah.


"Baru satu jam." Ucap Maya dengan lantang.


"Cepat naik!!!" perintah Justin.


"Apa?" tanya Maya lagi memastikan pendengarannya tidak salah.


"Kau tidak dengar aku bilang naik." Ucap Justin lagi sambil meninggikan nada bicaranya.


Maya naik dan berdiri di hadapan Justin tetapi tidak berani menatapnya.


"Ayo cepat ganti bajumu." Ucap Justin lagi.


"Aku tidak kedinginan, aku akan menggantinya nanti." Jawab Maya lagi.


"Jika begitu jangan pakai bajumu buka saja." Ucap Justin dan langsung pergi meninggalkan Maya yang masih berdiri.


Maya berjalan ke kamar dan langsung mengganti pakaiannya yang basah.


"Aku minta maaf aku tidak mendengarkan perkataanmu." Ucap Maya menghampiri Justin.


"Terserah kamu saja, aku tidak akan mengaturmu." Ucap Justin dan hendak pergi meninggalkan Maya.


"Aku minta maaf, tolong maafkan aku." Maya memohon kepada Justin.


Saat makan malam, suasana hening tidak ada suara apapun kecuali suara sendok.


Justin langsung pergi berjalan menuju kamar dan tidak memperdulikan Maya yang masih makan.


Sudah tiga hari Justin tidak berbicara dengan Maya.


"Jika kau tidak memaafkan kesalahanku aku tau aku tidak bisa dimaafkan, maaf jika kehadiranku membuatmu tidak nyaman. Aku akan pulang ke rumah terlebih dahulu aku sudah bosan disini." Ucap Maya sambil menyusun barang -barangnya.


Justin hanya terdiam tidak mengatakan apapun kepada Maya dan memainkan hpnya.


"Aku pamit pergi, jaga dirimu baik-baik." Ucap Maya sambil mendorong kopernya menuju pintu untuk keluar.