Heaven Is Just An Illusion

Heaven Is Just An Illusion
Permintaan Maaf



Saat siang tiba, Maya sudah memasak seperti yang dikatakan oleh Justin bahwa dia akan makan siang di rumah.


"Kau sudah menyiapkan semuanya untukku?" tanya Justin dengan lembut.


"Iy, iya. Maaf kalau rasanya kurang enak." Ucap Maya sambil menunduk.


Justin tidak berbicara apapun dan langsung memakan semua masakan Maya.


"Aku ingin mandi dulu, kau bereskan ini semua nanti aku akan kesini lagi." Ucap Justin dan langsung pergi meninggalkan Maya.


"Apakah masakanku enak? Mengapa dia melahap semuanya." Ucap Maya saking penasaran langsung mencicipi makanan itu satu-persatu.


"Uek... Asin." Maya langsung meneguk segelas air putih dan bertanya-tanya mengapa Justin bisa menghabiskan makanan itu.


Tidak berselang lama, Justin kembali menemui Maya dan mengajaknya ke suatu tempat.


Saat di perjalanan Maya terdiam tidak berbicara apapun.


"Kau sudah mengerti sekarang, betapa sengsaranya hidupku dulu saat kedua orang tuamu membunuh orang tuaku, dan juga kekasihku Sheyla." Ucapan Justin mampu membuat Maya mematung.


"Aku tidak bisa berkata apapun karena aku juga tidak mengetahui bahwa kita juga akan dijodohkan." Ucap Maya lagi sambil menundukkan kepalanya.


"Jika aku menikahimu lagi, apakah kau akan memaafkan semua kesalahanku padamu?" tanya Justin tanpa menoleh ke arah Maya.


Maya hanya terdiam, disatu sisi dia sangat ingin sekali menjadi milikku Justin sepenuhnya, tetapi kedua orang tuanya belum tentu menginginkan Justin lagi.


"Upss, maafkan aku. Manusia sepertiku tidak pantas bersama dengan wanita baik sepertimu." Ucapan Justin kali ini berbeda dari yang biasanya.


Justin memakirkan mobilnya, dan menarik tangan Maya dengan lembut dari mobil.


Saat di sebuah mall yang sangat mewah, Justin membelikan Maya baju yang sangat banyak dan harganya yang relatif mahal.


Maya sempat menolaknya tetapi Justin mengancamnya untuk tidak menolak pemberian darinya.


"Ini semua sangat mahal, aku tidak perlu dibelikan baju yang semewah ini." Tukas Maya dengan wajah polosnya.


"Kau ini, sudah lelah bekerja di rumah jadi apa salahnya aku memberikanmu barang mewah." Ucap Justin lagi sambil menggandeng tangan Maya.


"Aku boleh bertanya?"


"Ya silahkan," Ucap Justin sambil menyetir mobil.


"Apakah kau akan membunuhku dan keluargaku setelah ini? Maksudku apakah ini hari kebahagiaan terakhirku menikmati dunia, sebelum kau membalaskan dendam pada keluargaku dan diriku." Tanya Maya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Apakah kau bahagia sekarang?" tanya Justin lagi.


"Ya tentu saja." Ucap Maya.


"Apakah kau akan sangat bahagia jika aku menikahimu? dan menjadikanmu Nyonya Justin Armadja?" ucapan Justin membuat hati Maya bimbang.


Selama ini mimpi Maya untuk bersama dengan Justin hanya ilusi dunia, apakah sudah saatnya Maya akan melupakan Justin atau memang Maya akan mengambilkan hati Justin.


"Aku tidak pernah bercanda dengan ucapanku, kau tahu itu bukan?" tanya Justin dan langsung mencium kening Maya sekilas.


"Apa- apa aku sedang bermimpi?" hanya itu pertanyaan yang muncul di benak Maya saat ini.


Sesampainya di rumah Justin yang mewah dan besar, dia menyuruh anggotanya untuk membebaskan kedua orang tua Maya.


Saat ingin memasuki rumah, Maya dipeluk Justin dan memegang tangan Maya dengan lembut.


Lama menunggu di dalam, Maya dan Justin berjalan. Maya menangis karena melihat kedua orang tuanya berdiri di hadapannya dengan penampilan seperti semula layaknya seorang miliarder.


"Papa, Mam," Maya berlari dan langsung memeluk kedua orang tuanya dengan suara tangis yang sulit dijelaskan.


"Aku minta maaf, aku tahu sifatku ini sungguh berlebihan." Ucap Justin lagi dan mendekat ke samping Maya.


"Maafkan kami juga karena sudah menghancurkan kebahagianmu dulu." Ucap Papanya Maya dan langsung memeluk Justin.


"Dulu kau sedendam ini kepada kami mengapa sekarang kau tiba -tiba memaafkan kami semua dan membebaskan kami." Ucap Mamanya Maya dengan heran.


"Akh tidak, aku tidak lagi mengingat masa lalu yang kelam itu." Ucapan Justin membuat mereka bertiga terharu.