Heaven Is Just An Illusion

Heaven Is Just An Illusion
Kejanggalan yang Aneh



"Gue pikir selama ini masalah hidup gue yang lebih besar dibandingkan loh." Ucap Justin sambil mengusap air matanya.


"Sudahlah tidak perlu dibahas lagi, mending sekarang kita masuk ke dalam lalu merapikan semuanya." Ajak Riki sambil mengeluarkan kunci rumah tersebut.


Satu jam berlalu, semua alat-alat sudah tertata rapi dan juga sudah bersih.


"Jadi kapan rencana loh mulai bekerja di bengkel ini?" tanya Riki.


"Menurut gue mulai besok aja soalnya gue udah ngak sabar lagi."


Keesokan harinya...


Di kelas seperti biasanya Riki dan Justin selalu bersikap julid kepada Maya.


Riki dan Justin sangat berbeda di sekolah dan juga di rumah sifat yang mereka tunjukkan seperti tidak mengalami masalah apapun.


"Maya, gue mau nanya bisakan datang ke acara ulang tahun gue yang beberapa hari lalu sudah gue undang?"


"Bisa sih tenang aja gue pasti datang." Jawab Maya.


"Rik, gue mau nanya yang loh undang hanya teman satu kelas kita aja?" tanya Justin berharap Riki mengundang Sheyla.


"Iya lah memangnya kenapa sih?" tumben nanya gitu. Ucap Riki merasa ada yang aneh dengan Justin.


"Ngak gue cuman mastiin aja."


Sepulang sekolah Justin sudah mengurungkan niatnya untuk pergi ke bengkel dan memulai pekerjaannya.


Sesampainya di bengkel Justin langsung memulai pekerjaannya dan memulainya dengan memperbaiki sebuah mobil yang baru diantar ke sana dengan kondisi mogok.


Dengan sigap Justin memperbaikinya tanpa terasa 20 menit kemudian mobil tersebut sudah kembali nyala dan sang pemilik mobil memberikan upah kepada Justin.


"Woi, Justin si paling ambis ternyata sudah bekerja dengan sangat lihai dan penuh perasaan." Ledek Riki.


"Diam loh! ngak perlu banyak bacot soalnya gue ngak fokus jadinya." Jawab Justin lagi.


"Btw gue pulang duluan yah soalnya gue mau main game." Ucap Riki sambil menjauh dari hadapan Justin.


"Bang bisa minta tolong bagusin mobil saya ngak tadi di perjalanan mati tiba-tiba tapi saya ngak ngerti kenapa bisa mati." Ucap pria itu dengan takut dan bingung.


Melihat ekspresi pria tersebut Justin langsung melengkapi peralatan bengkelnya dan mengikuti jalan si pria tersebut.


Sesampainya di sana Justin berhenti mematung melihat mobil yang rusak tersebut.


"Perasaan gue sudah pernah melihat mobil ini sebelumnya tapi dimana yah?"


Justin tersadar dari lamunannya yang berusaha mengingat dimana dia pernah melihat mobil tersebut.


"Bang, saya harap mobilnya bisa bagus lagi soalnya saya sangat buru-buru ada hal yang sangat penting untuk saya selesaikan." Ucap pria itu memohon kepada Justin.


Setelah menyala pria tersebut kembali memberi upah kepada Justin.


Dalam pikirannya ada hal yang mengganjal dan pria tadi sepertinya sudah pernah ia temui sebelumnya.


Tidak terasa hari sudah semakin sore saatnya Justin membereskan alat-alat bengkel dan menelpon Riki untuk menjemputnya.


"Rik, gue sudah nunggu loh di depan gerbang datang aja yah," ucap Justin.


"Oke, tunggu aja gue otw."


Riki datang menjemput Justin di perjalanan menuju ke sana ada sebuah mobil yang parkir tanpa ada pemiliknya dan paling anehnya mobil tersebut rusak parah.


"Justin, cepat naik"! ajak Riki dengan raut wajah terburu-buru.


"Tadi gue lihat di persimpangan jalan sebelum ke sini ada mobil yang rusak parah niat gue mau bantu tapi karena gue terburu-buru mau jemput loh gak jadi gue bantu." Ucap Riki sambil menyetir mobil.


"Dimana loh liat mobil yang rusak parah itu?"


tanya Justin lagi memastikan dugaannya tidak salah.


"Di persimpangan jalan lihat bentar lagi gue tunjukin lokasinya." Ucap Riki sambil mempercepat mengendarai mobilnya.