
"Aish, banyak bacot ni anak mau dikasih hadiah lebih parah lagi biar tahu rasa." Ucap Anju lagi sambil mengepalkan tangannya.
Dengan cepat Anju langsung mengambil jaketnya dan berlari menuju garasi lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju villa.
Di sana dia berjalan menuju sebuah kamar yang dimana kamar tersebut adalah kamar Maya dulu setiap kali mereka bermalam di sana.
Satu-persatu foto di sana dipandangi Anju dengan sangat lama sambil tersenyum karena kerinduannya terhadap sang adik terasa terobati meskipun hanya dari foto saja.
" Gue dulu nggak pernah bisa buat loh tertawa, gue gagal menjadi saudara yang baik bahkan gue gagal melindungi loh." Ucap Anju lagi sambil meneteskan air matanya.
Wajah mungil Maya masih teringat jelas dipikiran Anju.
Tetapi tiba-tiba wajahnya berubah menjadi sangat sangar dan kejam karena melihat foto Maya yang ketika depresi.
Saat ini kamu mungkin sudah tenang di sana tapi kamu tidak akan mengerti kalau musuh bebuyutan itu masih berkeliaran berarti hidup kita masih terganggu." Ucap Anju dengan ekspresi yang sulit ditebak.

Wajah Maya sambil memegangi buket bunga membuat Anju sangat emosi.
Di tempat lain...
"Gue harus kabur dan keluar dari ruangan ini kalau boleh dari rumah ini." Ucapnya lagi sambil melihat-lihat ke segala arah bagaimana caranya supaya dirinya tidak terjebak lagi.
Dengan cepat Sheyla melihat sebuah pentilasi yang kecil dengan usaha yang sangat besar berharap untuk bisa keluar dari sana secepatnya.
"Lebih baik gue menderita selama 1 malam daripada selamanya."
Berhasil keluar dari ruangan tersebut Sheyla langsung berlari keluar dengan melompat pagar.
Cahaya mobil yang mendekat adalah Anju yang berjalan dengan elegan keluar dari mobil menuju rumah.
Saat ini Anju berjalan memasuki kamarnya yang mewah dan besar tetapi merasa ada yang aneh.
Anju langsung berjalan memasuki ruangan yang di kurungnya Sheyla.
Ketika melihat bahwa Sheyla sudah tidak ada di ruangan membuat Anju semakin murka.
Di persimpangan jalan...
"Gue harus kemana nih, intinya nggak boleh ada yang tahu kalau gue kabur dari rumahnya si Anju." Ucap Sheyla mencoba berlari lagi.
"Gue keluar hanya sebentar tapi tu anak sudah berani peraturan."
"Gue nggak mau tahu sekarang juga kalian harus membawa tu cewek ke sini." Ucap Anju kepada Faisal.
Saat mencoba untuk membawa Sheyla ke rumah Sheyla terlebih dahulu Sheyla berlari menjauh.
"Gue nggak mau kalau misalkan gue harus hidup menderita untuk selamanya." Ucap Sheyla kembali berlari.
"Di tempat lain...
Anju juga ikut mencari Shelya yang berusaha melawan dirinya.
"Awas aja kalau sampai Faisal membawa loh ke sini." Ucap Anju sambil penuh amarah melihat niat Sheyla.
"Aw, ap apa? jalannya buntu nggak mungkin?"
Shelya terjebak di sebuah gang yang tidak ada jalan keluarnya.
Dengan sangat takut Shelya mencoba memasuki sebuah lorong yang sangat sempit.
Seluruh anggota Anju terdengar membicarakan Sheyla.
"Gue harus bisa selamat, nggak penting mau sakit karena tertahan di sini tapi gue pasti bisa selamat." Ucap Sheyla sambil menutup mulutnya supaya tidak bersuara.
Dengan air mata yang mengalir Sheyla tidak mengerti mengapa bisa menjadi seperti ini.
Luka mulai tergores di sekitar tangan dan kakinya akibat lorong tersebut.
Dengan menggigit jarinya supaya dia tidak bersuara adalah jalan satu-satunya untuk menyelamatkan dirinya.
"Shel, tetaplah bertahan sebentar lagi karena saat ini para bodyguard dan anggota Anju sedang mencari dirimu." Dalam hati Sheyla selalu berdoa supaya dirinya selamat dari Anju yang sangat kejam dan brutal.
15 menit kemudian salah seorang bodyguard memanggil nama Sheyla.
"Sheyla berlari karena seorang bodyguard melihat dirinya."
Jalan yang sempit dan buntu membuatnya terperangkap dan tidak bisa berbuat apalagi.
Saat Sheyla berlari mencoba menghindar nafasnya terasa sesak karena tepat di depannya Anju berdiri dengan salah satu tangannya memegang sebuah belati.
"Mencoba menjauh dan berani menghindar dariku sama saja menyuruhku untuk segera mengirimnya ke neraka." Tatapan Anju yang tajam membuat Sheyla sangat takut tidak berani bergerak sedikit pun.
Lirikan Anju membuat bodyguard langsung melakukan aksinya dengan menyeret Sheyla dan memasukkannya ke mobil.
Sesampainya di rumah Anju yang besar dan mewah bagaikan istana yang sulit dijelaskan betapa mahalnya bangunan tersebut.
"Gue akan membuat loh sengsara wanita sialan berani-beraninya loh kabur dari gue." Ucap Anju sambil memandangi mata Sheyla dengan penuh kebencian dan amarah yang membara.
Anju langsung mencampakkan Sheyla hingga tubuhnya terhempas dengan air mata yang mengalir Sheyla memegangi kakinya yang berdarah sambil menggigit bibirnya dia menahan perih.
"Owh, sakit? sakit banget? nggak lah tolol. Gue yang paling sakit, gue yang paling hancur luka seperti itu sudah menjadi goresan kecil bagi gue." Ucap Anju sambil melihat kaki Sheyla yang semakin mengeluarkan darah.
"Sebenarnya apa yang loh inginkan dari gue, kenapa loh menyiksa gue seperti ini jika ingin membalaskan dendam atas kematian adikmu dan loh menganggap itu semua karena perbuatan gue silahkan bunuh gue sekarang." Perintah Sheyla dengan pasrah mati di tangan Anju.
"Gue minta maaf tapi kadang gue juga menderita karena gue juga korban, tapi loh nggak tahu dengan sifat egois dan keras kepala yang loh miliki membutakan mata loh hingga tidak bisa membedakan mana yang salah dan yang benar."
"Gue nggak bisa jika loh selalu melakukan hal seperti ini ke gue karena gue juga manusia lagian yang paling gila adalah Maya hanya karena obsesinya kepada Justin hingga dia sampai depresi dan bunuh diri dan loh bilang karena gue?" Ucap Sheyla tidak terima jika Anju selalu berpikir yang salah hanyalah Sheyla.
"Loh mau balas dendam ke gue? baik gue akan bantu loh dan kali ini gue nggak akan menghindar dan lari dari loh." Ucap Sheyla dengan air mata yang selalu mengalir dari pipinya.
Dengan cepat Sheyla melangkahkan kakinya dan mengambil belati yang dipegang Anju saat menangkapnya di jalan buntu tadi.
"Gue pasrah jika loh mau membunuh gue silahkan jika itu yang membuat loh merasa puas." Ucap Sheyla dengan bibir yang berdarah karena digigit dengan kuat.
Tatapan Anju mengarah kepada sebuah belati yang ada di tangan Sheyla.
" Silahkan jika ingin membunuhku jangan membuatku menunggu karena saat ini kamu bebas nyawaku ada di tanganmu." Ucap Sheyla sambil menyodorkan pisau tersebut.
Tidak ada reaksi apapun yang diberikan Anju dan perlahan amarahnya reda.
Plakkkkk !!!
Suara pintu yang ditendang kuat membuat Sheyla termenung.
Di sebuah kamar mewah dilengkapi dengan fasilitas lengkap, Anju menyandarkan tubuhnya.
Anju membayangkan seluruh ungkapan Sheyla dan entah mengapa hal tersebut membuatnya sadar jika obsesi Maya lebih besar untuk selalu bersama dengan Justin.