Heaven Is Just An Illusion

Heaven Is Just An Illusion
Awal kehancuran sudah dimulai



4 Tahun kemudian...


Minggu berganti dengan bulan dan juga


berganti dengan tahun tetapi Sheyla merasa selalu tertekan hingga sampai saat ini.


Apalagi dimana sekarang dia harus mencoba melanjutkan hidupnya tanpa ada orang terdekat yang menyemangatinya.


"Sudahlah Shel, semangat kamu pasti bisa jangan membuat hidupmu merasa tidak berguna." Ucap Sheyla menasehati dirinya dan mensupport.


Di sebuah kantor yang mewah Sheyla mencoba melamar pekerjaan di sana.


Tetapi hasilnya tetap saja gagal. Dan membuatnya merasa anak yang tidak berbakti.


Sore ini Sheyla langsung berjalan menuju makam kedua orang tuanya yang sudah dipenuhi rerumputan.


Dengan penuh rasa kangen yang sulit dijelaskan Sheyla bercerita susah senang hidupnya selama 4 tahun ini.


"Jika kalian berdua masih ada mungkin saat ini masa depanku tidak akan sesuram ini." Ucap Sheyla sambil mencoba melupakan semua kenangan yang sudah mereka lewati.


"Sekarang Sheyla harus bekerja semakin giat lagi. Pah, Mah, doain Sheyla supaya bisa memenuhi kebutuhan hidup Sheyla demi sesuap nasi." Ucap Sheyla lagi memeluk kayu yang bertuliskan nama dari orang tuanya.


Setelah melewati tempat makam tersebut tepat di hadapan Sheyla 3 mobil yang mewah berhenti.


Satu-persatu para Pria turun berdatangan berjalan mendekat kepada Sheyla.


"Apa sih? jangan macam-macam gue akan laporin kalian ke polisi." Ucap Sheyla sambil merontah.


"Maaf nyonya saat ini kami tidak boleh melepaskan nyonya karena ini adalah perintah tuan muda." Ucap salah seorang Pria yang bertubuh kekar.


Seseorang memasukkan obat bius ke sebuah lap tangan dan sesegera mungkin langsung memasukkannya ke mulut Sheyla.


Akibat dari obat penenang tersebut, Sheyla pingsan dengan cepat para anak muda tersebut membawanya pulang.


Saat turun dari mobil tersebut tubuh Sheyla di di topang seorang bodyguard yang tinggi dan berkarisma.


Melihat Sheyla yang tertidur akibat obat bius yang masih bereaksi membuat Pria tersebut marah dan geram lalu menyiramkan air ke wajah Sheyla.


"Awwww..." ucap Sheyla sambil menyapu air yang membasahi wajahnya.


"Ternyata sudah sadar juga loh, masih ingat dengan gue kan?" tanya Pia tersebut lagi.


Sheyla hanya melotot melihat Pria tersebut tidak terasa mereka akan bertemu di waktu yang berbeda.


"Gue kenal siapa loh dan apa urusan gue dengan loh?" tanya Sheyla melawan perkataan lelaki tersebut.


Tidak mengubris perkataan Sheyla, Pria tersebut melemparkan sebuah pakaian kepada Sheyla dan menyuruhnya untuk menggantinya.


Awalnya Sheyla menolak tetapi karena sikap kasar dari Pria tersebut membuatnya semakin takut.


"Cepat ganti pakaian loh dan Faisal bawa dia ke bawah nanti." Ucap Pria tersebut menyuruh salah satu asistennya.


Pria tersebut sudah berjalan menjauh dari hadapan Sheyla dengan rasa penasaran dirinya sangat bingung mengapa dia diperlakukan seperti itu.


Beberapa menit setelah mengganti pakaian, seperti yang diucapkan atasannya tadi untuk membawa Sheyla ke bawah.


Saat berdiri Sheyla menundukkan kepalanya dan beberapa menit kemudian seorang Pria mengangkat wajahnya membuat Sheyla dan Pria tersebut saling bertatapan.


Air mata Sheyla mengalir dengan sangat kencang dan tidak sanggup berbicara apapun.


"Hm, apa kabar?" tanya Pria tersebut dengan tatapan kosong.


"Gue, baik" jawab Sheyla lagi.


"Papa mau bicara sama kamu saham yang dulu Papa rencanakan akan menjualnya sekarang sudah Papa oper ke kamu." Ucap Papanya Anju sambil memeluknya.


"Terima kasih Pah" ucap Anju lagi sambil memeluk Papanya dengan erat.


Anju langsung menarik tangan Sheyla dan membawanya ke sebuah ruangan yang redup.


Brakkkk...


Tubuh Shelya terhempas ke lantai yang menyebabkan kakinya berdarah.


"Gue mau bilang sama loh kalau gue benci lihat muka loh, karena apa? Maya adik gue satu-satunya sangat menderita akibat mantan kekasih loh yaitu Justin." Ucap Anju yang membuat Sheyla semakin bingung.


"Apa maksudmu?" tanya Sheyla lagi sambil memegangi kakinya yang masih keluar darah.


"Maya adik gue diputusin Justin sehingga membuatnya depresi dan mengakhiri hidupnya. Dan itu semua karena loh, kalau bukan karena ide goblok yang loh setujui untuk membuat Maya dan Justin untuk jadian hanya untuk mencari tahu siapa yang telah membunuh kedua orang tua loh dan juga orang tua Riki nggak bakalan Maya dan Justin jadian. Ucap Anju lagi dengan amarah yang sangat jelas di wajahnya.


"Dan sekarang loh yang harus membalasnya gue nggak terima kalau loh hidup bebas berkeliaran tanpa beban apapun itu tidak mungkin bagiku." Ucap Anju lagi dengan ekspresi yang menakutkan.


Air mata Sheyla mengalir dari kedua pipinya tapi tidak mengerti mengapa bisa terjadi seperti itu.


Plakkkkk.....plakkk....plak.....


Anju memukul sebuah meja rias yang dipenuhi makeup dan melemparkan vas bunga ke cermin lalu mengambil pecahan cermin tersebut.


"Kalau dicoba di wajahmu bagaimana rasanya apakah enak? ouhk, mungkin lebih indah kalau diukir di lenganmu saja? bagaimana menurutmu?" tanya Anju sambil menggeser lembut pecahan cermin tersebut ke bagian lengan Sheyla.


Dengan jantung yang berdetak tak karuan membuat Sheyla sangat takut dan selalu menangis tidak tahu harus berbuat apa.


"Gue adalah Anju Alex Pramuja tidak ada yang dapat menghalangi tujuan ataupun mengganggu tekadku." Ucapnya lagi sambil memandangi mata Sheyla.



"Dasar wanita sialan, pembawa masalah gue dulu pernah punya niat buat bantu loh melewati masa sulit loh tapi ternyata balasan loh seperti ini ke gue." Ucap Anju sambil membelai rambut Sheyla yang terurai panjang.


"Aish, gue mau bunuh loh dan langsung mengirim loh kepada malaikat maut." Ucap Anju dan menghempaskan tubuh Sheyla yang sejak tadi duduk di hadapannya.


"Sebelum gue membunuh loh nggak punya niat buat ucapin sepatah kata?" tanya Anju sambil menggigit pecahan cermin tersebut.


"Awwhhhh, awww, sakit tolong lepasin gue please! ucap Sheyla sambil menangis karena ulah Anju yang menggoreskan satu irisan luka di lengan Sheyla.


Melihat lengan Sheyla yang mengeluarkan darah segar tidak mempengaruhi Anju sedikitpun justru semakin ingin melanjutkannya lagi.


"Shelya, lihat lenganmu sudah terluka perlu gue goreskan lagi?" tanya Anju lagi berniat untuk melanjutkan aksinya.


Tangisan Shelya membuat Anju sangat pusing dengan amarah dan emosi yang tidak stabil membuatnya langsung meninggalkan ruangan tersebut.


"Pah, Mah, Shelya salah apa kenapa selalu melewati hidup yang sangat menyedihkan."


"Aww, sakit Tuhan, tolong bantu dan kuatkan hatiku dalam melewati segala cobaan ini.



Di ruangan lain Anju sedang menonton cctv melihat kondisi Sheyla seperti apa di ruangan


tersebut.


Air mata yang tidak ada habisnya membuat Sheyla sangat tertekan.


"Gue nggak minta hidup memiliki harta yang melimpah dan keluarga yang kaya raya. Gue hanya minta keserderhanaan tetapi sepertinya dunia malah lebih mengutamakan yang dakjal.