Heaven Is Just An Illusion

Heaven Is Just An Illusion
Pertemuan Pertama



Hari ulang tahun Riki akan dimulai karena sekarang sudah hari spesial Riki.


"May, gue mau nanya loh ikut nggak sekarang Riki ulang tahun." Dengan tatapan sinis Maya langsung bergegas menuju kamarnya.


Setelah 10 menit setelah selesai berdandan Maya menuruni tangga dan mengikuti langkah kaki Justin yang terlebih dahulu keluar.


"Gue mau nanya lagi hadiah loh sudah ada kan?" Maya mengangguk pelan menandakan iya.


"Nanti kalau kita sudah sampai nggak usah terlalu dekat sama gue dan kalau boleh nanti pulang kamu telpon Anju saja." Mendengar perkataan Justin yang sama sekali tidak peduli dengan Maya membuatnya termenung.


"Iya, gue ngerti." Jawab Maya singkat dan langsung memalingkan wajahnya.


Berselang 20 menit kemudian...


Di rumah Riki yang besar dan megah bak istana membuat Maya tersenyum lebar karena Riki langsung menyambut kedatangan mereka berdua.


"Hai, bro. Dulu saat gue ulang tahun yang datang hanya loh dan sekarang yang datang sudah bersama dengan seseorang belahan jiwa loh." Sontak perkataan Riki membuat Maya dan Justin bertatapan.


"Btw, langsung aja yuk masuk! ajak Riki sambil memeluk Justin.


"Ekh, Hey. Myshel gue punya sahabat lama yang kalau saat susah datangnya ke gue dan senang langsung lupa." Riki memperkenalkan seorang wanita kepada Justin dan juga Maya.


"Hay, nama gue Myshel. Panggil aja Shel terserah nggak keberatan kok gue." Setelah perkenalan acara selanjutnya adalah berdansa dengan menggunakan topeng tapi sebelum itu dipilih pasangannya untuk berdansa.


Tanpa disadari Justin berpasangan dengan Myshel, sementara Riki berpasangan dengan Maya.


"Hm, gue nggak tahu kalau itu loh dan refleks juga sih kok bisa yah." Ucap Myshel sambil tersenyum.


Di sisi lain kedekatan Justin dan Myshel semakin tidak terkendali bahkan mereka selalu berbincang-bincang hal sepele.


Maya yang menyaksikan obrolan mereka berdua merasa cemburu tapi dia harus menahannya.


Riki yang masih menyimpan rasa terhadap Maya tidak bisa berbohong dengan hatinya.


"Ehem, ehem gue heran daritadi megang sirupnya tapi kok belum diminum?" Riki berusaha menghangatkan suasana.


"Okh, gue belum haus dan apa tumben datang ke sini?" Maya menahan air matanya yang hampir turun karena tidak sengaja melihat Justin dan Myshel bertukar handphone.


"Nggak, tadi gue heran aja tahan amat mematung seperti itu, aneh banget sih?" Lirikan Riki mengikuti tatapan Maya yang masih menuju Justin dan Myshel.


Dalam hati Riki sedih dengan yang dialami Maya karena Justin sama sekali tidak pernah mencintai Maya dan selamanya tidak akan pernah.


"Gue penasaran hadiah dari loh apaan sih?" Riki kembali mencari ide untuk menghindari tatapan Maya dari Justin.


"Buka aja sendiri dan sekali lagi gue ngucapin selamat ulang tahun." Setelah Maya mengucapkannya kepada Riki dengan cepat dirinya keluar dari rumah tersebut sambil menahan air mata.


Perlahan dirinya berjalan menjauh dari rumah tersebut dan di pinggir jalan Maya meluapkan semua rasa kecemburuannya di sana.


"Gue salah apa sampai sekarang Justin masih saja bersikap dingin ke gue, tapi wanita tadi berhasil membuatnya tersenyum bahkan ini pertama kalinya gue melihat tertawa seperti itu setelah kepergian Sheyla."


Maya terus meremehkan dirinya yang tidak bisa mengontrol semua yang telah dia lihat.