
Keesokan harinya Justin bangun dari tempat tidurnya dan langsung beranjak keluar menuju dapur.
Semua orang yang tinggal di rumah besar Papanya Justin duduk di ruang tamu dengan tatapan mata yang selalu menatapi Justin.
"Apa tatapannya sinis kekgitu ada yang salah?" Justin langsung duduk di samping Mamanya sambil menguap sesekali.
"Gue tahu daritadi tatapan gue aneh ke loh tapi ini penting karena sekarang loh harus menentukan pilihan yang seharusnya." Tanpa mengubris perkataan Anju dengan sesekali mengambil tissu untuk melap wajahnya karena sehabis mencuci wajahnya.
"Papa mau bilang jika waktu pertunangan kalian tinggal 3 hari lagi, karena menurut Papa lebih cepat lebih baik."
Justin hanya terdiam tidak berbicara sedikitpun karena dipikirannya sudah dipenuhi dengan pikiran yang sulit dijelaskan.
"Gue juga bingung kenapa dipikiran gue selalu ada hal yang membuat gue bingung dengan hidup gue sendiri."
"Saat ini gue sudah mengambil sebuah keputusan dan langsung saja to the point gue akan bertunangan dengan Maya." Mendengar ucapan Justin dengan perasaan tidak percaya Maya sangat bahagia.
"Papa sudah menduga bahwa kau akan menikahi Maya karena memang kalian sangat cocok dan Papa harap setelah pertunangan kalian akan membawa kebahagiaan di keluarga ini." Justin berusaha melapangkan dada mendengar ucapan Papanya.
"Gue nggak nyangka loh akan bertunangan dengan Maya, selamat yah." Anju langsung refleks memeluk Justin membuatnya heran dan sedikit kaku.
Setelah mendengar keputusan dari Justin semua yang duduk di ruang tamu pergi satu-persatu dan mengambil aktivitas masing-masing.
"Gue bukannya bermaksud menghancurkan masa depan loh atau gimana tapi gue mau nanya loh serius?" pertanyaan yang dilontarkan Maya membuat tatapan Justin berubah menjadi tajam dan tidak menjawab apapun.
Mobil yang diparkirnya langsung dinyalakan dan dengan sekejap menjauh dari rumah Papanya Justin yang besar dan mewah.
Saat tiba di sebuah villa yang dimana dulu tempat Justin bermain bersama dengan kedua orang tuanya sebelum Mamanya Anju hadir di tengah-tengah keluarga Justin.
Saat memasuki villa tersebut Justin melirik semua dinding yang dimana sangat banyak foto yang tertata rapi salah satunya foto Justin dan kedua orang tuanya saat berada di sebuah hotel di Jepang.
Saat terakhir kalinya Justin datang ke villa tersebut ketika Mamanya menyuruhnya untuk datang ke villa tersebut tetapi malah menemui Papanya yang selingkuh dengan wanita lain yaitu Mamanya Anju.
"Gue kangen masa lalu saat bersama kalian berdua yang dulu sangat akur dan romantis tapi sekarang semuanya sudah sirna dan mungkin tidak akan pernah terjadi lagi."
Satu-persatu benda yang ada di villa tersebut memberikan kesan kepada Justin dan mengingat semua yang berkaitan dengan benda yang ada di villa tersebut.
Dengan perasaan yang sedih bercampur kecewa Justin mencoba menenangkan dirinya.
"Gue pasti bisa dan mampu masa hanya masalah seperti ini gue nggak mampu." Justin menyemangati dirinya lagi dan berpikir lebih optimis kepada tujuannya.
"Ahk, sulit bagiku jika harus menggunakan topeng seperti ini yang selalu dipaksa untuk menenangkan perasaan orang lain sementara tidak ada yang tahu dengan perasaan yang gue alami saat ini."
Justin hanya bisa meratapi nasibnya yang selalu diselimuti masalah yang tidak ada habisnya.