Heaven Is Just An Illusion

Heaven Is Just An Illusion
Manusia Setan



Suasana di gudang semakin sunyi karena Maya tidak tau apa yang harus dia lakukan untuk memperbaiki keadaan keluarganya yang hancur.


"Maya, pergilah sekarang supaya manusia setan itu tidak memarahimu, jika kau masih disini maka akan lebih parah." Ucap ayahnya Maya yang menghawatirkan nasib Maya.


"Nasib Maya tidak penting aku hanya ingin bersama dengan kedua orang tuaku." Ucap Maya sambil memeluk kedua orang tuanya itu secara bergantian.


Tatapan ibu Maya tiba -tiba berubah dan dengan rasa yang gemetar dan ketakutan melihat sesuatu.


"May, Maya lihat di belakangmu sayang." Perintah ibu Maya dengan rasa takut dan khawatir.


"Berani -beraninya kau melakukan sesuatu yang melebihi kemampuanmu dan kau melakukan itu tanpa seizinku. Ayo ikut aku sekarang juga." Bentak Justin menyeret tangan Maya dari kedua orang tuanya.


Plakkkkk...


Tubuh Maya terpental ke sebuah dinding dengan sekuat tenaga Maya menahan sakit karena kakinya terluka karena tergores sebuah paku.


"Kau berani melawanku dan sok pahlawan dengan memberikan mereka makanan tanpa sepengetahuanku. Apa kau sudah gila?"


"Hey nona, sadarlah! mereka itu tidak berguna jadi buat apa kau mengasihani manusia seperti mereka." Ucap Justin sambil tersenyum memandangi Maya.


Tanpa aba-aba sebuah tamparan melayang di wajah Justin, tangisan Maya semakin kencang di ruangan tersebut.


"Kauuu, sudah lancang menamparku dan apakah aku akan diam saja?." Tatapan Justin semakin tajam dan menarik tubuh Maya mendorongnya ke sebuah kaca hingga melukai tangan Maya.


"Kau yang membangkitkan amarahku dan sekarang aku tidak akan mengampunimu." Ucap Justin lagi menarik tangan Maya menuju kamar mandi seketika tubuh Maya basah karena guyuran air shower yang dinyalakan Justin.


Meskipun sangat pedih karena terkena siraman air tapi Maya tidak bersuara dan hanya menggigit bibirnya karena perih.


Air yang dinyalakan Justin masih membasahi tubuhnya, tidak ada langkah kaki Maya yang berpindah.


Justin hanya berdiri dan menatap Maya mulai dari ujung kepala sampai ke ujung kaki.


Justin melihat bibir Maya sudah pucat dan tangannya sudah menggigil, tetapi ditahannya sekuat mungkin.


Bagaimana bisa dia tahan seperti itu di bawah guyuran air dengan waktu selama ini. Tanya Justin dalam hati dengan penuh penasaran.


"Kau setan berkedok manusia tidak akan bisa hidup bahagia aku membencimu, aku menyesal karena mengenalimu, dan entah mengapa Tuhan masih mengizinkanmu hidup didunia ini." Ucap Maya dengan bibir yang menggigil.


Tatapan sinis Justin berubah menjadi senyuman manis, setelah mendengar perkataan Maya yang menurutnya sangat lucu.


"Aku lebih menyesal jika tidak bisa memperlakukanmu melebihi budak." Ucap Justin lagi sambil menarik tangan Maya keluar dari shower.


"Kau yang membuat aku marah itu sebabnya aku marah, jika kau tidak membuatku marah maka aku tidak akan marah." Ucap Justin lagi dan langsung meninggalkan ruangan tersebut.


"Kau sudah gila, dan mengapa aku harus memiliki takdir yang begitu sadis seperti ini." Maya berkata-kata seperti orang yang sudah kehilangan akal sehat.


Setelah selesai menggantikan pakaiannya Maya langsung berjalan menuju gudang dan kembali tersenyum berusaha menutupi kesedihannya di hadapan kedua orang tuanya.


"Aku tadi sedikit lama datang karena baru selesai mandi" ucap Maya sambil memberikan selimut dan juga bantal kepada kedua orang tuanya itu.


"Maya percuma kau mengambil selimut dan bantal kami tidak bisa menggunakannya." Ucap ayahnya Maya dengan wajah lemas.


"Tangan kami diikat pakai rantai bagaimana mungkin kami bisa tertidur sayang." Ucap mamanya Maya lagi.


Maya tidak menyerah untuk berusaha membuat kedua orang tuanya bahagia, dengan mencari dan menciptakan banyak akal, Maya berhasil menghancurkan rantai tersebut menggunakan martil yang lumayan besar.


"Maya, sebelum melakukannya kau harus berpikir berkali-kali, kami tau kau yang terluka akibat membahagiakan kami, sekarang pikirkanlah kebahagiaanmu sayang." Ucap ibunya Maya.


"Aku sudah memikirkan hal itu dan tidak perlu khawatir aku akan baik-baik saja. Sudah saat ini aku sangat rindu pelukan kalian berdua mari kita tidur." Ucap Maya dengan suara yang serak karena kedinginan.


Maya dan kedua orang tuanya tertidur lelap dengan pelukan hangat dari kedua orang tuanya.


Di tempat lain, di sebuah cafe yang terbilang mewah Justin menikmati secangkir kopi yang dihidangkan, tetapi pikirannya mengingat perkataan Maya yang di ruangan tadi sewaktu di rumahnya.


Seorang wanita menghampiri Justin sambil menawarkan segelas minuman yang mengandung alkohol.


"Hay, Justin apa kabar? btw kau tau aku sangat merindukanmu setiap hari aku menanyakanmu kepada sahabatmu Riki." Ucap Myshel teman dekat Riki yang mengenali Justin.


"Aku di sekitar bumi hanya kau saja yang terkadang hilang dari peredaran." Ucap Justin sambil meneguk segelas minuman tersebut tanpa berpikir panjang.


Lama berada di cafe tersebut Justin hanya memikirkan seseorang yang tak lain adalah Maya.


Pikirannya yang mulai pusing tidak karuan dan memutuskan untuk segera pulang.


Beberapa lama diperjalanan akhirnya sampai juga di rumah yang besar dan megah.


Justin sangat pusing dan tidak tau harus melakukan apapun.


Tatapannya sudah buyar tidak jelas berpikir dan tidak tau mengapa hal itu bisa terjadi.


Saat ingin keluar dari mobil Justin terjatuh dan bersuara sekeras mungkin. Apalagi saat ini hujan turun sangat deras.


Berkali-kali bersuara kencang dan keras, hingga membuat tidur nyenyak Maya terganggu.


Maya berjalan keluar dan mendekati asal suara yang ribut itu.


"Kau, bagaimana bisa kau terjatuh ke paret seperti itu?" tanya Maya menyenter Justin yang meminta tolong di bawah.


" Sepertinya keberuntungan saat ini berpihak kepadaku dan aku sangat bahagia melihatmu seperti ini." Ucap Maya dalam hati dan hanya memandangi Justin yang meminta tolong dari bawah.