
Di rumah Justin dan Riki kembali membaringkan tubuhnya sambil menghela nafas panjang akhirnya Justin bisa balikan lagi dengan Sheyla.
"Rik, gue nggak nyangka gue masih bisa balikan dengan Sheyla meskipun hubungan kita toxic." Ucap Justin dengan wajah yang berseri.
"Gue juga senang loh bisa balikan lagi sama Sheyla." Ucap Riki dengan ketus.
"Gue kerja ke bengkel dulu yah soalnya gue harus lebih semangat lagi harus beda dong yang sudah balikan dengan patah hati." Ucap Justin yang membuat Riki tertawa mendengarkan perkataan sahabatnya itu.
Sesampainya di bengkel...
Justin memperbaiki mobil yang sudah banyak parkir di sana seperti loket terminal.
"Wah, Sheyla memang membawa keberuntungan di hidup gue buktinya setelah gue balikan sama dia rezeki gue langsung meningkat drastis." Ucap Justin dengan kegirangan.
Ting...ting...ting...
Suara telpon Justin berbunyi dengan cepat Justin langsung melihat siapa yang menelpon dan seketika raut wajahnya kembali berseri dan hatinya berbunga-bunga.
"Halo, apa sayang?" tanya Justin dengan senyum yang selalu hadir di pipinya.
"Jus, Justin tolongin gue," cepat datang ke rumah gue.
Hati yang runyam bercampur aduk jantung Justin langsung berdetak sangat kencang tidak beraturan dan langsung menyalakan mobilnya kembali pulang ke rumah Riki.
Sesampainya di rumah Riki...
"Rik, sekarang juga kita harus ke rumah Sheyla ada sesuatu yang sedang terjadi di rumah Sheyla sekarang." Ucap Justin dengan takut.
"Gue juga di telpon Sheyla barusan cepat sekarang kita ke sana."
Riki dan Justin melajukan mobil dengan kecepatan tinggi dan di depan rumah Sheyla terdapat garis polisi.
Dengan cepat Riki dan Justin berlari kencang memasuki rumah Sheyla dengan kondisi tidak berdaya Sheyla berdiri terdiam dengan tangan yang penuh lumuran darah segar.
Riki menanyakan apa yang sedang terjadi di rumah Sheyla mengapa banyak darah yang bercucuran di lantai.
Menurut keterangan dari polisi telah terjadi kasus pembunuhan yang di sengaja dan sudah di rencanakan tanpa sepengetahuan korban.
Dengan tatapan aneh Riki mendekati sebuah lemari kaca yang bolong dan diikuti polisi dari belakang.
Polisi langsung mengambil tumpukan kaca dengan sangat hati-hati yang dijadikan sebagai bukti.
Riki kembali berjalan ke ruang tamu dan melihat sebuah vas bunga yang pecah dan menindih tubuh seorang wanita yang dimana wanita tersebut adalah Mama dari Sheyla.
Tiba-tiba Riki mengingat kejadian pembunuhan beberapa tahun lalu yang terjadi kepada keluarganya.
"Jus, gue mau bicara sesuatu sama loh penting." Ucapnya dan memberikan isyarat supaya mengikuti langkahnya menjauhi Sheyla.
"Gue merasa ada yang aneh karena kasus pembunuhan ini sama persis dengan kejadian kepada Papa dan Mama gue dulu."
"Pembunuh tersebut akan terus mengawasi orang-orang yang ingin bertindak lebih jauh dan jika ada yang berusaha melaporkannya maka dia juga akan terbunuh." Perjelas Riki lagi.
Justin hanya diam tidak berbicara sepatah katapun tetapi ada hal yang sedang di pikirkan.
Justin mengingat sesuatu berencana ingin mengatakannya kepada Riki tetapi langsung dihentikannya karena mengingat ucapan Riki jika ada yang berusaha bertindak sesuatu maka dia juga akan terbunuh.
"Gue ke rumah duluan yah kasian Sheyla." Ucap Justin berusaha mengalihkan pembicaraan.
Dengan kondisi sangat lemah dan sesekali pingsan Sheyla menangis di pelukan Justin.
Keesokan harinya penguburan akan dilangsungkan.
Seluruh kelas Xl jurusan IPA dan IPS datang ke rumah Sheyla dengan tujuan berkabung dan mengucapkan turut berdukacita kepada Sheyla.
Ekspresi Maya sangat berbeda ada hal yang mengganjal tetapi hanya Justin yang mengetahuinya.