Heaven Is Just An Illusion

Heaven Is Just An Illusion
Perasaan Anju



Setelah mendengar penjelasan Maya dan Riki penuh rasa bersalah Anju pergi keluar dan langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


Anju melihat kondisi Sheyla yang terbaring lemas belum sadarkan diri.


"Shel, gue minta maaf nggak seharusnya gue sejahat ini sama loh dan gue juga sadar banyak hal yang belum gue ketahui tapi dengan gegabah gue langsung bertindak." Dengan rasa bersalah Anju mencium tangan Sheyla.


"Shel, gue mohon sadar gue minta maaf atas kesalahan gue sama loh."


Anju menatap wajah Sheyla yang tertidur dengan wajah pucat.


Dokter yang menangani Sheyla datang untuk mengganti infus dengan sigap Anju membantu dokter mengangkat tubuh Sheyla.


"Akkkkk, awuhk." Tatapan Anju dan Sheyla hanya berjarak sangat dekat sampai mereka berdua dapat merasakan aroma nafas masing-masing.


"Shel, loh udah sadar juga gimana keadaannya udah membaik?" sikap Anju yang tiba-tiba berubah membuat Sheyla heran.


"Gu, gue udah baikan kok, btw tumben loh nggak kejam seperti hari-hari kemarin ada apaan sih?" Pertanyaan Sheyla membuat Anju merasa sangat bersalah dan bingung harus mengatakan apa kepada Sheyla.


"Sejak kemarin gue pikir-pikir sikap gue ke loh sudah sangat diluar batas dan gue juga sangat bersalah besar." Anju memegangi jari Sheyla dan sesekali menciumnya.


Hal ini membuat Sheyla merasa salting sambil was-was dengan perubahan sikap Anju yang berubah drastis kepada dirinya.


"Cari solusi bagaimana caranya bisa bunuh gue secara perlahan tanpa rasa bersalah sedikitpun itu sebabnya sekarang sok baik ke gue?" Ucapan Sheyla membuat Anju sadar dan mengerti maksudnya.


"Nggak, setelah loh sembuh gue mau loh jadian sama gue dan jadi istri gue." Kedua mata Sheyla melotot hampir ingin keluar tidak percaya dengan perkataan Anju yang baru saja dia dengar.


"Gu, gue nggak bisa." Dengan cepat Sheyla menjawab sebelum neraka sesungguhnya dekat padanya.


"Gue bakal nungguin loh sampai loh sehat dan mau menerima gue." Setelah mengucapkan perkataan tersebut Anju langsung keluar dari ruangan tersebut.


"Ya Tuhan, masalah apa lagi ini bukannya penderitaan yang kualami selama ini sudah sangat banyak kenapa harus ditambah lagi?"


Beberapa hari kemudian...


Sikap dingin dan kejam Anju berubah menjadi hangat dan sangat peduli dengan Sheyla.


Hari ini kebetulan adalah hari terakhir Sheyla di rumah sakit dan dengan perasaan yang sangat senang dirinya beranjak dari kasur dan langsung merapikannya.


"Sabar lah gue juga tahu loh udah sehat tapi nggak perlu harus seperti itu. Bisa senang tapi nggak usah berlebihan."


Dengan perasaan grogi Sheyla kaku dan gugup dengan tatapan Anju yang selalu memandanginya.


"Gue sekarang nggak bisa bohong lagi sebenarnya dari awal ketemu gue udah naksir sama loh tapi karena kematian Maya adik gue jadi gue berusaha menyingkirkan perasaan gue dan berniat untuk balas dendam sama loh tapi ternyata gue baru tahu kalau Maya hanya berpura-pura meninggal dan menyusun rencana buat mencari tahu siapa sebenarnya pembunuh yang berusaha menyakiti orang-orang di sekitar kita."


"Tapi setelah gue tahu semua itu ada rasa bersalah yang besar di hati gue yang nggak bisa gue ungkapkan dan sekarang untuk membalas rasa bersalah gue sama loh, izinkan calon belahan jiwamu ini untuk membahagiakanmu." Ucapan Anju yang sangat detail membuat Sheyla terdiam.


"Saat gue sadar nggak ada wanita yang bisa terdiam dan pasrah jika disakitin berkali-kali tanpa menyimpan dendam seperti diriku ini."


" Banyak masalah yang sulit untuk dihadapi tapi gue nggak bisa sesabar dirimu, izinkan diriku untuk menemani dan melindungimu."


"Kumohon temanilah aku jangan pernah pergi, kumohon temanilah aku jangan biarkan diriku terlena dengan rasa yang hampa, genggam tanganku dan kumohon jangan lepaskan karena saat diriku tidak sanggup hidup tanpamu."


"Dasar buaya gombal aja bisa buktinya nanti kejam dan sifat frustasi tiba-tiba datang dan mengaung-ngaung." Sambil tertawa Sheyla melihat wajah Anju yang sangat mulus.


"Gue bisa bicara banyak dan omongan gue juga bisa gue buktiin." Ucapan Anju membuat Sheyla semakin berhati-hati.


Saat di rumah Anju, keluarga menyambutnya dengan senang apalagi tanpa sepengetahuan Sheyla keluarga Anju sudah tahu bahwa Sheyla akan menikah dengan Anju.


"Shel, gue minta maaf gara- gara gue loh jadi menderita dengan sikap saudara gue yang julid ini." Ucap Maya sambil memeluk Sheyla dengan erat.


"Gue nggak tahu kalau selama ini loh merencanakan hal yang sangat ekstrim seperti ini sampai-sampai gue yang jadi korban." Ucapan Sheyla membuat Anju melihat dirinya dan mengerti maksud dari perkataan Sheyla.


Selama beberapa menit berbincang-bincang dengan senyuman yang terpancar di wajah mereka masing-masing.


"Jadi kapan kira-kira acara pertunangan kita langsungkan?" pertanyaan mamanya Anju membuat Sheyla melongo dan tertunduk.


"Rencana sih tanggal 19 ini aja mah, dan gue juga udah bicara dengan tata busana dan tukang dekorasi semuanya sudah beres." Jawab Anju dengan senang dan bahagia.


"Shel, gue senang banget akhirnya loh bisa tunangan dengan saudara gue, selamat yah." Ucap Maya sambil memeluk Sheyla dengan erat.


"Hm, gue ke toilet bentar yah," ucap Sheyla dengan wajah yang ingin menangis.


"Gue nggak bisa seperti ini terus dan gue belum siap untuk menikah gue belum bisa."


"Hiks...hiks...hikss..."


"Gue nggak bisa belum ada yang jelas mengenai jalan hidup gue maupun masa depan gue dan mengapa harus seperti ini?"


Sheyla menyapu air matanya dan langsung pergi ke kamar.


"Banyak hal yang harus gue jalanin di hidup gue kenapa gue harus menderita seperti ini."


Selama di kamar Sheyla meluapkan amarahnya dengan jantung yang berdetak kencang bingung harus berbuat apa.


Dengan cepat dia langsung beranjak menuju sebuah meja dan melihat kalender sambil melihat tanggal 19 ternyata sekitar satu minggu lagi.


"Kenapa harus gue yang menderita dan merasakan luka yang sakit seperti ini?"


Tok...tok...tok...


"Boleh masuk?"


Suara yang berbicara dari luar tersebut sudah sangat jelas dikenali oleh Sheyla.


"Yah, silahkan," Dengan cepat Sheyla langsung menyapu air mata.


Anju langsung duduk di samping Sheyla sambil melihat wajahnya yang baru selesai menangis.


"Gue minta maaf karena terburu-buru tapi dari awal loh juga sudah tahu kalau gue nggak pernah bermain-main dengan apa yang gue ucapkan."


Sheyla hanya bisa pasrah jika dirinya harus menerima kenyataan pahit ini di dalam hidupnya.


"Gue tahu hal ini mungkin berat bagi loh tapi gue janji buat berusaha bahagian loh dan nggak akan mengulang kesalahan gue untuk yang kedua kalinya." Ucapan Anju membuat Sheyla mengingat perkataan Justin yang dulu mengatakan akan selalu bersama dan tidak akan pernah meninggalkan tetapi Justin sendirilah yang terlebih dahulu menghianati ketulusan Sheyla.


"Gue nggak akan membuat loh merasa tersakiti dan gue janji nggak akan melarang loh untuk melakukan apapun yang loh ingin lakukan."


"Gue sayang sama loh sejak gue membenci loh ada rasa terluka di hati gue tapi gue terpaksa untuk menyembunyikannya."


"Tapi sekarang gue sadar gue nggak bisa bohongin hati gue." Ucap Anju sambil memeluk Sheyla dengan penuh perhatian.