Heaven Is Just An Illusion

Heaven Is Just An Illusion
Acara Pertunangan



Di sebuah kamar yang sepi hanya tertutup tirai gorden Sheyla menangis bingung harus berbuat apa.


"Gue akan bangkit dan berusaha tegar dengan semua masalah ini."


"Shel, bisa gue masuk sekarang ada hal penting yang perlu gue bicarakan." Ucap Anju dari luar menunggu jawaban Sheyla.


Saat di ruangan yang besar dan megah, Anju terdiam melihat Sheyla yang tidak menjawab pertanyaan Anju sedikit pun.


"Gue mau nanya gimana sekarang kalau kita jalan-jalan keluar dulu." Anju berusaha mencari topik supaya Sheyla tidak selalu silent treatment terhadapnya.


"Gue ngantuk mau istirahat jangan ganggu gue bisa kan?"


"Sekarang gue mau tidur tolong keluar sekarang." Sheyla bersikap tegas kepada Anju karena takut jika semakin lama mereka berdua akan semakin dekat.


Secara perlahan Anju menjauhi Sheyla yang terbaring dengan alasan untuk istirahat.


"Gue tahu kalau loh itu dekat sama gue tanpa perasaan sedikitpun." Anju merenung dan berpikir bagaimana caranya untuk membahagiakan Sheyla.


Dua minggu kemudian...


Hari yang ditunggu-tunggu tiba tinggal satu hari lagi dimana pertunangan Sheyla dan Anju akan dilangsungkan.


Dengan wajah penuh bahagia Anju memesan semua yang bersangkutan dengan keperluan yang dibutuhkan.


"Gue nggak siap jika harus seperti ini gue takut jika masa depan gue hancur dengan orang yang salah." Dengan perasaan gelisah Sheyla berjalan mondar nggak tahu apa yang harus diperbuat.


"Gue ragu jika suatu hari nanti dia bukanlah yang terbaik buat hidup gue." Sheyla terlelap dengan wajah yang damai.


Keesokan harinya...


Tok...tok ...tok...


"Yah, silahkan masuk!" Sheyla duduk di tepi kasurnya sambil mengusap-usap matanya.


"Saya kesini disuruh tuan muda untuk merias wajah nyonya dan memakaikan gaun kepada nyonya." Sheyla tersadar jika hari ini adalah waktu dimana dirinya akan bertunangan dengan seseorang yang sama sekali tidak dicintainya.


Lama terdiam Sheyla akhirnya pasrah dengan masalah yang akan dihadapinya.


Setelah beberapa menit dirias dengan wajah yang cantik mempesona Sheyla menatap wajahnya di depan cermin.


"Gue ternyata cantik juga kalau dilihat-lihat tapi kenapa hidup gue serumit ini." Senyum bahagia terpancar di wajah Sheyla yang membuat orang yang melihatnya akan kagum dan terpesona.


"Maaf Nyonya pekerjaan saya sudah selesai saya sekarang izin pamit." Ucap sang perias dan meninggalkan Sheyla di kamarnya.


Dengan perlahan Sheyla berjalan keluar menuruni tangga satu-persatu, semua mata melihat kearahnya tanpa ada yang berpaling ke arah lain.


Saat ini Sheyla berada tepat di hadapan Anju dan keluarganya termasuk Justin mantan kekasihnya yang dulu pernah mengkhianatinya.


Tatapan Justin tidak beralih sedikit pun dari Sheyla dan selalu menatapnya mulai dari cara berjalannya dan juga tata cara berbicaranya.


"Selamat Anju, meskipun kau bukan saudara kandung gue tetap aja gue harus mengucapkan sepatah kata buat loh." Justin memeluk Anju meskipun menyimpan luka yang sangat dalam di hatinya.


"Tumben, gue biasanya dimarahi mulu ada apa gerangan? tanya Anju dengan rasa penuh curiga.


"Gue niat baik salah, niat jahat juga salah serba salah bingung gue. " Justin berbicara berpura-pura bersikap bodoh.


"Gue cuman heran aja mengapa bisa begitu nggak biasanya jadi gue refleks nanya gitu, sorry jika tersinggung tapi kalaupun iya gue nggak bisa bilang apapun lagi." Anju selalu bersalah paham dengan Justin hanya karena masalah kecil.