Heaven Is Just An Illusion

Heaven Is Just An Illusion
Keputusan



"Maksud Papa dengan menjodohkan Maya padaku, lalu setelah itu semua trauma yang kualami akan berakhir?" Justin pergi meninggalkan mereka semua dengan perasaan yang gusar.


Maya yang melihat Justin hanya bisa terdiam dan tidak mampu untuk berkata apapun.


Dengan langkah kaki yang tertahan membuat Maya bingung dan berusaha untuk menenangkan Justin.


"Gue bukannya bermaksud untuk menyakiti perasaan loh tapi gue juga sadar kalau loh masih sayang sama Sheyla, tapi loh juga harus tahu kalau Sheyla sudah pergi." Ucapan Maya membuat emosi Justin sulit untuk dikendalikan dan setiap orang lain menyebut nama Sheyla perasaan Justin menjadi terluka.


"Gue nggak mau mendengarkan semua perkataan loh, jadi berhenti untuk berbicara dengan gue." Justin langsung beranjak dari tempatnya dan pergi ke kamarnya.


"Justin, Papa mau bicara sebentar sama kamu." Tatapan Papanya Justin sangat tajam kepada Justin.


"Gue nggak punya waktu malas gue berdebat dan kalau ada yang mau dibicarakan besok pagi saja." Justin langsung pergi dan tidak menoleh ke belakang sedikitpun.


Saat di dalam kamar yang sunyi tidak ada cahaya karena Justin sangat mencintai kegelapan dan sudah biasa dengan dirinya yang hidupnya dipenuhi kegelapan.


"Gue nggak bisa seperti ini terus selalu tersiksa dan tidak tahu tujuan hidup gue." Justin memandangi foto Sheyla yang dipajangnya di sudut dinding kamar.


Tok...tok... tok...


Suara pintu kamar Justin berbunyi dan seseorang dari luar menarik untuk membuka dan langsung menerobos masuk tanpa seizin Justin.


"Gue minta maaf, tapi sekarang loh harus menentukan tujuan hidup loh. Gue tahu semua perbuatan gue sudah sangat berlebihan dan gue tidak pantas sama sekali menjadi saudara loh." Ucapan Anju membuat Justin sangat murka karena permintaan maaf Anju sama sekali tidak bisa merubah nasib Justin yang menderita.


"Gue tahu ini semua sangat sulit bagi loh karena kehilangan Sheyla seseorang yang loh cintai." Justin memalingkan wajahnya karena sangat muak dengan wajah Anju.


"Seharusnya loh dipenjara sekarang bukannya seperti ini." Justin berusaha menahan amarahnya karena takut akan melukai Anju.


"Gue sadar tapi saat ini tidak ada pilihan lain selain loh Bertunangan dengan Maya. Ucapan Anju membuat Justin menarik nafas.


"Masih sehat atau sudah ada saraf otaknya yang lari? Maya itu saudara loh dan kita juga saudara meskipun nggak satu Ibu." Justin heran dengan pikiran mereka yang konyol dan tidak logika sama sekali.


"Gue tahu tapi loh juga harus sadar kalau Maya itu sudah pernah jadian sama loh." Ucapan Anju tidak bisa dicerna Justin karena sangat menyebalkan baginya.


Beberapa menit kemudian Anju pergi meninggalkan Justin yang diam mematung sambil mengotak-atik pikirannya tentang masalah yang dihadapinya saat ini.


"Bagaimana mungkin gue jadian sama Maya bahkan bertunangan gila banget gue."


Pikiran Justin dipenuhi dengan masalah yang sama sekali tidak bisa dimengerti karena tidak tahu bagaimana jalan keluarnya.


Saat ini Justin harus memilih salah satu keputusan yang dimana kedua pilihan tersebut memiliki resiko yang besar. Dimana jika dia memilih untuk tidak menikahi Maya maka semua aset perusahaan yang dulu dijalankan Justin di Jepang bahkan semua warisan tidak akan pernah bisa dimiliki oleh Justin sedikitpun.


Sementara pilihan yang kedua jika Justin menikahi Maya itu artinya Justin akan mendatangkan masalah yang lebih besar karena Justin tidak pernah mencintai Maya sampai kapanpun karena Maya tidak akan pernah bisa menggantikan Sheyla di hati Justin.